Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, dan Dirut Perum Bulog, Budi Waseso, setelah melakukan penandatanganan nota kesepahaman distribusi beras di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Kamis (22/11/2018). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Semarangpos.com, SEMARANG — Harga beras medium di pasaran yang mulai merangkak naik, membuat Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) berusaha menerapkan strategi baru. Salah satunya, yakni menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) dalam pendistribusian cadangan beras pemerintah (CBP).

Kerja sama antara Bulog dengan Pemprov Jateng itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Kamis (22/11/2018). Selain Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, dan Dirut Bulog, Budi Waseso, dalam acara itu turut hadir sejumlah kepada desa (kades) dari berbagai daerah.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, mengatakan kerja sama antara Perum Bulog dan Pemprov Jateng itu akan melahirkan operasi pasar gaya baru. Beras medium yang berasal dari Bulog akan didistribusikan secara langsung ke masyarakat desa, melalui kepala desa maupun badan usaha milik desa (Bumdes) sehingga bisa disalurkan secara tepat ke masyarakat.

“Selama ini pola ke pasar [operasi pasar] seringkali tidak efektif. Masyarakat kerap mendapat beras yang tidak sesuai mutu dan dengan harga mahal. Maka perlu kita melakukan distribusi langsung ke masyarakat, terutama di desa,” ujar ujar Ganjar saat dijumpai wartawan seusai acara penandatangan.

Senada juga diungkapkan Budi Waseso. Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) itu mengaku selama ini distribusi beras dari Bulog ke masyarakat melewati delapan tahap. Melalui cara ini, ia pun berharap bisa memutus rantai distribusi yang terkesan rumit dan kerap dimanfaatkan para tengkulak.

“Kita itu sering melakukan operasi pasar. Tapi, hasilnya enggak efektif. Beras yang sampai ke tangan masyarakat kerap berubah. Selain itu harganya lebih mahal. Semoga dengan cara ini lebih efektif, jadi operasi pasar gaya baru,” beber pria yang akrab disapa Buwas itu.

Buwas menyebutkan saat ini ada sekitar 1,2 juta ton beras medium yang merupakan CBP.  Ia pun menargetkan sekitar 700.000 ton dari seluruh CBP jenis medium itu yang bisa diserap masyarakat.

“Kalau untuk di Jateng saya menargetkan sekitar 3.000-5.000 ton per hari bisa terserap masyarakat di desa-desa. Nanti dari kepala desa tinggal melakukan pemesanan, biar dari Subdrive kami yang menyalurkan secara langsung,” imbuh Buwas.

Buwas berharap dengan konsep pendistribusian beras medium yang dikoordinasikan kepala desa, harga beras di pasaran bisa ditekan. Saat ini, harga beras medium di pasar bisa mencapai Rp9.500-Rp11.000 per kilogram.

“Padahal harga dari kami sekitar Rp8.250 per kg. Sementara, mitra Bulog menjual Rp8.500 per kg,” imbuh Buwas.

Buwas menambahkan strategi ini untuk sementara baru diterapkan di Jateng. Jateng menjadi pilot project, sebelum diterapkan ke provinsi lain.

Pemilihan Jateng sebagai pilot project tak terlepas dari keberhasilan dalam pengendalian pangan nasional yang dibuktikan melalui penghargaan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) selama tiga tahun beruntun, 2015-2017.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten