Hindari Gesekan, Tokoh PSHT Solo Minta Anggota Tak Tonjolkan Atribut di Tempat Umum
Sugeng Riyanto. (Istimewa)

Solopos.com, SOLO -- Anggota Dewan Pertimbangan DPC PSHT Parluh 16 Solo, Sugeng Riyanto, meminta anggota perguruan silat tersebut untuk tidak menonjolkan atribut saat berada di tempat umum.

Hal itu untuk mencegah terjadinya insiden yang tak diinginkan seperti penyerangan pada Selasa (15/9/2020) lalu. Sugeng juga meminta warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) tetap tenang kendati insiden penyerangan dua pekan lalu itu belum terungkap.

Insiden penyerangan warga PSHT Parluh 16 Sragen pada Senin (28/9/2020) juga jangan sampai mengganggu ketenangan warga PSHT Solo.

Ratusan Sex Toys Dan Barang Sitaan Lainnya Dimusnahkan Di Kantor Bea Cukai Solo

Pernyataan itu disampaikan Anggota Dewan Pertimbangan DPC PSHT Parluh 16 Solo itu kepada Solopos.com, Kamis (1/10/2020) siang.

Menurut Sugeng, pada pekan lalu Ketua Umum PSHT Pusat Parluh 16 Madiun, M Taufik, sudah meminta seluruh anggota PSHT Soloraya tidak terpancing situasi yang terjadi.

Taufik menyampaikan imbauan tersebut saat berkunjung ke Wonogiri. “Pekan kemarin Ketua Umum Pusat PSHT Parluh 16 Madiun sudah briefing ketua-ketua cabang Soloraya. Beliau menekankan kepada semua pengurus cabang PSHT Parluh 16 Soloraya agar bertanggung jawab ngadem-ademke [menenangkan] warganya,” ujarnya.

Dana Awal Kampanye Pilkada Sukoharjo: EA Rp5 Juta, Joswi Rp16 Juta

Langkah Antisipatif

Terkait insiden penyerangan warga PSHT Sragen, Senin, Sugeng meyakini pengurus setempat sudah mengambil langkah-langkah antisipatif.

Karenanya, dia menekankan jangan sampai anggota PSHT Parluh 16 Solo terprovokasi dengan insiden tersebut.

“Serahkan kepada sedulur-sedulur PSHT Sragen untuk menyikapi dan aparat keamanan untuk mengusut tuntas kejadian itu. Begitu juga insiden penyerangan warga PSHT di Solo. Kita tunggu bersama aparat kepolisian mengungkap kasus itu,” katanya.

Jadi Klaster Covid-19, Perkantoran Menara Wijaya Sukoharjo Setinggi 10 Lantai Disemprot Disinfektan

Lebih jauh, Sugeng mengimbau anggota PSHT Parluh 16 Solo untuk menutup atribut persaudaraan bila beraktivitas pada tempat umum.

Hal itu untuk mencegah terjadinya insiden yang tidak diinginkan. Cara menutup atribut bisa dengan memakai jaket.

4 Kelurahan Kota Solo Ini Masih Bersih Dari Paparan Covid-19 Loh, Mana Saja?

“Dalam konteks untuk menjaga kondusivitas ada baiknya simbol-simbol PSHT saat pulang latihan sebaiknya dilepas atau ditutup dengan jaket atau disamarkan. Simbol-simbol ini bisa dalam bentuk tulisan, gambar, seragam atau celana khusus,” terangnya.

Seruan serupa, menurut Sugeng, sudah sesuai imbauan Ketua Umum PSHT Pusat Parluh 16 Madiun saat berpidato di Wonogiri, pekan lalu.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom