Hikayat Pencopet

Adalah aku, seorang istri yang selalu menantikan petang tiba dan merasa bersyukur dan bahagia ketika langit berwarna jingga dan burung kuntul melintas di langit membentuk ujung panah, terbang pulang menuju sarangnya. Tapi yang paling membahagiakan dari petang menjelang Maghrib itu adalah sosok suamiku yang pulang mengetuk pintu, mencium keningku sebelum kemudian mandi dan kami salat berjemaah. Walau kenyataan dari kisah itu kadang mengharukan untuk dikenang lagi.

Begitulah Atin membuka ceritanya di acara hikmah keluarga dalam reuni bulanan teman kuliahnya yang digelar rutin itu. Dalam acara itu, Atin mendapat giliran bercerita tentang sukses dalam kehidupan. Sakur, suami Atin, yang berdiri di samping Atin menggenggam tangan istrinya erat sekali. Memberi kekuatan agar istrinya bisa bercerita dengan lancar. Lalu Atin melanjutkan bercerita.

***

Siang itu, setelah memarkir mobil Avanza di lantai dasar sebuah plasa, Sakur membuka pintu mobilnya separuh. Ia melirik jam tangan Rolexnya. Pukul 10.45 WIB. Sebagaimana kesepakatan kemarin, pukul 11.00 WIB ia minta tiga anak buahnya menyerahkan segala hasil copetannya di area arkir itu. ”Ingat! Tak boleh ada yang terlambat.” Begitu peringatan Sakur kepada anak buahnya kemarin.

Ya. Sakur adalah seorang bos copet. Ia membawahi tiga anak buah yang beroperasi di tiga tempat berbeda. Terminal Ngasibuno, Kromonowo dan Tungrut. Pekerjaan itu sudah ia lakoni lebih dari 15 tahun. Awalnya ia adalah pencopet biasa. Wilayah operasinya di Terminal Ngasibuno. Kurang lebih 10 tahun ia menjadi pencopet. Karena tiap beroperasi hasilnya selalu bagus dan tak pernah sekalipun tertangkap baik oleh aparat maupun dihajar massa karena tertangkap basah, oleh bosnya ia kemudian diangkat menjadi bos kecil. Tugasnya mengumpulkan hasil anak buahnya mencopet. Masing-masing anak buahnya mendapat bagian 10 persen. Disetor kepada bosnya 60 persen dan untuk dirinya sendiri 30 persen. Karenanya tidak berlebihan jika mengatakan sebagian besar kekayaannya yang ia dapat sekarang adalah dari hasil mencopet. Benar memang sekarang Sakur juga punya kios penjualan elpiji 3kg. Tapi modalnya ia ambil dari hasil mengambil dompet orang lain di terminal.

Meski demikian, hingga saat ini istri dan anaknya tak pernah tahu bahwa ia pencopet. Tepatnya seorang bos copet. Bahkan sampai sekarang, sampai perkawinannya berjalan tujuh tahun ia tak pernah ingin istri dan anaknya tahu apa pekerjaan sebenarnya. Di depan istri dan anaknya, ia selalu mengaku bekerja sebagai penjual elpiji. Istri dan anaknya percaya saja dengan omongan Sakur.

Sebenarnya boleh dikata Sakur adalah bos copet yang punya ‘etika.’ Sejak ia awal-awal mencopet, pantang ia mencopet barang-barang milik orang miskin.

”Sekali kalian ketahuan mencopet orang miskin, aku sendiri yang akan menghajar kalian. Kita ini sama-sama miskin. Sama-sama lemah. Tidak boleh merugikan yang miskin. Merugikan yang kaya tidak apa-apa. Kebanyakan orang kaya itu korupsi. Dan korupsi adalah perbuatan kriminal kelas elite yang sejatinya tak jauh beda dengan copet. Bedanya para koruptor punya institusi. Sementara kita tidak.” Begitu dokrin yang ditanamkan kepada anak buahnya.

Sakur sadar betul, orang miskin tak punya apa-apa selain tenaganya saja. Orang miskin hanya bisa menjual tenaganya untuk mempunyai harta. Beberapa di antaranya jadi pelaku kriminal. Seperti Sakur. Copet. Tak gampang jadi copet di kota besar. Harus pandai menjilat aparat jika tidak ingin dibui. Harus juga pandai mengambil hati dan memberi upeti aparat. Dan Sakur bisa sampai kaya begini dulunya adalah pencopet yang lihai dan pandai mengambil hati.

Waktu terus bergerak. Matahari terus meninggi. Sakur masih duduk di depan kemudi sambil menyandarkan kakinya ke setir. Sesekali kakinya bergoyang-goyang mengikuti irama dangdut koplo yang keluar dari audio mobilnya. Tiba-tiba, Piko seorang anak buahnya datang tergopoh-gopoh padanya.

“Gawat, bos! Gawat!”

“Apanya yang gawat?” hardik Sakur terkejut. Ia kemudian menurunkan kakinya dari setir. Membetulkan duduknya lalu menatap anak buahnya tajam.

“Cuplis kena tangkap!”

“Siapa yang tangkap? Massa atau aparat?”

“Aparat, bos. Sekarang dia ada di polsek.”

“Sial!” teriaknya sambil memukul setir. Ia membuang puntung rokok kreteknya. Mengambil rokok kretek lagi. Menyalakannya lalu menghisapnya dalam-dalam. Asapnya kemudian ia semburkan ke muka Piko anak buahnya. Piko yang hanya diam menunduk.

“Mana hasil kerjaanmu?” Tanya Sakur. Piko kemudian merogoh kantong celananya. Menyerahkan sebuah kalung emas dan tiga lembar uang seratus ribuan. Sakur kemudian memasukkan hasil copetan Piko ke saku celananya. “Kau segera SMS si Parmin. Suruh segera ke sini. Tak usah kejar target hari ini. Yang penting selamat dulu. Aku khawatir padanya. Karena ia baru dua hari beroperasi”.

“Baik, bos!” Piko bergegas pergi. Bayangannya menghilang di antara mobil-mobil yang antre ke luar pintu parkir.

“Sial!” teriak Sakur lagi. Sambil memukulkan kedua tangannya ke setir mobil. Ia memang kesal kalau sudah berurusan dengan aparat. Urusannya pasti soal uang. Dan itu mengurangi penghasilan.

Ia kemudian mengeluarkan HP-nya. Mengirimkan SMS kepada seseorang. Selang beberapa menit kemudian HP-nya berdering.

“Siap, Ndan!” ujar Sakur.

“Siang! Anak buahmu ketangkap nih. Dan ia baru ngaku salah satu anak buahmu langsung. Bagaimana?” ujar sebuah suara di ujung telepon.

“Ampun, Ndan! Yang penting jangan disakitilah. Nanti jatahnya saya tambah.”

“Hahaha…..! tapi dia tetap kita proses.”

“Jangan, Ndan. Dia kan masih di bawah umur.”

“Wah, kalau maunya begitu bisa mahal nih.”

“Siap, Ndan bisa diatur.”

“Oke. Nanti kita ketemu di tempat biasa.” pembicaraan terputus.

Sakur menghisap rokok kreteknya lagi dalam-dalam. Sementara tangan kirinya sibuk memutar-mutar gelombang radio. Ia berhenti memutar ketika salah satu stasiun radio di mobilnya melantunkan lagu Cinta Satu Malam kesukaannya.

Tiba-tiba HP-nya berdering lagi. Kali ini dari istrinya.

“Ada apa, Mam?”

“Motorku mogok. Jemput aku di halte sebelah selatan sekolah si Aryad. Motornya aku titipin di satpam. Biar dijemput Dullah nanti.”

“Ya. 15 menit lagi aku jemput.”

Sakur melirik jam tangan Rollex-nya lagi. Pukul 11.11 WIB. Tapi Parmin, anak buahnya itu belum juga kelihatan batang hidungnya. Sakur keluar dari mobilnya. Kemudian berjalan ke dinding pembatas parkir. Di tengadahkan kepalanya ke langit. Hatinya tiba-tiba bimbang. Jangan-jangan si Parmin juga mengalami nasib seperti si Cuplis. Atau malah lebih tragis. Digebuki massa hingga tewas. Dada Sakur tiba-tiba berdegup kencang. Baru kali ini ia merasa khawatir dan ketir. Apakah rasa ketirnya itu karena penangkapan Cuplis? Apakah karena si Parmin baru beroperasi kurang dari sepekan? Apakah karena Parmin masih berumur 15 tahun?

Sakur masuk lagi ke dalam mobilnya. Mengeraskan suara audio mobilnya yang sekarang sedang memutar lagu-lagu Rhoma Irama. Ketika memperbaiki letak duduknya ia melihat bayang-bayang Parmin berjalan mendekat ke tempat mobilnya diparkir.

“Kok lama sekali. Kemana aja?”

“Biasa, bos. Jalanan macet.”

''Dapat berapa hari ini?''

''Lumayan, bos. Lima ratus ribu!''

''Wah, hebat! Baru operasi langsung dapat gede. Mana?''

''Ini bos!" Parmin mengeluarkan dompet dari saku celananya lalu diserahkan kepada Sakur. Dompet dibuka. Tiba-tiba Sakur melempar dompet itu ke wajah anak buahnya dengan keras. Tepat mengenai dahi Parmin.

''Bangsat! Itu dompet istriku!''

HP Sakur kembali berdering. Terus berdering. Istrinya, Atin, kembali menelepon.

***

”Bagaimana akhirnya bisa terbongkar? Lalu ke mana semua harta setelah pekerjaan itu terbongkar?” Imah, teman Atin bertanya dari deretan kursi tengah ketika Atin menyelesaikan ceritanya.

”Dompet itu aku temukan di kantong celananya. Kami bertengkar hebat. Kemudian sebuah keputusan diambil. Kami menghibahkan semua harta ke pondok pesantren. Lalu memilih memulai dari nol. Jadilah kami seperti sekarang, tak lagi bergelimang harta. Dan memilih jadi pedagang sayur, bukan copet,” terang Atin.

Mendengar cerita itu beberapa orang tertawa. Beberapa lainnya tertegun. Lalu terdengar tepuk tangan keras sekali. Atin turun dari mimbar. Tangannya menggandeng erat tangan Sakur, suaminya.

Ya, ya, inilah aku, seorang istri yang selalu menantikan petang tiba dan merasa bahagia ketika langit berwarna jingga dan burung kuntul melintas di langit membentuk ujung panah, lantas suamiku mengetuk pintu, mencium keningku bukan lagi sebagai copet. Melainkan seorang tukang sayur yang sederhana.

 

 

Edy Firmansyah

Penyair dan prosais kelahiran Pamekasan, Madura. Karya cerpen dan puisinya pernah diterbitkan sejumlah media dan juga dibukukan.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho