Ilustrasi wanita muda korban penyekapan (JIBI/Solopos/Dok.)

Solopos.com, SUMENEP -- Masyarakat dihebohkan dengan kisah terlarang yang tertuang dalam diary santriwati berinisial SS. Dalam buku harian itu, muncul cerita hubungan antara dirinya dengan AS, Kepala sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Pulau Giliyang, Kabupaten Sumenep, Madura.

Awalnya, cerita ini dibongkar oleh istri dari Ghufron (Ketua Yayasan pesantren di Sumenep), Er. Wanita berumur 41 tahun itu mengaku tidak terima suaminya justru yang dipolisikan atas kasus pemerkosaan terhadap SS. Ia menuding yang melakukan pemerkosaan kali pertama adalah AS. Benarkah?

SS saat ini masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Belum jelas apakah isi diary itu benar adanya.

"SS dan AS itu sudah lama pacaran. Teman-teman SS banyak yang tahu itu. Bahkan di buku diary SS juga jelas tertulis kalau mereka ada hubungan khusus. Bahkan sudah tidur bersama seperti suami istri," ungkap Er seperti yang telah diberitakan Suara.com, Selasa (5/11/2019).

Heboh Diary Santriwati Madura, Serangan Balik Istri Kiai yang Dituduh Cabul

Bahkan, kata Er, Ghufron pernah memanggil SS dan AS bersama istrinya. Setelah mengetahui hubungan terlarang tersebut, istri AS berniat untuk bercerai. Namun, Er mengklaim Ghufron melakukan mediasi sehingga niatan bercerai tersebut urung dilakukan.

"Saat bertemu dan dimediasi oleh suami saya itu, baik AS maupun SS mengaku kalau mereka memang ada hubungan khusus. Bahkan mereka mengaku kalau sudah melakukan hubungan suami istri," sambungnya.

Pakar: Ipar Seno Gede Calon Kuat Pendamping Gibran Rakabuming

"Jadi suami saya, Pak Ghufron itu yang membantu merujukkan AS dan istrinya. Lha kok sekarang malah suami saya yang dituduh memperkosa SS. Sedangkan AS masih bebas berkeliaran tanpa jeratan hukum," katanya.

Kisah viral ini juga ramai diperbincangkan oleh warganet. Banyak yang menyayangkan kejadian tersebut terjadi di pesantren dan dilakukan oleh seorang yang paham tentang agama. Bahkan, ada netizen yang meminta pelaku dihukum mati.

"Hukum mati aja masa pemimpin pesantren melakukan perbuatan yg tidak senonoh, seharusnya memberi contoh yang baik," ujar pengguna akun Fitri Yani.

PA 212 Mau Reuni Bareng Rizieq Shihab, Netizen Usul Pakai Anggaran Lem Aibon

Ada pula salah satu warganet yang menyebut kisah ini bisa merusak nama baik pesantren. "Ini nih manusia yg merusak nama baik pesantren, yg akhirnya orang tua jadi sanksi memasukan anaknya ke pesantren, harus ditembak mati aja hukumannya," tambah pengguna akun Sikat Habis.

Sumber: Suara.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten