Ilustrasi R.A. Kartini (JIBI/Solopos/Dok.)

Ilustrasi (JIBI/SOLOPOS/dok)
Sosok Kartini selalu menyisakan sejuta inspirasi bagi kaum wanita Indonesia. Meski sosoknya telah lama pergi, semangat dan tekad perjuangannya untuk mengumandangkan emansipasi masih terpatri dalam sanubari masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, sejuta harapan serta doa bagi Sang Pelopor Emansipasi terus mengalir di bumi Ibu Pertiwi. Seperti yang dituliskan ratusan pengunjung car free day (CFD) dalam surat-surat kecil untuk Kartini. Doa dan harapan itu mereka tempelkan pada sebuah patung RA Kartini setinggi lebih kurang dua meter yang berdiri anggun di bawah jembatan penyeberangan Sriwedari Jl Slamet Riyadi, Minggu (21/4/2013).

Bukan hanya kaum hawa yang antusias menyelipkan doa untuk Ibu Kartini, sejumlah pria pun turut serta menuliskan harapan bagi kemajuan wanita Indonesia. Beraneka ragam tulisan yang tertempel di sekujur tubuh patung Ibu Kartini itu. Ada yang sekadar mengucapkan selamat Hari Kartini, ada pula sanjungan atas terlaksananya emansipasi.

“Selamat Hari Kartini, semoga wanita Indonesia tambah cantik.” Unik sekaligus menggelitik, setidaknya demikanlah bunyi sebuah surat kecil untuk para Kartini masa kini yang ditempel oleh seorang pemuda. Di sekitar tulisan itu, ratusan surat lain tertempel berdesakan. Beberapa surat bahkan bertuliskan harapan pelajar yang ingin lulus ujian nasional (UN).

Seorang pengunjung CFD, Roro Handayani, beserta kedua putrinya, Sekar Paramesti dan Kana Risti, tak ketinggalan menuliskan sepucuk surat bagi Kartini. “Ya kami cuma ucapkan Happy Kartini’s Day, semoga wanita Indonesia semakin maju,” ujar dia kepada Solopos.com sembari menempelkan surat di lengan patung Kartini.

Koordinator kegiatan sekaligus anggota Komunitas Seni Batik Kita (Sebasita), Ian Rus Haryanto, menerangkan patung tersebut sengaja dibuat untuk memperingati Hari Kartini. Mereka mencoba menghadirkan kembali sosok Kartini dalam karya seni.

Patung yang terbuat dari kerangka bambu berbalut kain batik dan karton tersebut disiapkan khusus sebagai media penempelan surat emansipasi. Konsep kegiatan tersebut diilhami dari kebiasan Kartini menuliskan surat kepada Nyonya Abendanon. “Melalui surat kecil itu, Kartini menyampaikan harapannya yang mampu mengubah dunia. Hari ini kami mengajak masyarakat menuliskan harapan mereka untuk mengubah dunia, seperti yang dilakukan Kartini,” urai Ian.

Setelah dipajang di CFD, patung bertempelkan ratusan surat tersebut akan diboyong ke ruang pamer Prodi Seni Batik, Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Ian berharap, melalui patung dan surat-surat kecil tersebut, masyarakat akan selalu menyimpan semangan perjuangan Kartini untuk kemajuan kaum wanita.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten