Tutup Iklan
Video detik-detik septictank di Kapling Blok O, RT 16 RW 03, Cakung, Jakarta Timur, DKI Jakarta, meledak, Senin (4/11/2019). (Instagram-@kontributorjakarta)

Solopos.com, SOLO — Kisah tragis dialami S, 44, sopir truk penyedot tinja yang tewas terkena ledakan septictank yang ia sedot di Kapling O, RT 016/RW 003 Kelurahan Jatinegara, Cakung, Jakarta Timur, Senin (4/11/2019).

Septictank itu meledak setelah S memasukkan api ke septictank demi membuktikan bahwa penampung tinja itu telah kering.

Ledakan septictank itu ternyata berkaitan dengan gas metana. Peneliti Utama Teknologi Lingkungan di Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI, Neni Sintawardani, mulanya menjelaskan proses pembentukan gas metana yang disebut dengan proses anaerobik.

Proses ini alami terjadi karena aktivitas mikroba bakteri yang ada dalam septic tank.

"Dalam di septictank itu terjadi proses alami yang disebut proses anaerobik. Proses anaerobik ialah proses yang menggunakan mikroba alami, yang biasanya sudah ada di dalam situ [septictank]. Proses itu enggak boleh ada oksigennya karena bakteri itu bisa hidup tanpa oksigen, makanya kenapa septictank itu harus ada di kedalaman tertentu, kedap udara dan ada pipa saluran gasnya," kata Neni kepada Detik.com, Rabu (6/11/2019).

Selama proses tersebut, lanjut Neni, mikroba melakukan proses penguraian tinja hingga menghasilkan biogas. Salah satu biogas yang dihasilkan ialah gas metana (CH4). Gas ini memiliki sifat yang mudah terbakar.

"Selama proses itu, mikroba itu akan mengonsumsi tinjanya, menguraikannya dan menghasilkan biogas. Biogasnya terdiri dari banyak gas, terutama adalah gas metana. Gas metana itu gas yang mudah meledak atau terbakar," jelasnya.

Jika septictank tak memiliki saluran pipa pengularan yang layak, menurut Neni, gas akan mencari lubang lain. Bahkan, gas bisa juga keluar dari lubang jamban.

"Kalau septic itu tidak memiliki saluran pengeluaran gas yang layak atau malah tidak ada, maka gasnya akan mencari jalan keluar. Entah melalui lubang WC sendiri, makanya kadang ada yang suka muncrat karena tekanan gas. Atau melalui lubang lainnya yang ada," ungkapnya.

Dia menilai yang dilakukan korban dalam ledakan septictank di Cakung itu cukup nyeleneh karena memasukkan api ke septictank penuh dengan gas metana yang mudah terbakar.

"Yang terjadi kemarin, dia sudah memompa. Dia beranggapan gasnya sudah kosong. Dia kemudian membakar kertas koran untuk memastikan gas sudah kosong. Nah itu suatu kecerobohan yang luar biasa. Tidak ada itu prosedur seperti itu di dalam konsep septictank. Itu justru memancing bahaya. Membakar koran di septictank itu ide yang nyeleneh," tuturnya.

Terkait kisah tragis yang dialami S, polisi menyebut ledakan terjadi karena endapan gas yang sudah bertahun-tahun lamanya. Percikan api dari pembakaran koran kemudian menimbulkan ledakan pada gas tersebut.

"[Penyebab ledakan akibat] gas yang terendap puluhan tahun dalam septictank kena api," ujar Kanit Reskrim Polsek Cakung AKP Tomi Sirait dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (5/11/2019).

Kisah tragis yang dialami S itu juga terekam kamera pengawas dan videonya menjadi viral di media sosial. Berdasarkan video yang diunggah, tampak septictank meledak dan membuat dua pria di dekatnya terlempar, salah satunya S yang akhirnya meninggal dunia.

Sumber: Detik.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten