Hasil Verifikasi Sensus Penduduk Sragen: Jumlah Kaum Hawa Lebih Dominan
Kepala BPS Sragen Toga Hamonangan (kiri) saat berdialog dengan Sarikem, 110, dan Kepala Desa Jatitengah, Sukodono, Sadi, saat verifikasi data penduduk di Dukuh Lemah Ireng RT 005, Jatitengah, Sukodono, Sragen, Senin (21/9/2020). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sragen, Jawa Tengajhh melakukan verifikasi data penduduk setelah melakukan sensus penduduk selama 15 hari pada 1-15 September 2020. Verifikasi data penduduk hasil sensus dilakukan selama sebulan untuk melihat sebaran penduduk.

Hasil sementara sensus penduduk dengan melibatkan 696 petugas sensus dan 56 orang koordinator sensus kecamatan (koseka) ternyata jumlah penduduk perempuan lebih dominan daripada laki-laki.

Penjelasan itu disampaikan Kepala BPS Sragen Toga Hamonangan saat ditemui Solopos.com di sela-sela verifikasi data penduduk di rumah yang ditinggali Mbah Sarikem, perempuan tertua di Sragen dengan umur 110 tahun, tepatnya di Dukuh Lemah Ireng RT 005, Desa Jatitengah, Sukodono, Sragen, Senin (21/9/2020).

Dalam verifikasi faktual tersebut, Toga mendengarkan penjelasan Sarikem yang ditanyai perangkat desa yang jawabannya memang menunjukkan keterangan di kartu tanda penduduk (KTP) elektronik bahwa Sarikem lahir 5 Februari 1910 silam. Dalam verifikasi itu, Toga didampingi Koordinator Sensus Kecamatan Sukodono Juli Kusmanto dan petugas sensus Tutik Ernawati.

Kisah Unik Pria Trucuk Klaten yang Tinggal di Makam: Pernah Berjaya Jadi Dukun Togel

"Sensus penduduk 2020 ini hanya 15 hari sehingga kami bekerja maraton. Dalam sensus itu yang didata keberadaan penduduk, jenis kelamin, tempat domisili sesuai dengan KTP elektronik, sehingga diketahui data penduduk secara de facto dan de jure. Keberadaan mereka ini penting karena bisa saja penduduk dari luar Sragen yang tinggal sementara di Sragen. Keberdaaan penduduk ini untuk melihat sebaran penduduknya," jelas Toga.

Dia menjelaskan setelah sensus atau pendataan penduduk di Sragen selesai, maka masuk ke tahapan verifikasi lalu olah cepat pada akhir tahun ini dan publikasi di 2021. Setelah itu, Toga mengatakan BPS akan melakukan survei lagi untuk mengetahui wilayah, kondisi perumahan, sosial ekonomi, dan seterusnya.

Tak Mungkin Wawancara

Dia mengatakan dalam sensus penduduk tidak memungkinkan wawancara sehingga untuk memastikan data penduduk yang diperoleh dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) cukup dengan mendatangi ketua RT setempat.

"Komunikasi dengan ketua RT itu untuk memastikan adanya pendatang baru, meninggal dunia, dan pindah domisili. Wabah Covid-19 juga sempat menganggu ketika di suatu daerah ada kasus terkonfirmasi positif Covid. Ketika seperti itu ada kebijakan tidak dari rumah ke rumah tetapi cukup berkomunikasi dengan ketua RT," ujarnya.

Toga memastikan seluruh petugas sensus yang terlibat sebanyak 752 orang itu sempat rapid test bersama untuk pencegahan Covid-19 dan ternyata semua non rekatif. Jumlah penduduk hasil sensus ini bisa menjadi pendukung atau pertimbangan dalam pengambilan kebijakan di daerah.

Jahanam! Cabuli Bayi 6 Bulan, Pedofil Ini Sebar Video Aksi Bejatnya Lewat FB

Selain itu, Toga mengatakan hasil sensus juga bisa mengetahui sebaran penduduk serta karakteristik penduduk di Sragen, seperti penduduk di utara dan selatan Bengawan Solo itu berbeda.

Koseka Sukodono Juli Kusmanto menyampaikan koseka itu terbagi dalam dua jenis, yakni koseka organik yang juga petugas BPS Sragen dan koseka mitra.

"Petugas mudah mendata ketika mendatangi ketua RT karena saat di pedesaan itu ketua RT mengenal warganya. Berbeda dengan di kota yang kemungkinan ada RT yang belum mengetahui warganya," ujarnya.

Petugas Sensus Penduduk Lemah Ireng, Sukodono, Tutik Ernawati, sempat menghadapi kendala di lapangan ketika mendatang rumah warga tetapi kosong. Tutik pun akhirnya bekerja pada siang hari agar bisa bertemu dengan warga yang dituju.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom