Harapan dari TPA Putri Cempo

 Syamsiro (Solopos/Istimewa)

SOLOPOS.COM - Syamsiro (Solopos/Istimewa)

Kabar baik baru saja datang dari lokasi tempat pembuangan akhir sampah (TPA) Putri Cempo Solo. Baru saja dilakukan uji coba pengoperasian pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) Putri Cempo yang pembangunannya sudah dimulai sejak beberapa tahun yang lalu (Solopos, 28/06/2022). Uji coba ini dilakukan untuk memastikan mesin yang terpasang sudah beroperasi dan mengolah sampah dengan baik.

Berita ini tentunya menjadi secercah harapan bagi warga Solo ke depan sampahnya akan terkelola lebih baik dengan mengolahnya menjadi energi listrik.

PromosiBorong Penghargaan, Tokopedia Jadi Marketplace Favorit UMKM

Saat ini di TPA Putri Cempo sedang dibangun instalasi pengolah sampah menjadi energi listrik yang dikenal dengan PLTSa. Jika sudah beroperasi, PLTSa Putri Cempo akan menghasilkan listrik sebesar 5 MW sekaligus bisa memusnahkan seluruh sampah di Kota Solo. Ini menjadi sangat menarik ketika hampir semua kota besar di Indonesia sedang menghadapi persoalan penanganan tumpukan sampah yang sudah tidak bisa lagi ditampung di lokasi TPA.

Dengan begitu, Kota Solo akan bisa menjadi percontohan bagi kota-kota lainnya di Indonesia dan tentunya ini akan menjadi suatu kebanggaan bagi warga Solo.

 

Menjadi Listrik

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana bisa sampah diubah menjadi listrik? Ini yang kemudian menjadi sangat menarik untuk dijelaskan lebih lanjut agar masyarakat awam pun paham sehingga akan mendukung penuh pembangunan PLTSa ini.

Teknologi PLTSa, sebenarnya ini bukan hal yang baru di dunia. Hanya memang di Indonesia teknologi ini relatif baru, karena belum banyak yang menerapkannya. Hanya kota Surabaya yang sudah menjalankannya secara komersial.

Ada banyak teknologi yang bisa diaplikasikan untuk mengubah sampah menjadi energi listrik. Di antara teknologi tersebut, proses termal adalah yang paling efektif untuk memusnahkan sampah dalam skala besar.

Dalam proses termal, ada beberapa skema teknologi yang bisa dipilih untuk mengubah sampah kota menjadi listrik. Salah satu teknologi yang sangat populer adalah pembakaran atau insinerasi yang biasa digunakan pada PLTSa. Sampah dibakar untuk menghasilkan energi panas sebagai penggerak turbin untuk memutar generator penghasil listrik.

Dari pengamatan penulis, saat ini ada ribuan PLTSa dibangun di seluruh dunia. Maka, tidak sepatutnya kita ragu dan takut akan penerapan teknologi ini karena sudah terbukti di negara lain.

Teknologi kedua yang disebut dengan gasifikasi. Ini yang akan digunakan di Kota Solo. Gasifikasi adalah proses termal di mana sampah dicampur dengan udara atau oksigen terbatas pada suhu tinggi untuk kemudian menghasilkan gas bahan bakar atau yang lebih dikenal dengan syngas (syntetic gas). Syngas yang dihasilkan kemudian digunakan untuk menghidupkan genset dan menghasilkan listrik. Teknologi ini relatif lebih maju dibandingkan insinerator dan sedikit menghasilkan emisi udara. Emisi hanya dihasilkan dari penggunaan gas engine di mana gas buangnya akan seperti mesin diesel pada umumnya.

 

Percepatan Program

Kecepatan pembangunan PLTSa di Kota Solo ini tentunya tak terlepas dari andil pemerintah pusat yang mengeluarkan Perpres Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. Program percepatan ini melibatkan 12 kota besar termasuk Solo. Tujuan perpres ini adalah untuk menembus sekat-sekat birokrasi yang harus dilewati sehingga harapannya bisa mempercepat proses pembangunannya. Percepatan ini juga tentunya juga berkat dukungan penuh Pemkot Solo melalui Dinas Lingkungan Hidup yang berjuang tak kenal lelah hingga terwujudnya instalasi ini.

Dengan melihat perkembangan pembangunan PLTSa, secercah harapan tidak lama lagi akan menjadi kenyataan dengan beroperasinya PLTSa.

Di samping mengolah sampah baru, PLTSa ini juga didesain untuk mengolah sampah lama sehingga dalam beberapa tahun ke depan TPA Putri Cempo akan menjadi rata kembali tanpa gunungan sampah seperti saat ini.

Jauh ke depan lagi, seluruh pemerintahan di wilayah Soloraya bisa bersinergi dan berkolaborasi untuk mengolah sampahnya di PLTSa Putri Cempo sehingga akan memberikan manfaat lebih banyak bagi masyarakat di sekitar Kota Solo.

  * Opini ini ditulis oleh Mochamad Syamsiro, Direktur Center for Waste Management & Bioenergy, Dosen Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra, Yogyakarta. Tulisan ini telah dimuat di Harian Solopos, Jumat (1/7/2022).

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Espos Plus

      Langit dari Bumi di Observatorium Bosscha dan Ancaman Polusi Cahaya

      + PLUS Langit dari Bumi di Observatorium Bosscha dan Ancaman Polusi Cahaya

      Observatorium Bosscha yang berlokasi di Lembang, Jawa Barat adalah observatorium astronomi modern pertama di Asia Tenggara, yang berkatnya pengamatan langit dari bumi dapat mendukung pengembangan astrofisika dalam topik bintang, namun kini terancam polusi cahaya.

      Berita Terkini

      Kemerdekaan dan Futurologi Pembangunan

      Saat ini dunia sedang berpesta pora atas mudahnya akses informasi melalui berbagai macam media: internet, televisi, dan telepon selular yang mau tidak mau mengubah cara hidup manusia.

      Citayam dan Pemberdayaan

      Dengan hadirnya fashion week SCBD, citra kawasan Sudiman seperti sedang dikonstruksi ulang.

      APG dan Keadilan Sosial

      Perlu afirmasi untuk membuka potensi para penyandang disabilitas, dan pesta olahraga dengan konsep para games adalah wujud afirmasi itu.

      Setelah Pengampunan Berakhir

      PPS dan program pengampunan sejenis dapat menurunkan moral pembayar pajak yang akhirnya memengaruhi kepatuhan.

      Pengenalan Lingkungan Sekolah

      Terkadang siswa senior memandang rendah siswa baru, merasa sok kuasa, gila hormat, dan memiliki misi balas dendam.

      Ambiguitas Penganut Agama dalam Politik

      Pertanyaannya, apakah stigma Geertz terhadap para kaum abangan dilandasi oleh kepentingan secara politis?

      Bukan Ecek-Ecek

      Tampak jelas, Indonesia memiliki banyak "anomali positif" bila disandingkan dengan kondisi global hari-hari ini. Bukan hanya perdagangan internasional yang moncer. Kinerja investasi Indonesia dan sejumlah indikator makroekonomi lainnya juga relatif kinclong.

      Reformasi Pajak dan Pemulihan Ekonomi

      Tidak sedikit pelaku usaha yang tidak berbasis digital diuntungkan pandemi Covid-19 tetapi tidak terpantau sistem perpajakan karena informal dan menggunakan teknologi lintas negara.

      Untuk CFD yang Lebih Baik

      CFD merupakan alternatif intensifikasi kecukupan ruang terbuka olahraga khususnya bagi masyarakat perkotaan.

      Merancang Keyakinan Kelas

      Dampak dari keyakinan kelas yang dirancang dan diterapkan di sekolah adalah terwujudnya budaya positif di lingkungan sekolah.

      Nisan Sejarah Taman Siswa

      Kabar sekolah dasar negeri yang tidak mendapatkan murid baru menunjukkan jurang nyata antara masyarakat kaya dan masyarakat miskin.

      Mengendalikan Politik Dinasti

      Dalam konteks munculnya berbagai politik dinasti, masyarakat seolah-olah menormalisasi praktik tersebut.

      Bangkit dengan Koperasi dan UMKM

      Koperasi bisa bergerak di sektor pangan, pariwisata, pemenuhan kebutuhan kaum milenial, multipihak, kebutuhan sekunder, maupun produk unggulan daerah.

      Permainan Bodong di Arena Nyata

      Mereka yang mendirikan aplikasi berkedok investasi bodong menciptakan permainan dan mengeksplorasi kesenangan dasariah manusia, yang haus akan kemenangan.

      Pembuktian Pidana Cagar Budaya

      Seyogyanya, kepemilikan cagar budaya bisa langsung dikuasai oleh pemerintah sehingga memudahkan pengawasan maupun perlindungan.