Tutup Iklan
Warga membuktikan hari tanpa bayangan di Alun-Alun Kota Purwokerto (Antara-Wuryanti Puspitasari)

Solopos.com, PURWOKERTO — Hari tanpa bayangan membikin penasaran warga kota-kota yang dilintasi fenomena alam tersebut. Tak terkecuali di Purwokerto, ibu kota Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Sejumlah warga Purwokerto, Sabtu (12/10/2019) siang, tampak mencoba membuktikan fenomena kulminasi utama atau yang dikenal dengan sebutan hari tanpa bayangan. Berdasarkan pantauan Kantor Berita Antara di sekitar Alun-Alun Kota Purwokerto, beberapa orang memotret benda-benda atau dirinya sendiri demi mengabadikan fenomena alam itu.

Putri Hapsari, 24, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto mengaku sengaja mendatangi Alun-Alun Kota Purwokerto demi membuktikan fenomena alam tersebut. "Saya sengaja datang ke Alun-Alun Purwokerto untuk membuktikan fenomena hari tanpa bayangan, memang terbukti tidak ada bayangan," katanya.

Sementara itu, Ajeng Puspita Priantana, 23, yang juga merupakan mahasiswa S2 Unsoed Purwokerto juga mengatakan dirinya sengaja mendatangi Alun-Alun Kota Purwokerto untuk membuktikan fenomena hari tanpa bayangan. "Ternyata menarik juga bisa menikmati fenomena hari tanpa bayangan," katanya.

Sementara itu, Yudi Apriyanto, 36, warga Jl. dr Angka, Purwokerto, mengatakan dirinya juga sengaja mendatangi Alun-Alun Kota Purwokerto untuk membuktikan hari tanpa bayangan itu. "Ternyata benar seperti apa yang saya baca di medsos mengenai hari tanpa bayangan," katanya.

Kendati demikian, ada juga warga yang mengaku tidak mengetahui mengenai fenomena alam hari tanpa bayangan. Agus Dwi Santoso, 35, warga Pasir Muncang, Purwokerto, mengatakan dirinya tidak mengetahui tentang fenomena hari tanpa bayangan tersebut.

"Saya beberapa hari ini kurang memantau medsos dan portal berita jadi tidak tahu, saya tahunya malah hari tanpa bayangan mantan kekasih," katanya seraya berkelakar.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa waktu terjadinya kulminasi utama di Jawa Tengah bervariasi, mulai 11 Oktober hingga 13 Oktober 2019. Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara (BMKG Banjarnegara) Setyoajie Prayoedhie menjelaskan hari tanpa bayangan atau transit atau istiwa' adalah fenomena alam ketika Matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit.

"Saat deklinasi Matahari sama dengan lintang pengamat, fenomenanya disebut sebagai kulminasi utama. Pada saat itu, Matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat atau di titik zenit," katanya.

Akibatnya, kata dia, bayangan benda tegak akan terlihat "menghilang" karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. "Penyebab hari tanpa bayangan terjadi karena bidang ekuator Bumi bidang rotasi Bumi tidak tepat berimpit dengan bidang ekliptika atau bidang revolusi Bumi," katanya.

Dengan demikian, kata dia, posisi Matahari dari Bumi akan terlihat berubah terus sepanjang tahun antara 23,5o Lintang Utara hingga 23,5o Lintang Selatan. "Untuk wilayah Salatiga, Ungaran, Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan sekitarnya fenomena tersebut dinikmati warga setempat pada 12 Oktober 2019," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten