Ilustrasi logo Google Play Store (Youtube)

Solopos.com, SOLO – Suatu hasil penelitian yang dilakukan selama dua tahun terakhir menemukan sekitar 2.040 aplikasi digital di Google Play Store berbahaya. Beberapa aplikasi smartphone tersebut dilengkapi surat izin yang mencurigakan. Ironisnya, sejumlah aplikasi itu cukup populer dan banyak dipakai.

Hasil penelitian yang dilakukan tim dari University of Sydney, Australia, serta Data 61 dari CSIRO menemukan sekitar satu juta aplikasi smartphone palsu memang tidak terdeteksi malware. Namun, aplikasi digital itu butuh izin untuk mengakses data yang tidak ada hubungannya dengan bisnis mereka.

Dikutip dari GSM Arena, Rabu (26/6/2019), peneliti menggunakan mesin khusus untuk menyaring aplikasi digital berbahaya di Google Play Store. Hasilnya, sekitar 7.246 aplikasi smartphone ditandai sebagai kategori berbahaya. Sementara 2.040 di antaranya dinyatakan palsu dan berisiko tinggi.

Peneliti juga menemukan 1.565 aplikasi digital yang mencurigakan. Selanjutnya, ada 1.407 aplikasi smartphone yang tidak nyaman dipakai karena terlalu banyak menampilkan iklan dari pihak ketiga. Berbagai aplikasi yang dilaporkan dalam hasil penelitian tersebut kini telah dihapus oleh tim Google.

Google menyebut laporan tentang aplikasi yang ditolak meningkat sekitar 55 persen dibandingkan 2018 lalu. Sementara jumlah aplikasi yang ditangguhkan juga meningkat, menjadi 66 persen. Sayangnya, Google tidak memperinci aplikasi mana saja yang masuk kategori berbahaya  tersebut.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten