Djoko Subinarto/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Di sejumlah negara, Buy Nothing Day alias Hari Tanpa Belanja digelar pada Sabtu terakhir November setiap tahun. Untuk apa? ”Saya bebelanja, karena itu saya ada” adalah ungkapan sangat pas untuk menggambarkan kehidupan masyarakat modern dewasa ini.

Mungkin karena saking pentingnya aktivitas berbelanja saat ini, sebagian orang bahkan mengungkapkan sebagai to shop or to die, berbelanja atau mati. Suka atau tidak, kita semua sekarang sesungguhnya telah masuk ke dalam lingkaran budaya konsumerisme sekaligus telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya itu.

Dalam dunia konsumsi, kesenangan, kepuasan, dan kebahagiaan hidup ditentukan oleh seberapa banyak barang yang kita miliki dan seberapa banyak barang yang kita konsumsi.

Budaya konsumerisme mengggiring kita pada keyakinan bahwa hidup ini adalah untuk membeli dan memiliki aneka barang, meski barang-barang itu belum tentu kita butuhkan. Dengan pemahaman seperti ini, keberadaan seseorang sangat ditentukan oleh apa yang dimiliki dan oleh apa yang dipakai.

Budaya konsumerisme menempatkan barang-barang bukan pada fungsi dan manfaatnya, melainkan pada bagaimana barang-barang itu mengerek citra, mengatrol status sosial, serta mendongkrak gengsi para pemakainya.

Budaya konsumerisme tidak mementingkan substansi. Yang ditekankan adalah kemasan. Karena itulah, yang sangat diagungkan para penganut budaya konsumerisme adalah penampilan, bukan isi. Karya, kreativitas dan budaya kerja keras menjadi tidak terlalu penting bagi mereka.

Ekonom dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, dan penulis buku The Overspent American: Why We Want What We Don’t Need (1997), Juliet Schorr, berpendapat adagium uang tidak akan mampu membeli kebahagiaan telah benar-benar dilupakan.

Menurut Schorr, konsumerisme baru menegaskan kebahagiaan justru hanya bisa kita capai jika kita semakin banyak membelanjakan uang dan semakin banyak memiliki barang-barang: rumah mewah, mobil mentereng, gawai mutakhir, perabotan luks, pakaian bermerek, dan sebagainya.

Kesuksesan orang kebanyakan diukur dengan uang dan harta yang dimiliki. Dalam upaya memenuhi pencapaian tersebut, kencenderungan orang saat ini akhirnya berada pada dua pilihan saja: mencari uang dan menghabiskan uang.

Tidak Semua Bisa Dibeli dengan Uang

Hidup akhirnya seolah-olah hanya untuk mencari uang dan bagaimana menghabiskan uang itu, padahal nyatanya tidak semua bisa dibeli dengan uang. Meski demikian, toh semakin banyak orang menempuh berbagai upaya demi mendapatkan uang lebih banyak dan membelanjakan lebih banyak lagi.

Salah satunya adalah lewat jalan pintas menerabas, yaitu dengan memanfaatkan jabatan dan kekuasaan untuk melakukan korupsi, seperti yang marak terjadi di negeri ini. Dengan hasil korupsi itulah mereka berupaya memuaskan hasrat konsumtif mereka.

Jika kita cermati, selain akibat gelombang reklame yang demikian dahsyat menerpa kita setiap hari lewat paparan berbagai jenis media, termasuk media sosial, aktivitas berbelanja masyarakat modern juga dipicu oleh beberapa faktor berikut.

Pertama, tidak sedikit orang kini berbelanja berbagai barang untuk maksud pamer dan membanggakan diri mereka di depan orang lain. Barang-barang yang mereka beli dan mereka miliki menjadi alat pendongkrak rasa bangga dan percaya diri mereka.

Kedua, semakin banyak saja anggota masyarakat kita yang tidak mampu menunda hasrat konsumtif mereka. Dipermudah dengan fasilitas pembayaran lewat kartu kredit, mereka menyalurkan hasrat konsumtif tanpa mempertimbangkan fungsi dan kegunaan barang-barang yang mereka beli.

Ketiga, berbagai fantasi bergentanyangan di benak kita terkait barang-barang tertentu. Dengan berbelanja dan memiliki barang-barang tersebut, fantasi-fantasi itu kemudian diwujudkan sehingga medatangkan sejumlah kepuasan semu.

Keempat, para produsen, lewat bantuan media, mengembuskan keyakinan bahwa merek serta model termutakhir barang-barang yang mereka produksi adalah hal yang harus dimiliki sebagai penanda kemajuan dan keberhasilan pribadi.

Puasa Belanja

Semakin giatnya masyarakat urban memperturutkan hasrat konsumtif mereka mendorong sejumlah aktivis sosial menggelar secara rutin acara yang di Barat disebut sebagai Buy Nothing Day atau Hari Tanpa Belanja setiap Sabtu terakhir November.

Seniman asal Kanada Ted Dave dan sebuah lembaga nirlaba prolingkungan dan antikonsumtivisme Adbuster yang memelopori Hari Tanpa Belanja kali pertama pada 1993, di Vancouver, Kanada.  Sejak itu, Hari Tanpa Belanja rutin digelar di berbagai negara.

Pada intinya tujuan Hari Tanpa Belanja bukan sekadar agar kita mau berpuasa belanja sehari dalam setahun, namun lebih pada gerakan penyadaran diri kita agar lebih bijak dalam membelanjakan uang yang kita miliki sehingga kita hanya melakukan aktivitas belanja atas dorongan kebutuhan, bukan atas dorongan keinginan.

Lembaga-lembaga antikonsumerisme dan para aktivis sosial yang giat mengampanyekan Hari Tanpa Belanja senantiasa merasa yakin bahwa dengan semakin sedikit kita mengonsumsi bukan hanya semakin baik bagi diri kita, tetapi juga semakin baik bagi alam dan lingkungan.

Semakin banyak yang kita mengonsumsi, semakin banyak sumber daya yang harus dieksploitasi dan semakin banyak pula sampah yang kita hasilkan. Semua ini pada akhirnya akan berujung semakin terdegradasinya alam dan lingkungan sekitar kita.

Sayang,  di Indonesia hingga saat ini kampanye Hari Tanpa Belanja ini masih kurang terdengar. Sebagai negara tempat sebagian besar warganya sangat konsumtif dan kurang rasional dalam berbelanja, Hari Tanpa Belanja sesungguhnya merupakan upaya penting untuk menyadarkan masyarakat negeri ini agar bisa lebih bijak mengelola keuangan dan lebih mampu mengendalikan hasrat konsumtif mereka.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten