Pedagang Pasar Kota Wonogiri menjaga sayuran di lapaknya di Pasar Kota Wonogiri, Senin (20/1/2020). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)

Solopos.com, WONOGIRI – Kemarau panjang selama sembilan yang terjadi di Wonogiri mengakibatkan produksi sejumlah sayuran menurun. Hal ini menyebabkan harga sayur meningkat.

Kenaikan harga sayuran itu bisa memicu inflasi. Ketika harga sayuran naik, hal itu berdampak terhadap keuangan rumah tangga.

Untuk menekan inflasi akibat kenaikan sayuran ini, rumah tangga bisa mulai mengembangkan pekarangan rumah untuk menanam setidaknya tiga jenis sayuran seperti cabai, tomat, dan terong atau sawi. Ketiga sayuran itu yang umumnya banyak dikonsumsi rumah tangga.

“Ketika orang mencukupi kebutuhan di rumahnya sendiri. Itu sebenarnya signifikan untuk menekan inflasi karena orang enggak harus beli di pasar,” kata Tenaga Harian Lepas (THL) Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (TBPP) Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri, Wahyu Tulus Nugroho, saat dihubungi Solopos.com, Senin (20/1/2020).

Namun, inisiasi menanam sayuran di pekarangan kerap terganjal dengan alasan klasik, yakni tidak sempat. Orang lebih suka menunggu penjual sayur datang menghampiri rumahnya.

Padahal, konsep bertani di pekarangan merupakan konsep bertani organik yang hasilnya selain untuk konservasi alam juga bisa meningkatkan kualitas hidup.

“PR kita semua menyadarkan semua orang untuk menanam sayur di pekarangan. Ini berdampak signifikan minimal mengurangi pengeluaran,” tutur Wahyu.

Tak hanya sayuran, krisis iklim juga mengakibatkan produktivitas buah-buahan turun. Di Beji, Wonogiri, produksi buah alpukat turun hingga 60-70 persen pada musim lalu. Kemudian, pisang turun hingga 30-40 persen dan buah naga diperkirakan turun hingga 30 persen.

“Khusus buah naga ada yang seharusnya sudah 2-3 kali berbuah, ini baru satu kali,” terang dia.

Wahyu menambahkan, bobot alpukat turun dari semula satu kilogram berisi 1-3 buah menjadi 3-5 buah. Selain ukuran kecil, warna buah pun terlihat kusam. Kejadian ini ditemui hampir di semua kecamatan di Wonogiri.

“Ini merupakan dampak kemarau panjang tahun lalu,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten