Tutup Iklan
Warga melintas di dekat sayap jembatan di Lemah Ireng, Pedan, Klaten, yang ambrol, Senin (25/3/2019) dini hari. (Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN -- Sayap jembatan Lemahireng, Kecamatan Pedan, Klaten, ambrol pada Senin (25/3/2019) pukul 02.00 WIB. Selain mengancam fondasi https://soloraya.solopos.com/read/20181112/493/952105/rp156-miliar-untuk-3-jembatan-rusak-akibat-banjir-klaten" title="Rp15,6 Miliar Untuk 3 Jembatan Rusak Akibat Banjir Klaten">jembatan, ambrolnya sayap jembatan tersebut juga mengakibatkan akses Kaligawe (Pedan)-Lemahireng (Pedan)-Batur (ceper) nyaris terputus. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten membangun jembatan di RW 008, Lemahireng, Pedan, pada 2005. Jembatan itu panjangnya kurang lebih 12 meter dengan lebar sekitar 2,5 meter. 

Jembatan yang melintasi Sungai Wonggo itu menghubungkan RW 008 dengan RW 007 di Lemahireng. Di bagian utara jembatan, terdapat jalan utama di Desa Lemahireng. Jalan selebar sekitar tiga meter itu menghubungkan Kaligawe (Pedan) di bagian timur Lemahireng dan Batur (Ceper) di bagian barat Lemahireng. 

Semula, sayap jembatan yang ambrol berada di sisi timur jembatan. Lantaran tak kuat menahan arus sungai, sayap jembatan di sisi timur itu ambrol sepanjang 24 meter, pada Senin (4/3/2019). 

Tak berhenti di situ, sayap https://soloraya.solopos.com/read/20190326/493/980861/nenek-nenek-kenaiban-klaten-menghilang-diduga-kecemplung-sungai-pusur" title="Nenek-Nenek Kenaiban Klaten Menghilang Diduga Kecemplung .">jembatan sepanjang 15 meter di sisi barat jembatan ikut ambrol, Senin (25/3/2019). Ambrolnya sayap jembatan itu diduga karena tak kuat menahan arus sungai. 

Saat sayap jembatan di bagian barat jembatan ambrol, jalan desa yang menghubungkan Kaligawe-Lemahireng-Batur ikut ambles sedalam lima meter. Kondisi jalan Kaligawe-Lemahireng-Batur nyaris terputus karena hampir separuh jalan turut ambles. 

“Sayap jembatan yang ambrol hanya di bagian utara. Sebelum ambrol itu, memang berlangsung hujan deras. Arus air di sini juga deras. Senin dini hari itu saya mendengar suara bergemuruh. Begitu saya lihat, kondisi jalan sudah ambles. Saya menutup jalan dengan menggunakan bambu,” kata warga Lemahireng, Sunarto, 63, yang rumahnya berjarak lima meter dari jembatan saat ditemui wartawan di rumahnya, Selasa (26/3/2018).

Sesepuh Lemahireng, Suramto Sutarto Widodo, 82, mengatakan arus sungai Wonggo yang merupakan anak Sungai Dengkeng sangat besar saat musim hujan. Air sering meluap di kawasan RW 008 saat hujan deras.

“Lahan yang mudah tergerus memang di sayap jembatan bagian utara. Lokasinya berada di tikungan sehingga desakan air semakin kencang. Kondisi ini berbeda dengan sayap jembatan di selatan,” katanya. 

Kepala Desa (Kades) Lemahireng, Sri Wahyuni, mengaku sudah melaporkan ambrolnya sayap jembatan di desanya ke pemerintah kecamatan dan pemerintah kabupaten (pemkab). Di samping itu, juga sudah dilaporkan ke Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS). 

“Di sayap jembatan bagian timur itu sebenarnya sudah diperkuat dengan membangun pagar pembatas agar air tak meluap ke permukiman warga. Nyatanya, tetap ambrol awal Maret lalu. Berikutnya, sayap jembatan di bagian barat ikut ambrol karena tak kuat menahan gerusan air," jelas dia. 

Dengan ambrolnya sayap https://soloraya.solopos.com/read/20180427/493/912136/jembatan-ngrombo-bener-klaten-dibangun-tahun-depan" title="Jembatan Ngrombo-Bener Klaten Dibangun Tahun Depan">jembatan itu, jalan desa ikut ambrol. Di dekat jalan yang ambrol hampir separuh itu juga ada tiang listrik. Warga berharap segera ada perbaikan permanen. 

Sementara itu, warga bergotong royong memasang 1.000 karung berisi pasir bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten. "Semoga pemasangan karung segera rampung agar warga tak waswas,” katanya. 

Pengamat Sungai Wonggo dari BBWSBS, Pariyatno, mengatakan pengawasan terhadap salah satu anak Sungai Dengkeng itu dilakukan secara rutin. Sebelum sayap jembatan ambrol, BBWSBS bersama warga juga rutin membersihkan sungai dari sampah. 

“Agar pemasangan karung berisi pasir segera selesai, pemasangannya menggunakan alat berat juga. Pantauan yang kami lakukan, kejadian tanah ambrol baru terjadi di sini. Dari BBWSBS, kami biasa menyebut sungai di sini Sungai Kaligawe,” katanya. 

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten