Hidden Canyon, Mutiara Tersembunyi di Kaki Pegunungan Muria

Alasan penamaan tersebut karena ngarai tersebut berada di tempat tersembunyi dan memang belum banyak diketahui keberadaanya oleh banyak orang karena akses jalannya yang sulit.

 Hidden Canyon, Desa Rahtawu, Pegunungan Muria (Sumber: Youtube/ Panorama Jawa Tengah)

SOLOPOS.COM - Hidden Canyon, Desa Rahtawu, Pegunungan Muria (Sumber: Youtube/ Panorama Jawa Tengah)

Solopos.com, KUDUS — Di balik panorama yang indah Desa Rahtawu miliki karena berada di kaki pegunungan Muria, terdapat suatu tempat yang belum pernah terjamah. Tempat itu berupa sungai dengan berbagai bebatuan yang disebut sebagai Hidden Canyon.

Berdasarkan pantuan Solopos.com di sebuah kanal Youtube, Sabtu (4/12/2021),  kelompok pencinta alam yang sering menyusuri daerah pegunungan Muria, sungai tersebut diberi nama Hidden Canyon atau Ngarai Tersembunyi.

Alasan penamaan tersebut karena ngarai tersebut berada di tempat tersembunyi dan memang belum banyak diketahui keberadaanya oleh banyak orang karena akses jalannya yang sulit. Untuk mencapai tempat tersebut, harus menyusuri sungai radak selama kurang lebih 30 menit. Dalam menyusuri, tidak perlu buru-buru karena batu-batu sungainya sangat licin, apalagi jika alirannya deras sehingga harus berhati-hati agar tidak tergelincir atau terpeleset.

Saat sudah mencapai lokasi Hidden Canyon, rasa lelah akan terbayar karena pemandangannya sangat indah serta suara aliran air benar-benar mengundang siapapun yang berkunjung untuk bermain air di aliran sungai tersebut. Aliran airnya bersih dan tidak begitu dalam sehingga pengunjung dapat dengan santai bermain air di area ngarai.

Baca Juga: PLN Bagikan Gerobak Molis kepada UKM Jateng, Dorong Produktivitas Usaha

Salah satu keunikan yang ada di Hidden Canyon ini adalah bentuk batu tebingnya yang menyerupai telinga serta berwarna belang abu-abu dan coklat tua. Keunikan batu ini bisa juga dijadikan latar untuk berswafoto sehingga menghasilkan sebuah gambar yang Instagramable.

Karena tempat ini belum terjamah, tidak ada biaya masuk untuk menikmati kesegaran air di sana. Namun, pengunjung harus memiliki stamina yang kuat untuk bisa mencapai Hidden Canyon ini karena seperti yang disebtukan, lokasi Hidden Canyon ini terpelosok dan aksesnya masih sulit.

Tempat ini bisa menjadi tempat untuk menyegarkan diri, baik fisik maupun pikiran. Melalui segarnya air dan juga indahnya panorama kaki Pegunungan Muria, rasa penat dan lelah pasti akan hilang.

Baca Juga: Indahnya Sunrise di Taman Posong Lereng Sindoro Temanggung

Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog merupakan salah satu desa wisata yang memiliki beragam macam keindahan alam, Jaraknya sekitar 21 km dari pusat Kota Kudus dan bisa ditempuh dengan sepeda motor atau kendaraan roda empat selama kurang lebih 40 menit. Ada sekitar 13 klaster wisata yang sedang dikembangkan dan salah satunya yang sudah dikenal adalah wisata pendakian Natas Angin dan puncak-puncak lainnya. Seperti yang sudah diketahui, Pegunungan Muria dikenal dengan 7 Summits yang juga menjadi tujuan para pencinta alam untuk menyalurkan hobi pendakian.

Berita Terkait

Espos Plus

Drone Makin Dibutuhkan, Pengembangan Teknologi Pesat

+ PLUS Drone Makin Dibutuhkan, Pengembangan Teknologi Pesat

Teknologi drone berkembang pesat. Kegunaan drone makin beragam di banyak sektor. Perusahaan-perusahaan drone mengembangkan pasar berbasis kebutuhan dan manfaat.

Berita Terkini

Umbul Senjoyo Salatiga, Situs Peninggalan Pajang di Lereng Merapi

Umbul Senjaoyo di Kota Salatiga ini disebut-sebut sebagai situ peninggalan Kerajaan Pajang yang berada di kawasan timur lereng Gunung Merapi.

Banjir Landa Kota Pekalongan, Ratusan Warga Mengungsi

Hujan deras yang mengguyur Kota Pekalongan sejak Rabu (19/1/2022) sore hingga Kamis (20/1/2022) dini hari membuat sejumlah wilayah tergenang air atau dilanda banjir.

Diguyur Hujan, Kudus Dilanda Banjir & Longsor

Sekitar 200 unit rumah warga di Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah teredam banjir akibat curah hujan tinggi.

Wanita Boyolali Ngaku Diperkosa, Polda: Pelaku Bukan Polisi

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol M. Iqbal Alqudusy, membantah pelaku yang diduga memperkosa wanita asal Simo, Boyolali, adalah anggota polisi.

Pelabuhan Tegal Macet Pol, Ratusan Kapal Nelayan Gagal Melaut

Pelabuhan Jongor di Kota Tegal, Jawa Tengah, penuh sesak akibat ratusan kapal nelayan gagal melaut.

Uang Ganti Rugi Tol Jogja-Bawen Capai Triliunan

Pelaksana proyek Tol Jogja-Bawen telah menyiapkan uang mencapai triliunan rupiah untuk membayar ganti rugi lahan warga yang terdampak.

Cupu Manik Astagina, Pusaka Pembawa Petaka

Cupu Manik Astagina adalah benda pusaka pembawa petaka yang berkaitan dengan kisah dua kera bersaudara, Subali dan Sugriwa.

Sumpah Sabdo Palon Hancurkan Tanah Jawa

Sabdo Palon bersumpah akan kembali ke Tanah Jawa sekitar 500 tahun terhitung setelah Kerajaan Majapahit runtuh.

Ini Isi Ramalan Sabdo Palon Nagih Janji

Inilah isi ramalan yang memuat bait sumpah Sabdo Palon kembali ke tanah Jawa setelah 500 tahun runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Ramalan Sabdo Palon Nagih Janji, Obrak-Abrik Tanah Jawa?

Dalam sebuah ramalan disebutkan Sabdo Palon bersumpah kembali ke Tanah Jawa setelah 500 tahun sejak keruntuhan Kerajaan Majapahit.

Pesta Miras, 5 Orang di Cepu Meninggal Beruntun

Sebanyak lima orang meninggal secara berurutan seusai menggelar pesta minuman keras atau miras di Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah (Jateng).

Buron 3,5 Tahun, Tersangka Pembunuhan di Jepara Ditangkap

Aparat Polres Jepara menangkap seorang tersangka kasus pembunuhan bermotif perselingkuhan yang telah menjadi buron selama 3,5 tahun.

Viral Foto KTP Dijual di NFT, Ini Kata Guru Besar Tempat Ghozali Kuliah

Guru besar Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang menanggapi viralnya data pribadi atau foto KTP yang dijual sebagai NFT di situs web OpenSea.

Rumah BUMN, Wujud Dukungan Semen Gresik Untuk UMKM Jateng

Program yang telah dilakukan PT Semen Gresik, yaitu mengoptimalkan fungsi Rumah BUMN dalam mentoring dan kurasi produk UMKM.

Goa Jatijajar Jadi Tambang Fosfat Besar di Masa Penjajahan Jepang

Goa Jatijajar di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, pernah menjadi tambang fosfat besar pada masa penjajahan Jepang di Indonesia.