HARI DONGENG : Kemendikbud Tetapkan 28 November Hari Dongeng Nasional
Anies Baswedan saat masih menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), di Bantul, DI. Yogyakarta, Senin (04/05/2015). (JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto)

Hari Dongeng, penetapan hari dongeng untuk mengenang Suyadi atau Pak Raden.

Solopos.com, JAKARTA--Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menetapkan 28 November sebagai Hari Dongeng Nasional. Penetapan itu dilakukan atas inisiatif masyarakat untuk mengenang kelahiran Suyadi atau Pak Raden.

Mendikbud Anies Baswedan mengatakan Pak Raden adalah sosok multitalenta, yang tak hanya pintar mendongeng, namun juga melukis. Kekuatan terbesarnya adalah rasa cintanya yang tak hingga pada anak-anak. Tidak ada satupun pendongeng modern Indonesia yang tidak mengidolakan dan meneladani Pak Raden. Karena itu, katanya, masyarakat Indonesia merasa sangat kehilangan ketika mendengar kabar berpulangnya Pak Raden.

"Menjadikan hari kelahirannya sebagai Hari Dongeng Nasional artinya kita memastikan legasi, keteladanan dan pesan-pesannya akan terus kita kenang setiap tahunnya. Maka dari itu saya mengapresiasi inisiatif untuk deklarasi 28 November, hari kelahiran Pak Raden, sebagai Hari Dongeng Nasional oleh berbagai komunitas dongeng dan kami akan memikirkan dukungan-dukungan apa yang bisa kami berikan lebih jauh pada tahun-tahun ke depan," ujar Mendikbud saat acara Deklarasi Hari Dongeng Nasional di Perpustakaan Kemendikbud, seperti dilansir laman resmi Kemdikbud.go.id, Sabtu (28/11/2015).

Mendikbud menambahkan manusia adalah makhluk naratif, sehingga bercerita dan mendengarkan cerita adalah sesuatu yang tertanam begitu dalam di dalam diri manusia, dansesuatu yang disukai secara alami. Ada teori yang mengatakan bahwa bercerita dan mendongeng bisa jadi adalah salah satu alasan munculnya bahasa pertama kali.

Bercerita dan mendongeng adalah perekat komunitas manusia sejak ribuan tahun lalu. Bercerita dan mendongeng juga merupakan bentuk tertua dari mengajar, mendahului menulis dan membaca.

"Ada banyak sekali kelompok-kelompok kebudayaan manusia yang buta huruf, mungkin hingga sekarang, tetapi tidak ada satupun kelompok kebudayaan manusia yang tidak memiliki cerita dan dongeng," tutur Mendikbud. Namun, lanjutnya, saat ini ada kecenderungan penurunan penggunaan dongeng dan cerita di kelas-kelas dan bahkan mungkin di rumah-rumah.

Ia juga mengapresiasi inisiatif masyarakat untuk menghidupkan kembali penggunaan dongeng dan cerita dalam pembimbingan tumbuh kembang anak-anak.  Para pegiat dongeng di Indonesia berkumpul di berbagai wilayah dan secara bersama ingin mengangkat momen Hari Dongeng Nasional sebagai perayaan suka cita cerita untuk merayakan dongeng.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho