Hidup Berdamai dengan Covid-19
Ginda Ferachtriawan (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO--Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo menyatakan Kota Solo berstatus kejadian luar biasa Covid-19 pada Jumat malam 13 Maret 2020 lalu. Hingga kini status itu masih berlaku. Itu keputusan yang cukup mengagetkan, tapi tepat.

Status ini berdampak pada banyak hal, antara lain sekolah dari tingkat SD hingga SMA harus berubah: belajar di rumah. Arena car free day ditiadakan. Pertunjukan wayang orang di Sriwedari dan ketoprak di Taman Balekambang diliburkan. Kegiatan olahraga di kompleks Stadion Manahan dan Stadion Sriwedari ditutup.

Penetapan status kejadian luar biasa diikuti pembatasan lain, yaitu  pembatasan jam operasional mal, pasar modern, pusat kuliner, dan tempat hiburan menjadi pukul 11.00 WIB sampai pukul 20.00 WIB. Gedung pertemuan dan hotel dilarang menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan orang banyak seperti pernikahan, seminar, dan lain-lain.

Pengelola tempat ibadah diminta untuk menunda atau menghindari atau membatalkan kegiatan yang melibatkan orang banyak. Dampak pandemi Covid-19  terhadap penyerapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Solo juga luar biasa.

Semua kegiatan yang dibiayai APBD dibatalkan. Otak-atik anggaran memunculkan angka Rp46 miliar yang dialokasikan untuk penanganan Covid-19. Alokasi anggaran untuk penanganan Covid-19 masih akan bertambah.

Pemerintah Kota Solo akan memangkas anggaran sampai Rp277 miliar lantaran pendapatan daerah turun drastis. Kegiatan belanja akan difokuskan untuk penanganan Covid-19 dan dampak-dampaknya.  Sayangnya, masih ada masyarakat yang belum menganggap serius masalah ini.

Mereka enggan memakai masker, tetap berkerumun, serta mengabaikan imbauan pemerintah untuk mencegahan persebaran virus corona tipe baru. Ada pula warga yang sangat kritis dan merasa paling mengerti tentang apa yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk memutus mata rantai wabah tersebut.

Saya juga bertanya tentang langkah-langkah yang dilakukan Pemerintah Kota Solo dalam menghadapi wabah ini. Demi mengharapkan jawaban yang tepat, saya mencari informasi seperti bertanya langsung, membaca berita di media cetak, media online, bertanya ke pejabat pemerintah kota atau kabupaten lain tentang langkah-langkah yang mereka lakukan, menonton para ahli berbicara di televisi atau Youtube, mendengarkan mereka di Podcast atau media online, dan sebagainya.

Informasi

Berbagai informasi berkaitan dengan wabah ini sangat mudah didapatkan. Beberapa hal yang saya pelajari dari wabah ini adalah virus ini belum ada obatnya maupun vaksinnya. Yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan atau menjinakkan virus ini,  berdamai dengan Covid-19.

Virus ini menyebar melalui interaksi antarmanusia. Droplet yang keluar dari manusia dan mengenai manusia atau menempel di permukaan benda kemudian tersentuh oleh manusia menjadi alat penyebaran. Orang yang mempunyai imunitas yang baik bisa sembuh dengan sendirinya (self limited disease).

Orang dengan penyakit bawaan atau usianya rentan (lanjut usia) berisiko tinggi terinfeksi virus ini. Penetapan status kejadian luar biasa merupakan langkah untuk memutus mata rantai persebaran virus corona tipe baru. Setelah melakukan berbagai cara untuk memutus mata rantai persebaran virus corona tipe baru ini, sebaiknya diikuti dengan memperbanyak tes dan menyiapkan semua kebutuhan obat untuk yang terinfeksi.

Pada awalnya tes memang masih banyak kendala. Alat tes polymerase chain reaction (PCR) sangat terbatas di Indonesia, yakni hanya ada tiga laboratorium yang mampu. Pemerintah pusat menargetkan 72 laboratorium. Per 4 Mei 2020 ada 48 laboratorium di Indonesia yang mampu melakukan tes PCR.

Di Kota Solo yang mampu melakukan tes ini baru Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret. Tes PCR saat ini diyakini paling akurat untuk mengetahui orang terinfeksi virus corona baru atau belum jika dibandingkan dengan rapid test. Rapid test hanya memberi tahu apabila hasilnya reaktif yang berarti di dalam tubuh kita terbentuk antibodi yang sedang melawan atau sudah melawan virus tersebut.

Setelah Pemerintah Kota Solo melakukan semua pembatasan sosial dan isolasi bagi warga pendatang seharusnya yang harus dilakukan adalah tes massal diikuti dengan pelacakan atau mencari orang yang mungkin terinfeksi. Setelah ditemukan, mereka lalu diisolasi di tempat karantina dan disembuhkan.

Hal yang perlu diwaspadai adalah orang tanpa gejala (OTG). Bayangkan ketika ada anak muda OTG pulang ke rumah yang ditinggali neneknya. Yang muda mungkin bisa sembuh dan tidak merasakan gejala apa-apa, tetapi sang nenek bisa dalam kondisi berbahaya.

Saat ini ada beberapa negara yang mulai melonggarkan aturan pembatasan wilayah. Ini lantaran jumlah pasien positif Covid-19 cenderung menurun dan masyarakat berdisiplin mengikuti imbauan dari pemerintah. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah siap?

Kurva

Tomas Pueyo, penulis asal Prancis, dalam artikel berjudul Coronavirus, The Hammer and The Dance yang saya dapat di Twitter dari akun @edwardsuwardi, menurut saya, memberikan gambaran yang sangat pas dengan kondisi kita. Hal yang tepat dilakukan adalah melandaikan kurva, yakni membuat semua pengidap Covid-19 mendapat perlindungan kesehatan dengan cara memutus mata rantai persebaran virus corona tipe baru ini.

Dalam tahap the hammer yang dilakukan pemerintah dan masyarakat adalah memalu kurva agar menjadi lebih landai. Ini bisa dilakukan dengan lockdown, physical distancing, mencegah kerumunan, meliburkan sekolah, dan sebagainya.

Sedangkan dalam tahap the dance, ketika kurva melandai, saatnya kehidupan berjalan normal kembali. Perlu diingat, karena belum ada obat maupun vaksin, akan ada kehidupan normal bentuk baru, yakni kita harus beradaptasi dengan kondisi dalam melakukan semua kegiatan.

Akan ada kebiasaan baru dan protokol baru dalam hidup ini. Tahap ini disebut tahap the dance. Mari kita mulai mempersiapkan diri dan merencanakan apa yang terbaik dalam tahap the dance. Apa yang akan terjadi pada kehidupan normal yang baru?

Semua orang akan menggunakan masker, banyak pekerjaan kantor yang akan dilakukan di rumah, layanan dunia digital akan meningkat, sekolah diselenggarakan secara online atau dengan prosedur yang berbeda. Anak-anak bisa saja masuk sekolah secara bergantian hari. Satu meja yang biasa diisi dua orang murid sekarang cukup untuk seorang murid.

Jam masuk kelas, jam istrirahat, dan jam pulang sekolah dibuat berbeda setiap kelas. Toko dan rumah makan membatasi jumlah pengunjung yang dapat masuk demi menjaga jarak. Pembatasan jarak ini bakal menjadi kebiasaan baru, padahal untuk antre saja kita masih kesulitan.

Pertandingan olahraga dan event seni budaya dikurangi kapasitasnya atau mungkin ditonton secara streaming atau secara online. Wabah Covid-19 ini mengubah semua kebiasaan kita. Nilai positifnya, masyarakat menjadi lebih sehat lantaran menerapkan standar perilaku hidup bersih dan sehat.

Jalanan mungkin menjadi ramai lagi, tapi akan diimbangi dengan perubahan perilaku masyarakat yang lebih memerhatikan keselamatan, kesehatan, dan menjaga jarak. Kapan status kejadian luar biasa ini akan berakhir?

Jangan tanyakan itu, tapi tanyakan apa yang bisa kita lakukan untuk mengakhiri kejadian luar biasa ini. Perlu dicatat, pemerintah tidak akan mampu mengatasi wabah Covid-19 ini tanpa kedisiplinan tinggi dan solidaritas dari kita semua. Dengan gotong royong kita lawan Covid-19.

Bung Karno berkata,”Marilah kita menyelesaikan karya, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama! Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis kuntul baris buat kepentingan bersama! Itulah gotong royong!"


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho