Hercules picu kontroversi

JAKARTA: Hingga
kemarin, sebab mu sabab jatuhnya Hercules C 130 yang bertepatan dengan
peringatan ke-101 Hari Kebangkitan Nasional, belum diketahui
penyebabnya. Peremajaan alat utama sistem senjata (alutsista) diduga
menjadi penyebabnya.

Pemerintah
dinilai telah lalai soal anggaran pertahanan. “Pemerintah seharusnya
tidak mengingkari kenyataan tentang minim dan tidak masuk akalnya
anggaran pertahanan kita,” tegas Wakil Ketua Komisi I DPR, Yusron Ihza
Mahendra, kemarin. Seperti diberitakan, kecelakaan pesawat angkut C130
Hercules Long Body, terjadi di Magetan, Jawa Timur, Rabu (20/5).
Pesawat itu sedang melaksanakan tugas rutin, yakni misi penerbangan
mengangkut personel TNI AU dan keluarga.

Menurut
Yusron, sebagai gambaran, pada 2009 Dephan mengajukan anggaran
kebutuhan minimun pertahanan sebesar Rp127 triliun. Namun, pemerintah
hanya sanggup memenuhi Rp33,6 triliun, atau sekitar 26% saja. “Dari
angka itu, sekitar Rp27 triliun untuk gaji dan biaya kantor, sehingga
sisa anggaran untuk peremajaan dan pemeliharaan alutsista amat minim,”
tambahnya.

Semestinya,
dengan berulang-ulangnya kecelakaan, pemerintah dapat menarik
pelajaran, dan jangan baru ribut setelah kecelakaan kembali terjadi,
dan kemudian diam lagi. “Kita memang belum sanggup membuat Hercules
sendiri, tapi cukup sanggup memproduksi alutsista jenis lain, seperti
panser dan helikopter. Tapi sejauh ini keberpihakan serta komitmen
pemerintah untuk membangun industri pertahanan dalam negeri masih amat
minim,” jelas Yusron.

Ia
menambahkan, Dephan masih gandrung menghamburkan devisa membeli
alutsista dari luar negeri, ketimbang memesan produksi dalam negeri.
Bahkan, sekadar memperbaiki pesawat atau kapal perang. “Tidak adanya
cetak biru pertahanan nasional selama sekian tahun jelas mengisyaratkan
bahwa pertahanan kita (termasuk pembelian alutsista) dilakukan
serampangan dan tanpa perencanaan,” tutupnya seperti dikutip dari
detik.com.

Merosot
Pernyataan
senada juga diungkapkan pengamat politik dan militer, MT Arifi n, yang
menyatakan, anggaran alutsista yang ada saat ini bukan hanya tidak
ideal, tetapi juga sangat merosot. “Anggaran alutsista tahun ini lebih
rendah dibanding tahun sebelumnya. Padahal kebutuhan untuk TNI, seperti
pengadaan alat-alat pertahanan negara, sangat besar dan mendesak,”
jelas dia, kepada Harian Jogja, tadi malam.

Arifin
merinci, kebutuhan anggaran ideal alutsista TNI setidaknya merujuk pada
4 hal yang mendesak saat ini. Pertama, masalah maintenance peralatan
atau kebutuhan peralatan ketahanan. Kedua, peningkatan prajurit
khususnya terhadap olah senjata. Ketiga, persiapan suku cadang dan
keempat, pembelian peralatan baru untuk pertahanan negara.

Dia
memandang, timpangnya anggaran alutsista disebabkan minimnya anggaran
dari pemerintah. Namun, persoalan political will terhadap persoalan itu
menjadi penyebabnya. Ia mencontohkan kebutuhan pesawat TNI AU saat ini.
Menurutnya, dari kebutuhan ideal 45 pesawat di dua skuadron, TNI AU
hanya memiliki 20 pesawat tempur. “Ironisnya, dari 20 pesawat yang ada,
hanya 40% yang laik,” katanya.

Sebelumnya,
Wakil Presiden M Jusuf Kalla, di Jakarta, mengatakan, jatuhnya milik
TNI AU itu akibat tidak adanya anggaran yang cukup untuk pembelian
alutsista di Indonesia. “Itu akibat tidak diberi porsi yang cukup untuk
alutsista kita. Alutsista yang dimiliki TNI-AU sebagian besar sudah tua
usianya, dan dibeli ketika zaman (alm) Jenderal M Jusuf. Karena itu, ke
depan anggaran alutsista harus segera dipenuhi,” katanya.

Apalagi,
kata wapres, untuk pesawat angkut jenis Hercules tidak hanya digunakan
untuk perang, tetapi juga untuk tugas-tugas kemanusian pada masa damai.
Senada, anggota Komisi I, DPR, Yuddy Chrisnandi, mengatakan, jatuhnya
Hercules merupakan konsekuensi penggunaan alutsista yang tua. Tiga hal
yang menjadi faktor penyebab jatuhnya Hercules C-103, karena umur
alutsista tua, minimnya anggaran perawatan, dan adanya kemungkinan suku
cadang yang dikanibal.

Jangan
spekulasi Presiden SBY meminta agar berbagai spekulasi yang muncul
menyusul jatuhnya pesawat Hercules itu tidak dikembangkan lebih jauh.
Melalui Panglima TNI, Presiden telah meminta KSAU Marsekal Soebandrio
segera memberikan penjelasan begitu proses investigasi selesai
dilakukan. Presiden Yudhoyono meminta TNI AU tetap menjalankan tugas
rutin seperti menjaga pertahanan negara, melaksanakan kegiatan
pendidikan dan latihan, hingga kegiatan pe ngangkutan personil.

Namun
bersamaan itu juga harus meningkatkan kegiatan ekstra untuk memastikan
agar keselamatan penerbangan mendapatkan prioritas. “Di satu sisi,
tugas pokok tetap bisa dilaksanakan, di sisi lain keselamatan penerbang
dan penumpang harus dapat tetap dijamin,” ujar Presiden di Istana
Negara, kemarin.
14 Jenazah Pada bagian lain, Presiden SBY
didampingi ibu Ani Yudhoyono menyambut kedatangan 14 jenazah korban
jatuhnya Hercules, sebelum kunjungan kerja ke Jawa Timur.

Presiden
tiba di Halim Perdanakusumah sekitar pukul 14.10 WIB, dan langsung
menyampaikan rasa duka cita atas nama pemerintah dan pribadi. Usai
menyampaikan duka cita, SBY dan ibu Ani Yudhoyono didampingi KSAU
Marsekal TNI Subandrio, bergabung dengan keluarga korban, menunggu
kedatangan 14 jenazah dari pangkalan udara Iswahjudi Madiun.

Presiden
Yudhoyono beserta ibu sempat berdialog dengan salah satu keluarga
korban. Sekitar pukul 14.30 WIB pesawat Hercules bernomor A-1315 yang
membawa 14 jenazah tiba di pangkalan Halim Perdanakusumah. Usai
menyambut ke-14 jenazah, SBY bersama rombongan langsung menuju Jawa
Timur. Sementara dari Magetan dilaporkan, tiga jenazah yang terjepit
bangkai Hercules berhasil ditemukan dan segera dievakuasi.

Ketiga
jenazah itu adalah jasad Mayor ELK Melvin dan seorang perempuan dewasa,
yang segera dilarikan ke RS Lanud Iswahyudi. Hingga berita ini ditulis
pukul 21.35 WIB, jumlah korban tewas mencapai 101 orang penumpang.

Oleh
Hamid Abdul Razak Harian Jogja
& Tri D. Pamenan, Ratna Ariyati Bisnis Indonesia/JIBI

Avatar
Editor:
Budi Cahyono


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom