Harga minyak menguat seiring pasar saham

NEW YORK: Harga minyak mentah menguat pada Senin waktu setempat, seiring dengan kenaikan saham-saham di Wall Street, didorong oleh meningkatnya harapan pemulihan ekonomi global yang akan memicu permintaan energi, kata para dealer.

Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah jenis "light sweet" untuk pengiriman Juni, berakhir pada 54,47 dolar AS per barel, naik 1,27 dolar AS dari harga penutupan Jumat, ketika harga minyak mencatat kenaikan lebih dari dua dolar AS.

Minyak mentah "Brent North Sea" untuk pengiriman Juni bertambah 1,73 dolar AS menjadi ditutup pada 54,58 dolar AS per barel di London.

John Kilduff dari MF Global mengatakan harga minyak telah mencapai puncak dari sebuah kisaran perdagangan baru-baru ini, memperingatkan bahwa "jika momentum untuk bergerak naik tidak berhasil, di sana kemungkinan ada upaya untuk bergerak mundur kembali karena aksi ambil untung yang dapat mendorong sebuah penurunan tajam."

Harga minyak pada Senin, sejalan dengan bergairahnya pasar saham, kata Andy Lipow dari Lipow Oil Associates.

Wall Street dan pasar global lainnya terangkat oleh laporan kenaikan pada manufaktur China dan data perumahan AS yang meningkatkan harapan untuk pemulihan ekonomi global.

Para analis dari Charles Schwab & Co. mengatakan bahwa "sebuah laporan positif manufaktur di China, yang memicu sebuah rally kuat di Asia, sedang membantu perbaikan sentimen di Street dan melanjutkan argumen bahwa kondisi terburuk dari resesi global kemungkinan terlihat di belakang kaca (kaca spion)."

Indeks Pembelian Manajer (PMI) CLSA China, indikator yang dipantau seksama di ekonomi terbesar ketiga di dunia, naik tajam menjadi 50,1 pada April dari 44,8 bulan sebelumnya. Ini ekspansi pertama dalam sembilan bulan terakhir.

Pasar juga terbantu oleh laporan yang menyatakan beberapa perbaikan dalam sektor real estat yang sedang bermasalah.

Salah satu laporan menunjukkan, penjualan "pending home" (rumah yang pengurusannya belum selesai, red) di AS, naik 3,2 persen pada Maret, setelah meningkat 2,0 persen pada Februari.

Dalam perdagangan di Asia pada Senin, harga minyak menguat di tengah harapan bahwa kondisi terburuk telah berakhir untuk ekonomi global lebih baik dari kekhawatiran tentang munculnya flu babi, kata para analis.

"Ekspektasi bahwa pasar telah keluar dari posisi terbawahnya telah mengakibatkan momentum kenaikan besar pada harga," kata Ben Westmore, seorang analis energi dari National Australia Bank.

"Pada momen ini, pasar minyak dan pasar saham sangat berkaitan."

Namun, beberapa analis tidak memperkirakan sebuah rally harga minyak berkelanjutan.

James Williams dari WTRG Economics yakin harga minyak akan jatuh kembali.

"Harga dalam kisaran 30-40 dolar AS adalah mungkin. Sesuai kisaran yang terjadi sebelumnya dan konsisten dengan median harga serta melemahnya ekonomi," kata dia.

Williams mengatakan, hal itu "dapat dimengerti tapi tidak mungkin" bahwa kartel OPEC dapat memangkas produksinya cukup untuk menaikkan harga. (Antara)

Avatar
Editor:
Budi Cahyono


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom