HIV Intai Ibu Rumah Tangga di Sukoharjo
Ilustrasi HIV/AIDS (JIBI/Reuters/Dok.)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Akhir-akhir ini penyebaran virus HIV-AIDS di Kabupaten Sukoharjo tak hanya menimpa pada orang yang berisiko tinggi, namun sudah merembet ke kalangan ibu rumah tangga. Hal tersebut terungkap setelah Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo mendata penderita.

“Dari jumlah penderita mayoritas didominasi wirausahawan, ibu rumah tangga dan pekerja seks komersil (PSK),” ungkap Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo, Bejo Raharjo ketika ditemui wartawan di ruang kerjanya, Rabu (30/4).

Menurut dia berdasar data akumulatif tahun 2004-2014 sebanyak 144 orang warga Sukoharjo terjangkit HIV-AIDS. Dari jumlah itu 80 di antaraya sudah menjalani perawatan voluntary counceling test (VCT) ke rumah sakit yang ditunjuk.

Bejo mengatakan berdasar catatannya rata-rata per bulan terdapat dua orang penderita HIV baru. Sedangkan pada 2014 di Sukoharjo terdapat tujuh orang positif terjangkit HIV.

Sedangkan secara akumulatif sejak 2004 sampai 2014 terdapat 36 orang penderita HIV-AIDS di Sukoharjo meninggal dunia. Bejo menjelaskan dilihat dari status penderita, telah terjadi penyebaran dan merembet pada golongan dengan risiko rendah. Sebab ibu rumah tangga yang semula dianggap sangat jauh dari risiko menderita HIV AIDS, saat ini juga dinilai mulai terjangkit dengan jumlah cukup tinggi.

Diduga para ibu rumah tangga ini terjagkit HIV-AIDS karena tertular pasangan atau suaminya. Kemungkinan besar, karena pengaruh pasangan yang suka berganti pasangan hingga menyebabkan virus itu menular. “Para pria atau suami dari pasangan ibu rumah tangga menjadi penyebab penularan virus,” ungkap dia.

Dia mengatakan, profesi PSK adalah orang dengan risiko tinggi terserang HIV-AIDS. Namun dilihat dari jumlah justru masih kalah dengan ibu rumah tangga yang semula tingkat risiko tertularnya dinilai rendah.

Ibu rumah tangga yang terjangkitnya virus HIV-AIDS dinilai berpotensi menularkan pada janin yang dikandungnya saat hamil. Karena itu setelah melahirkan, anak yang lahir dari ibu hamil penderita HIV-AIDS butuh penanganan khusus.

Dari data akumulatif yang dimiliki DKK Sukoharjo sampai sekarang terdapat enam orang anak yang tertular dari ibunya. Karena itu nereka mendapat penanganan dari petugas medis. Guna penanganan tersebut, ujar dia, DKK menunjuk dua rumah sakit yakni Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sukoharjo dan rumah sakit Yarsis Pabelan, Kartasura.

“Khusus untuk rumah sakit Yarsis sengaja dipilih karena untuk mengcover penderita yang mayoritas berada di wilayah Kecamatan Kartasura,” ujar dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom