Hari Batik di Tengah Pamdemi, Pengusaha Sragen Obral Dagangan
Sejumlah pegawai negeri sipil (PNS) dan warga memilah-milah baju batik sesuai selera yang dijual dengan model bazaar di teras depan show room Batik Windasari, Kliwonan, Masaran, Sragen, Kamis (1/10/2020). (Solopos-Tri Rahayu)

Solopos.com, JAKARTA — Belasan pegawai berseragam Korpri memadati teras depan show room BatiK Windasari di Kliwonan, Masaran, Sragen, Kamis (1/10/2020). Mereka memilah-milah kain batik yang diobral di meja yang disiapkan.

Mereka memilih baju batik dengan berbagai motif dan membayarnya dengan harga Rp50.000-Rp100.000/potong. Bahkan masih ada yang menawar dengan harga di bawah harga yang dibanderol pada setiap potongnya.

“Bu, yang ini Rp65.000 saja ya,” celetuk salah seorang pembeli kepada Wiwin Muji Lestari, 43, pemilik show room Batik Windasari itu. Keesokan harinya,  Jumat (2/10/2020), adalah Hari Batik Nasional yang dirayakan setiap tahun. Bedanya, pada tahun ini, Hari Batik Nasional dirayakan di tengah pandemi Covid-19.

Sumber Daya Smart City Tak Ampuh Atasi Corona, Ini Sebabnya…

Tanpa berpikir panjang, Wiwin pun mengiyakan tawaran itu. Wiwin sengaja menjual baju batik dengan sistem bazaar bukan untuk mencari keuntungan pribadi. Hasil penjualan itu diwakafkan untuk membeli tanah seluas 1.599 m2 yang akan digunakan untuk pembangunan Islamic Center.

Animo masyarakat untuk membeli batik relatif tinggi. Bazaar tersebut akan dibuka selama empat hari, Kamis-Minggu (1-4/10/2020). Fenomena bazaar tersebut menjadi solusi alternatif untuk membangkitkan ekonomi di Kampung Batik di wilayah Masaran dan Plupuh yang terdampak wabah Covid-19.

“Solusi untuk membangkitkan pengusaha batik dan pekerjanya yang terdampak Covid-19 itu hanya dengan membuka akses perdagangan batik itu sendiri. Selama ini batik dari Kliwonan ini lari ke pasar Solo, Surabaya, Jakarta, Bandung, dan sekitarnya. Selama akses perdagangan ke lokasi-lokasi itu dibuka maka dengan sendirinya pengusaha batik di Kliwonan bisa tumbuh lagi,” jelas Kepala Desa Kliwonan, Masaran, Aswanda, saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis siang.

Kencangkan Organ Kewanitaan Pakai Suntik Stem Cell sedang Tren

Aswanda melihat kebijakan pembukaan akses perdagangan batik itu hanya bisa dilakukan pemerintah pusat karena kebijakannya berlaku secara nasional. Ia menyampaikan para pengusaha batik di Kliwonan sempat terhenti selama hampir enam bulan dan sejak dua bulan terakhir mulai bangkit setelah ada pembeli.

Kaur Perencanaan Desa Kliwonan, Masaran, Joko Suyanto, menyampaikan jumlah pengusaha batik di Kliwonan sebanyak 18 orang dengan jumlah tenaga kerja mencapai 700-an orang. Dari sekian pengusaha itu, Joko menyebut 60% di antaranya terkena dampak Covid-19 sehingga sebanyak 420 orang tenaga kerja di antaranya dirumahkan.  “Para pengusaha batik itu sudah 80% tidak bisa beproses. Kami berharap Covid-19 ini bisa segera selesai,” ujarnya.

Pengusaha Batik Masaran

Ketua Komisi IV DPRD Sragen yang juga pengusaha batik asal Pilang, Masaran, Sragen, Sugiyamto, pun menyampaikan solusi bagi para pengusaha batik di Masaran itu adalah adanya pihak ketiga yang membantu dalam pemasaran dan tersediaan pasar batik. Apabila solusi dalam bentuk bantuan modal, kata dia, akan sulit. Dia menyebut ada program bantuan dari pemerintah pusat berupa stimulant modal usaha sampai Rp100 juta tetapi persyaratan sulit.

Peneliti China Sebut Radiasi Bulan 200 Kali Bumi, Apa Manfaatnya?

“Bantuan itu bernama Bantuan Insentif Pemerintah (BIP). Persyaratannya harus berbadan hukum, PT, koperasi atau yayasan/perkumpulan. Kemudian membuat rencana anggaran biaya (RAB) maksimal Rp100 juta. Alokasi bantuan itu sebenarnya relatif kecil karena seoang pengusaha batik itu setidaknya membutuhkan modal dobel, sampai Rp1 miliar,” jelasnya.

Sugiyamto menyampaikan banyak pengusaha di Pilang, Masaran, Sragen, yang memiliki utang karena giro dan cek yang selama ini dijadikan alat transaksi dalam pembelian batik berskala besar sampai sekarang masih ditunda pencairannya oleh pedagang.

Sebenarnya, barang yang dititipkan ke pedagang itu bisa ditarik tetapi pengusaha batik khawatir bila kehilangan pelanggan pedagang. “Utang para pengusaha batik se-Desa Pilang itu tidak sekadar Rp3 miliar tetapi bisa tembus Rp15 miliar ke atas,” katanya.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom