Harga Daging Ayam Wonogiri Tembus Rp40.000 Per Kg
Daftar harga kebutuhan pokok terpampang di depan Pasar Kota Wonogiri, Jumat (28/12/2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)

Solopos.com, WONOGIRI -- Harga daging ayam potong di pasar tradisional Wonogiri menembus Rp40.000 per kilogram (kg). Harga itu jauh di atas harga biasanya yang hanya Rp32.000 per kg.

Salah satu penjual daging ayam potong di Pasar Kota Wonogiri, Meti Nurysasari, 38, mengatakan harga daging ayam per Jumat (28/12/2018) dijual Rp40.000 per kg. Harga itu naik Rp2.000 dibandng pada Kamis (27/12/2018) yang masih Rp38.000 per kg.

Sedangkan ayam kampung dijual Rp60.000 per kg, ayam petelur Rp45.000 per kg. “Hari ini naik lagi ketimbang kemarin. Kadang juga sulit buat dapat ayam,” kata dia, saat ditemui Solopos.com di Pasar Kota Wonogiri, Jumat (28/12/2018).

Harga itu lebih rendah ketimbang harga daging ayam yang ditayangkan pada running text di pintu masuk Pasar Kota Wonogiri. Dalam running text itu tertulis harga daging ayam ras Rp42.000 per kg dan harga daging ayam kampung Rp65.000 per kg.

Meti mengeluhkan kenaikan harga itu juga diikuti dengan penurunan jumlah penjualan daging ayam sehari. Biasanya, ia bisa menjual 100 ekor ayam dalam sehari.

“Harga naik terus jadi sepi pembeli,” keluh perempuan asal Kampung Cubluk, Giritirto, itu.

Hal senada disampaikan Jamilah, 52, pedagang asal Sukoharjo. Jamilah menjual daging ayam potong Rp40.000 per kg. Harga itu terus meroket sejak sepekan lebih dari semula Rp32.000 per Kg.

Akibatnya, penjualan daging ayam terus turun. Begitu pula dengan pendapatan hariannya.

“Keuntungan saya berkurang. Mau menaikkan lebih, pembeli pada lari. Sekarang saja sudah sepi. Biasanya saya bisa menjual 250 ekor ayam. Sekarang hanya bisa menjual 200 ekor ayam per hari,” tutur Jamilah.

Harga daging ayam lebih murah di Pasar Krisak, Selogiri. Harga daging ayam potong dijual Rp38.000 per kg. Kendati lebih murah, harga itu sebetulnya naik dibanding sebelumnya Rp36.000 per kg.

“Di sini lebih murah karena pembelinya juga warga sekitar sini. Kalau naik sedikit, pasti enggak laku. Lain dengan Pasar Kota yang memang ramai,” ujar penjual daging ayam Pasar Krisak, Sri Mulyani, 50.

Ia menduga kenaikan daging ayam dipicu harga pakan ayam yang terus meroket. Selama ini pasokan daging ayam kepadanya cenderung lancar.

“Kalau pasokan ada terus. Tapi harganya dari sana [pemotong] sudah naik,” tutur perempuan asal Krisak Kulon, Singodutan.

Dampak kenaikan daging ayam dirasakan Dias Yulina Hasmeri, 23, warga Kaloran, Giritirto, Wonogiri. Pemilik usaha kuliner ayam geprek ini terpaksa menaikkan harga jual ayam gepreknya Rp2.000-Rp3.000 per porsi.

Menurut dia, menaikkan harga lebih realistis ketimbang mengecilkan ukuran. “Pelanggan saya pada komplain, kok naik harganya. Tapi nanti kalau ayam turun juga saya kembalikan lagi ke harga semula,” ujar Dias.

Avatar
Editor:
Suharsih


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom