Harga Tembus Rp300.000/Kg, Pantas Porang Jadi Idola Petani Wonogiri
Lahan porang milik warga Desa Ngambarsari, Kecamatan Karangtengah, Wonogiri, Supriyanto. (Istimewa)

Solopos.com, WONOGIRI – Tanaman porang menjadi idola para petani di Wonogiri, Jawa Tengah. Belakangan ini para petani di Kecamatan Karangtengah, Wonogiri, giat bereksperimen membudidayakan tanaman tersebut.

Padahal, dulunya umbi-umbian ini yang biasa tumbuh liar di pekarangan rumah itu kerap diabaikan dan dianggap tidak berguna. Bahkan, porang sering kali dianggap sebagai makanan ular.

Padahal, tepung hasil olahan umbi porang ternyata laku dijual di pasar ekspor negara Jepang, China, Taiwan, hingga Korea.

Dikutip dari situs Pertanian.go.id, Selasa (23/2/2021), tanaman porang merupakan jenis umbi-umbian yang dikenal dengan nama “iles-iles“. Porang termasuk ke dalam spesies Amorphophallus muelleri.

Baca juga: Proyek Rel Layang Joglo: Diusulkan Rudy, Digagas Gibran di Debat Pilkada, Direstui Menteri Basuki

Budidaya Porang Wonogiri

Tanaman porang kini mulai banyak dibudidayakan di Wonogiri, Jawa Tengah. Dihimpun dari berbagai sumber, awalnya bibit porang banyak didapatkan dari hutan di Jatiroto dan Kismantoro yang tumbuh liar.

Dikutip dari Jeda.id, sekitar 1 hektare lahan bisa ditanami 40.000 bibit porang. Petani membutuhkan modal sekitar Rp100 juta untuk membeli bibit dan biaya pemupukan hingga perawatan. Modal tersebut dinilai cukup hingga waktunya panen dua tahun kemudian.

Baca juga: Pedagang Pasar Gede dan Klewer Solo Divaksin Covid-19 Akhir Februari 2021

Selama ini, tanaman porang rata-rata tumbuh di bawah naungan pohon lain. Hal itu yang membuat masa tanam porang menjadi lebih lama hingga tiga tahun. Petani kemudian merubah pola tanam konvensional dengan membuat revolusi tanam baru.

Dengan pola tanam baru, petani bisa panen 70 ton porang di lahan satu hektar. Padahal sebelumnya, satu hektar hanya menghasilkan sembilan ton. Selain itu masa panen porang yang awalnya 3 tahun dipangkas menjadi enam bulan.

Baca juga: Maling Bobol Toko di Ngadirojo Wonogiri, Obat Pertanian hingga Uang Jutaan Rupiah Digondol

Harga Porang

Pertanian.go.id menulis, tanaman porang memiliki nilai strategis untuk dikembangkan, karena punya peluang yang cukup besar untuk diekspor. Berdasarkan hasil penelusuran terkait budidaya porang, diketahui bahwa 80 persen untuk makanan dan 20 persen untuk kosmetik.

Harga umbi porang basah berkisar antara Rp4.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Ketika sudah dikeringkan atau menjadi chip, maka harganya berkisar Rp55.000 hingga Rp65.000 per kilogram.

Selain umbi, harga katak porang juga cukup tinggi. Katak porang adalah buah yang tumbuh di antara batang tanaman porang yang bisa dijadikan bibit. Harga per kilogram katak porang ini bisa mencapai Rp180.000.

Masa tanam tanaman porang cukup lama. Umbi porang bisa dipanen setelah berusia dua tahun. Umbi porang ini bisa diolah menjadi tepung yang harganya mencapai Rp300.000 per kilogram.

Baca juga: Alasan Janda di Blitar Jual Kafe Bonus Istri, Bosan Jomblo!

Tepung Porang

Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, termasuk salah satu sentra pengolahan tepung porang di Indonesia bersama dengan wilayah Madiun (Jawa Timur) dan Bandung (Jawa Barat).

Tepung porang hasil produksi Kecamatan Karangtengah, Wonogiri, bahkan menjadi salah satu komoditas ekspor yang dijual ke pasar Jepang, Hongkong, dan Korea. Sayangnya, bahan baku masih sangat minim, padahal produk olahan tepung porang ini memiliki pasar ekspor yang luas.

Baca juga: Kado Pahit di Ultah ke-6 Fauzi Sragen: Tangan Diamputasi Gegara Malapraktik

Pengolahan tepung dari umbi ini pun cukup mudah. Umbi porang yang berbentuk mirip suweg itu diiris tipis kemudian dikeringkan dan ditumbuk.

Bahan baku tepung porang itu kebanyakan masih diperoleh dari hutan yang beracun. Tetapi dengan pengolahan yang tepat umbi tersebut bisa dijadikan aneka bahan pangan.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom