Khoiri, pedagang kuliner daging kambing tengah melayani pembeli di warungnya di kawasan Kota Lama, Semarang, Senin (12/8/2019). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Solopos.com, SEMARANG — -pranowo-berkurban-sapi-limosin-15-ton-di-masjid-baiturrahman" title="Ganjar Pranowo Berkurban Sapi Limosin 1,5 Ton di Masjid Baiturrahman">Hari Raya Iduladha atau yang kerap disebut Hari Raya Kurban ditandai dengan pembagian daging hewan kurban kepada masyarakat. Hal itu membuat stok daging kambing atau sapi yang diperoleh masyarakat berlimpah. Warga pun memilih mengolah daging yang diterima dan enggan jajan ke warung.

Kondisi itu pun membuat omzet sebagian pedagang kuliner daging kambing menurun. Tak terkecuali pedagang-kopi-jawa-lengkapi-dieng-culture-festival" title="Festival Kopi Jawa Lengkapi Dieng Culture Festival"> kuliner daging kambing di Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Salah seorang pedagang kuliner daging kambing di Semarang, Khoiri, mengaku omzetnya menurun drastis selama hari raya Iduladha. Kondisi itu pun biasanya terjadi selama sepekan pasca-hari raya kurban.

"Sudah biasa. Kalau pas hari raya kurban turun [omzet]. Paling turun selama sepekan setelah Iduladha," ujar Khoiri saat dijumpai Semarangpos.com di kawasan Kota Lama Semarang, Senin (12/8/2019).

Khoiri yang saban hari berjualan di Warung Gule Bustaman Pak Sabar mengaku biasanya mampu menghabiskan sekitar 20 kilogram (kg) daging kambing. Namun saat perayaan hari raya kurban, jumlah daging kambing yang dijajakan pun menurun hingga 50%, sekitar 10-15 kg.

"Kalau pas Iduladha kita bawa daging itu sekitar 10-15 kg setiap harinya. Itu pun belum tentu habis. Kalau hari biasa kadang bawa 20-25 kg juga kurang," imbuh pria yang tinggal di Kampung Bustaman, Semarang Utara itu.

Khoiri menambahkan seporsi gulai Bustaman dijual dengan harga Rp30.000. -gule-bustaman-kuliner-daging-kambing-khas-semarang" title="Menikmati Gule Bustaman, Kuliner Daging Kambing Khas Semarang">Gulai Bustaman memiliki keunikan dibanding gulai-gulai lain yang biasa dijajakan di warung kuliner daging kambing pada umumnya.

Gulai khas Bustaman dibuat tanpa dicampur santan atau air perasan kelapa. Gulai khas Kota Semarang itu dibuat dari campuran rempah, seperti kapulaga, jintan, kayu manis, dan lain-lain.

Selain itu, gulai khas Bustaman juga dibuat dengan campuran parutan kelapa yang telah digoreng atau srondeng serta minyak kelapa.

"Kalau pakai santan kan masakannya jadi enggak tahan lama. Kalau gulai buatan kami bisa tahan sampai dua hari dan enggak basi. Bahkan, seringkali ada wisatawan yang beli untuk dibawa pulang ke daerah asal, seperti Jakarta," tutur Khoiri.

">KLIK dan ">LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten