Harapan Kota Solo Bebas dari Sampah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 29 Maret 2021. Esai ini karya Mochamad Syamsiro, Direktur Center for Waste Management and Bioenergy dan dosen di Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra Yogyakarta.

 Mochamad Syamsiro (Istimewa/Dokumen pribadi)

SOLOPOS.COM - Mochamad Syamsiro (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Setelah dilantik, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka mengunjungi tempat pemrosesan akhir sampah Putri Cempo. Di lokasi tersebut akan dibangun pembangkit listrik tenaga sampah dengan teknologi yang modern dan ramah lingkungan (Solopos, 28 Februari 2021).

Ini menunjukkan komitmen yang luar biasa dari Wali Kota Solo untuk segera menyelesaikan pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah. Pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah di tempat pembuangan akhir Putri Cempo merupakan bagian dari program percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah di 12 kota besar di Indonesia.

Pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah ini berdasar Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. Pembangkit listrik tenaga sampah ini nantinya, dalam harapan masyarakat luas, berdampak seluruh sampah di Kota Solo dapat dimusnahkan di tempat tersebut.

Harapan berikutnya adalah permasalahan tumpukan sampah selama ini yang sering kali mengganggu lingkungan sekitar, baik di pemukiman, tempat pembuangan sementara, maupun di tempat pembungan akhir Putri Cempo bisa teratasi dengan baik.

Sampah dan Solusinya

Membicarakan keberadaan sampah dengan segudang permasalahannya memang tidak akan pernah habis. Eksistensi sampah sangat mengganggu lingkungan sekitar kita. Masyarakat ingin pemerintah segera mengambil tindakan untuk menyelesaikan permasalahan sampah.

Fakta menunjukkan permasalahan sampah kini sudah sampai tingkat sangat darurat, namum masyarakat juga tidak ingin terkena dampak langsung dari proses penanganan sampah tersebut. Hal ini cukup menyulitkan pemerintah karena secara umum tempat pembuanan akhir di kota-kota besar kondisinya sudah penuh.

Alternatif mencari lokasi tempat pembuangan akhir baru yang jauh dari pemukiman warga kini semakin sulit. Kalau tidak ada solusi atas keadaan darurat ini dalam waktu dekat sangat mungkin terjadi ledakan bom waktu sampah. Melihat kondisi ini pemerintah tanggap dan berupaya mencarikan solusi.

Masalah sampah, terutama di kota-kota besar, memang butuh solusi segera. Terbitlah kemudian pertauran presiden tersebut sebagai jawaban atas upaya pemusnahan sampah di kawasan perkotaan secara masal dengan teknologi termal yang ramah lingkungan sekaligus bisa menghasilkan listrik.

Ada beberapa sistem teknologi termal untuk mengubah sampah di kawasan kota menjadi energi atau listrik. Yang pertama adalah teknologi pembakaran atau insinerasi. Sampah dibakar untuk menghasilkan energi panas sebagai penggerak turbin untuk memutar generator penghasil listrik.

Teknologi pembakaran saat ini sudah sangat siap diterapkan dan banyak digunakan di beberapa negara, di antaranya yang pernah saya kunjungi yaitu di Jepang, Taiwan, dan China. Teknologi berikutnya yang lebih maju adalah yang disebut dengan gasifikasi dan pirolisis.

Gasifikasi adalah proses pembakaran dengan udara terbatas sehingga menghasilkan bahan bakar gas yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik maupun kebutuhan lainnya. Teknologi gasifikasi ini yang konon akan digunakan pada pembangkit listrik tenaga sampah di tempat pembuangan akhir Putri Cempo.

Pirolisis merupakan teknologi pemanasan sampah kota tanpa menggunakan udara di dalam prosesnya. Produk utama pirolisis adalah bahan bakar cair dan arang yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.

Tantangan Teknologi

Kendati demikian, harus diakui bahwa progres pembangunana pembangkit listrik tenaga sampah di Kota Solo dan 11 kota lainnya tidak semulus yang direncanakan. Secara umum terjadi perubahan target waktu yang seharusnya bisa lebih cepat selesai namum akhirnya harus molor.

Kota Solo termasuk yang progresnya lebih baik dibanding dengan kota-kota lainnya. Pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah di 12 kota ini merupakan yang pertama di Indonesia sehingga belum ada contoh baik ihwal kota yang sudah menerapkan teknologi tersebut.

Wajar dalam perjalanan realisasinya mengalami kendala teknis, kendala ekonomi, bahkan kendala sosial. Di sinilah perlunya pemerintah melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk para ahli dan akademisi yang kompeten di bidang pengelolaan sampah, sehingga kendala yang muncul di lapangan dapat diminimalisasi.

Kunjung Wali Kota Solo memdorong pengembang menjanjikan akan menyelesaikan pembangunan instalasi pembangkit listrik tenaga sampah pada April 2022. Tantangan kedua yang dihadapi adalah terkait biaya pengolahan sampah atau tipping fee yang biasanya muncul ketika pengoperasian pembangkit listrik tenaag sampah.

Dalam konsep pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah Putri Cempo tidak ada biaya pengolahan sampah alias nol rupiah untuk pengoperasiannya. Tentu ini sangat ditunggu-tunggu oleh para pemerhati persampahan karena menjadi terobosan yang luar biasa dari sisi teknologi.

Sejauh yang pernah saya ketahui di mancanegara, biaya pengolahan sampah menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem pembangkit listrik tenaga sampah. Pembangkit listrik tenaga sampah skala demonstrasi di Bantargebang yang dikembangkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan kapasitas seratus ton per hari membutuhkan biaya pengolahan hingga ratusan ribu rupiah per ton sampah.

Kalau ini benar-benar bisa diwujudkan di pembangkit listrik tenaga sampah Putri Cempo, akan bisa menjadi rujukan bagi kota-kota lainnya di Indonesia. Kalau biaya pengolahan sampah nol rupiah tidak terwujud, akan menjadi blunder besar bagi Kota Solo yang sejak awal mempromosikan diri sebagai lokasi pembangkit listrik tenaga sampah dengan biaya nol rupiah. Mari kita tunggu implementasinya.

Masyarakat sangat menunggu operasional pembangkit listrik tenaga sampah Putri Cempo sebagai solusi penanganan sampah di Kota Solo dan sekitarnya. Pembuktian akan ketepatan waktu pembangunan dan biaya nol rupiah sangat dinantikan karena bagaimana pun dengan biaya nol rupiah berarti juga akan mengurangi beban masyarakat dalam penanganan sampah.

Lazimnya biaya pengolahan sampah akan dibebankan kepada masyarakat sebagai penghasil utama sampah. Semoga harapan baru Kota Solo bebas dari sampah bisa segera terwujud dan berdampak pada peningkatan kualitas hidup, lingkungan, dan masyarakat.

 

 

Berita Terkait

Berita Terkini

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.

Sepekan Penuh Kejutan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 6 Agustus 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pidana Sumbangan Rp2 Tiliun dan Hoax yang Difasilitasi

Opini ini ditulis Ahmadi H. Dardiri M.H., Sekjen Pusat Studi Peraturan Perundang-undangan (PSPP) IAIN Salatiga dan Dosen Fakulutas Syariah IAIN Salatiga