Hindari Macet, Pelajar Nekat Nyebrang Rel Ganda Jl. Transito Solo ke Sekolah
Siswa didampingi orang tuanya menyeberangi rel KA di Jl Transito, Laweyan, Solo, saat berangkat menuju sekolah, Kamis (13/2/2020). (Solopos/M. Ferri Setiawan).

Solopos.com, SOLO – Pembangunan Flyover Puwosari Solo menimbulkan berbagai masalah, salah satunya kemacetan lalu lintas. Guna menghindari macet, sejumlah orang menjadikan rel ganda di Jl. Transito sebagai jalur alternatif.

Kini, jumlah pejalan kaki yang melalui jalur tersebut meningkat seiring pembangunan Flyover Purwosari Solo. Mereka yang melintas mayoritas pelajar sekolah di sekitar Purwosari. Meski khawatir dengan keselamatan, mereka tetap memilih melintasi jalur tersebut dengan alasan efisiensi waktu.

Begini kisah para orang tua yang melepaskan anak mereka dengan cemas melintasi rel ganda Jl. Transito demi cepat sampai ke sekolah.

Indosat PHK 677 Karyawan, Ini Alasannya!

Kelik Gunawan, 31, menekan handle rem agak dalam untuk menghentikan laju sepeda motor yang dikendarai bersama putrinya di Jl. Transito, tepatnya selatan Stikes Aisyiyah Solo, Kamis (13/2/2020) pukul 06.42 WIB. Dia melihat langkah anaknya bersama belasan siswa lain bersiap menyeberang perlintasan kereta api (KA).

Puong,” terdengar suara klakson dari lokomotif Prambanan Express Solo-Jogja dan lokomotif Semen Purwosari-Jogja berpapasan pada jalur ganda yang sontak membuat kaget. Warga Kecamatan Baki, Sukoharjo, itu bergegas meninggalkan sepeda motor dan menggandeng sang putri menyeberangi jalur ganda setelah dua KA berpapasan di hadapan mukanya.

“Untuk pastikan anak nyebrang dengan aman,” kata dia ketika disapa Solopos.com.

Sepi Plus Kumuh, 50 Persen Kios dan Los Pasar Cuplik Sukoharjo Mangkrak

Mengantar sang putri ke sekolak menjadi rutinitas Kelik Gunawan setiap pagi. Sejak perlintasan KA Purwosari, Rabu (5/2/2020), ia memilih mengantarkan anaknya melalui jalur belakang sekolah meski dengan perasaan waswas.

“Sudah coba sekali lewat underpass. Lewat sana pasti macet dan butuh waktu 20 menit tambahan. Saya juga harus sampai SMPN 10 Solo pukul 07.00 WIB,” katanya.

Kelik Gunawan merupakan satu dari puluhan orang tua yang memilih mengantar anaknya ke sekolah melalui Jl. Transito. Berdasarkan pantauan Solopos.com sejak pukul 06.14 WIB, puluhan orang tua menurunkan dan melihat anak mereka melintasi rel KA sebelum melaju kencang menuju ke kantor. Tidak sedikit yang menggandeng sang buah hati melintasi jalur ganda tersebut.

Warga Kelurahan Gentan, Kecamatan Baki, Sukoharjo, Septian, menggandeng anaknya menyeberang perlintasan KA. Dia tak sampai hati melepas sang anak menyeberangi rel sendirian.

Tak Perlu Obat, 9 Makanan Ini Diyakini Bisa Usir Depresi

Ngeterne tok gak tegel [mengantar saja enggak tega]. Kudu digandeng [harus digandeng]. Kalau anak-anak yang biasa tinggal dekat rel pasti sudah peka. Responnya bagus,” terang Septian.

Sementara itu, warga Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Agus, 41, mengantarkan anaknya sampai Jl. Transito. Ia masih mencari jalur alternatif yang lebih aman dan dekat daripada melalui underpass.

“Sebenarnya ada rasa takut lihat anak lewat sini. Kalau berjalan sendiri kadang kurang fokus. Saya berharap ada akses jalan yang aman bagi para pelajar,” katanya.

Perasaaan waswas yang dirasakan para orang tua justru tidak dirasakan anak-anak. Salah satu siswa Kelas IX SMP Muhammadiyah 5 Solo, Ivan, justru mengaku terbiasa melintasi rel sejak penutupan perlintasan KA Purwosari.

“Perasaanya biasa tapi harus tengok kanan, tengok kiri,” kata Ivan.

Hujan Deras Berjam-Jam, Ratusan Rumah di Madiun Kebanjiran

Siswa lainnya, Nadiva, mengaku terganggu dengan proyek Flyover Purwosari. Pasalnya, dia terpaksa harus melintasi underpass yang menambah durasi perjalanan. “Orang tua deg-degan saat nungguin nyeberang. Biasa, setelah nganter langsung menuju kantor,” ujarnya.

Pedagang mi ayam di sekitar Jl. Transito Solo, Han, 54, menjelaskan, jalur rel ganda tersebut biasa dilalui sejumlah siswa yang mengendarai sepeda. Tetapi, kini jalur tersebut kerap dilalui pejalan kaki sejak proyek pembangunan Flyover Purwosari dimulai.

“Kalau jam pulang sekolah lebih banyak lagi karena jam pulang kan barengan. Orang tua berderet di pinggir jalan dan ada juga nunggu di warung sekadar beli es,” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho