“Hantu” di Remang-Remang Prostitusi Solo (Bagian I)
Ilustrasi tes darah. (Solopos-Adib Muttaqin Asfar)

Solopos.com, SOLO -- Malam-malam di kawasan timur Terminal Tirtonadi, Gilingan, Solo, kerap diwarnai ingar bingar. Musik dangdut dan orang berjoget terlihat di mulut gang, tepat di dekat sebuah taman kecil di kawasan itu. Sebagian orang menyebutnya sebagai “kompleks”.

Mbok Suti (bukan nama sebenarnya), sudah bertahun-tahun meninggalkan “gemerlap” kawasan yang identik dengan dunia remang-remang itu. Bagi perempuan yang kini berusia 64 tahun itu, menjadi pekerja seks di sana tak lagi menjanjikan mengingat fisiknya yang kian tergerus usia. Dia kalah dari perempuan-perempuan lain yang jauh lebih muda dari berbagai daerah dan mencari nafkah di tempat itu.

“Saya sudah sering mengajaknya untuk ikut VCT [voluntary counselling and testing/konseling dan tes HIV sukarela], tapi dia sering menolak,” kata Cyntia Maramis di rumahnya, sebuah kampung tak jauh dari Terminal Tirtonadi Solo, Minggu (10/11/2019) lalu.

Cyntia tahu betul seluk beluk kehidupan perempuan setempat yang menjadi pekerja seks di kampung itu. Cyntia sering mengajak para perempuan di kampung itu untuk mengikuti pemeriksaan rutin berupa tes HIV dan infeksi menular seksual (IMS). Maklum, kampung itu dinilai cukup berisiko tinggi mengingat lokasinya yang dekat dengan kawasan timur Terminal Tirtonadi.

“Saya sering bilang, 'Mbok, ayo ke Puskesmas'. Tapi dia sering cuma bilang 'ah aku sudah tahu hasilnya',” tutur Cyntia tentang Suti.

Jokowi Sebut Jiwasraya Bermasalah Selama 10 Tahun, Demokrat Tersinggung

Ketua Himpunan Waria Solo (Hiwaso) ini khawatir Suti mengidap HIV tanpa disadari. Hal ini karena pengalamannya membantu perempuan atau waria yang positif terinfeksi HIV termasuk di kampung itu, mulai dari membujuk mereka ikut pemeriksaan hingga membantu memulihkan semangat hidup mereka seusai syok mengetahui hasil tes.

Soal Suti, dia khawatir mengingat masa lalu tetangganya itu. Setelah menyingkir dari prostitusi Gilingan, Suti masih melanjutkan pekerjaannya bersama anak dan cucunya di kompleks Pasar Kembang (Sarkem), tak jauh dari Stasiun Tugu, Jogja.

Solopos.com pernah mewawancarai Suti pada 26 Desember 2012 lalu secara tertulis dengan bantuan Suwono HS, tokoh masyarakat setempat. Dia awalnya enggan melakukan wawancara, tetapi akhirnya bersedia dengan tanpa bertatap muka secara langsung.

Suti menuturkan saat itu dia setiap hari keluar rumah setiap pukul 17.00 WIB menuju Stasiun Solo Balapan untuk naik Kereta Api (KA) Prameks jurusan Stasiun Tugu. Biasanya dia pulang keesokan harinya naik kereta menuju Solo. “Kalau lagi sepi cuma dapat Rp30.000, itu masih harus bayar tiket Prameks Rp8.000 dan pajak Rp3.000,” ungkapnya saat itu.

Gelar Christmas Carol, Anies Baswedan Ungkit Larangan Takbiran Keliling Zaman Ahok

Ketika itu, empat dari enam anaknya sempat mengikuti jejaknya sebagai pekerja seks di Jogja. Kabar baiknya Suti kini telah berhenti, namun seorang anak dan cucu perempuannya masih menjajakan diri.

“Sekarang yang masih [jadi pekerja seks] itu E, anaknya; dan F cucunya, tapi kadang-kadang. E itu kadang di Stasiun Tugu, tapi sekarang di sana mereka [komunitas pekerja seks] menolak orang yang tidak mau ikut pemeriksaan [HIV dan IMS],” kata Cyntia.

Namun Cyntia tak bisa memastikan apakah keduanya selalu mengikuti tes kesehatan atau tidak karena mereka sering di luar kampung itu. Dia mengkhawatirkan banyak pekerja seks, khususnya perempuan, yang melakukan hubungan seks dengan klien mereka secara tidak aman. Ini tak lepas dari keengganan para laki-laki pelanggan untuk menggunakan kondom jika berhubungan seksual.

Mindset laki-laki pelanggan, mereka merasa kalau dengan waria harus pakai kondom, tapi dengan perempuan tidak masalah tanpa kondom,” pungkasnya.

Tertutup

Suti dan keluarganya bukan satu-satunya kisah tertutupnya para pekerja seks terhadap pemeriksaan HIV dan IMS. Hingga dalam beberapa kasus mereka melahirkan bayi akibat hubungan seks dengan para pelanggan, padahal di sisi lain mereka ternyata positif mengidap HIV/AIDS. Dampaknya, mereka tak bisa memberikan air susu ibu (ASI) bahkan terpaksa sama sekali tak sanggup mengurus si jabang bayi.

“Saya lupa kapan kejadiannya. Waktu itu pagi-pagi saya ditelepon seseorang, ada PS [pekerja seks] yang terkena razia di sebuah hotel di Kestalan, tapi dia melahirkan,” kata Dewi (bukan nama sebenarnya), Kamis (14/11/2019).

Ferdinand Demokrat Tak Setuju Desakan Anies Baswedan Mundur, Alasannya Menggemaskan

Dewi adalah mantan pekerja seks yang kini aktif menjadi relawan pendamping pekerja seks sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Solo, khususnya bagian barat. Saat insiden yang terjadi belum terlalu lama itu, dia menemukan pekerja seks tersebut (sebut saja Ema) dalam kondisi buruk.

“Infonya dia positif [HIV/AIDS], tapi kondisi detailnya dia tidak mau mengungkapkan karena tidak pernah open statusnya kepada saya,” jelas Dewi.

Seusai melahirkan, Ema sempat ditampung sementara di rumah Dewi hingga kesehatannya membaik. Dia mengaku tak sanggup merawat bayi yang baru saja dilahirkan itu dan memilih pulang ke kampung halamannya.

“Sedangkan bayinya dirawat Yayasan Lentera karena dia enggak sanggup merawat,” ujar Dewi tanpa menyebut asal usul Ema. Yayasan Lentera adalah lembaga yang menampung anak-anak dengan HIV/AIDS (ADHA) di Kota Solo.

Di luar kasus itu, Dewi menemukan banyak pekerja seks bersikap tertutup bahkan terhadap dirinya yang sudah saling mengenal. Padahal dia tahu banyak rekan-rekannya yang rawan terkena HIV karena setiap hari melayani laki-laki berbeda di hotel-hotel melati atau kamar indekos.

“Banyak sekali penolakan, mereka bilang 'aku lemu [gemuk], jadi sehat, fine-fine aja'. Padahal kalau tidak tes ya tidak akan ketahuan.”

Anggap PT RUM Sukoharjo Zalim, Warga: Jangan Bikin Rayon Lagi!

Keengganan untuk melakukan tes biasanya disebabkan ketakutan mereka jika ketahuan positif HIV. Jika diketahui positif HIV, mereka khawatir status itu membuat pelanggan tak mau mendekat, selain syok karena terjangkit salah satu virus paling mematikan. Padahal jika diketahui positif HIV, mereka bisa menjalani terapi dengan mengonsumsi antiretroviral regimens (ARVs) yang bisa didapatkan secara gratis dari Puskesmas.

Sayangnya tak semua pekerja seks menjalani proses itu. “Apalagi hasil VCT di puskesmas hanya diberikan kepada yang bersangkutan, kalau orangnya tidak cerita saya tidak tahu,” ujar perempuan 37 tahun itu.

Hal ini pula yang terjadi dalam kasus yang diungkapkan seorang sumber Solopos.com. “Ada ODHA [orang dengan HIV/AIDS], masih muda, dia diberi obat tapi enggak diminum,” kata sumber lain yang dekat dengan pekerja seks tersebut, Senin (4/11/2019).

Beberapa tahun lalu, pekerja seks ini pernah hamil dari hasil hubungan dengan laki-laki yang pernah dilayaninya. Kini perempuan tersebut diketahui kembali hamil dari hasil hubungannya dengan laki-laki lain yang belum dipastikan identitasnya.

Hantu

Di Solo, layanan pemeriksaan infeksi menular seksual (IMS), VCT, hingga tes IVA untuk mendeteksi kanker serviks, bertebaran di sejumlah tempat. Ada empat puskesmas yang bisa melayani ketiga tes itu secara gratis yaitu Puskesmas Manahan, Puskesmas Sangkrah, Puskesmas Stabelan, dan Puskesmas Kratonan.

Namun, IMS dan HIV tetap menjadi “hantu” di dunia prostitusi Solo. Dari empat kelurahan yang disebut sebagai daerah merah kesehatan reproduksi, satu di antaranya adalah Gilingan. Ini menunjukkan kawasan yang dekat lokasi prostitusi itu berisiko.

Bayi Dilahirkan di Indekos Karanganyar Diduga Idap HIV/AIDS, Pemkab Carikan Solusi

“Ada empat kelurahan yang dinilai sebagai kawasan merah dalam hal kesehatan reproduksi. Keempatnya adalah Tipes, Pajang, Kampung Sewu, dan Gilingan,” kata Koordinator Divisi Kesehatan Masyarakat Spekham Solo, Danang Wijayanto, Senin (25/11/2019).

Peta Kesehatan Reproduksi Kota Solo. (Spekham.org)

Danang memperlihatkan data hingga pemeriksaan kesehatan reproduksi di Solo. Sejak 2014 hingga 2018, ada total 1.464 perempuan yang menjalani pemeriksaan. Dari jumlah itu, 601 orang di antaranya positif mengalami IMS dan 31 orang yang terdeteksi mengidap kanker serviks fase awal. Sedangkan yang positif HIV tercatat ada 4 orang.

Peta Kesehatan Reproduksi Kota Solo yang dirilis di laman Spekham.org beberapa waktu lalu memperlihatkan hasil pemeriksaan di tiap kelurahan. Peta itu menunjukkan kawasan yang menjadi tempat atau dekat lokasi prostitusi juga memiliki angka IMS yang tinggi. Di Kestalan berdasarkan pemeriksaan 19 November 2014, dari 21 perempuan, 90% di antaranya mengidap IMS. Tak ada yang terdeteksi kanker serviks dalam pemeriksaan itu.

Sedangkan di Gilingan berdasarkan pemeriksaan pada 12 Desember 2014, angka yang didapat cukup tinggi meski persentasenya tak setinggi di Kestalan. Dari 77 orang, lebih dari 47% di antaranya positif IMS. Kawasan lain dengan temuan IMS yang tinggi dalam pemeriksaan serupa di antaranya Sewu (70% pada Oktober 2016), Sangkrah (96% pada 27-28 Mei 2015), dan Pajang (IMS 60% dan kanker serviks 3% pada 1 Desember 2015).

"Tapi kita tidak bisa menyimpulkan bahwa tingginya angka IMS di Gilingan dan Kestalan terkait prostitusi," kata Danang. "Karena di kelurahan lain seperti Sewu, di sana tinggi tapi bukan kawasan prostitusi."

Nyaris Ingin Mati! Ibu di Solo Terpapar HIV Gegara Mendiang Suami Nakal

Pemeriksaan kesehatan reproduksi secara menyeluruh di tiap kelurahan terakhir dilakukan pada 2017. Namun Spekham menyatakan data itu tak bisa dirilis data karena belum terkonfirmasi oleh data Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Selain itu, sejak 2018 pemeriksaan tidak lagi dilakukan secara mobile, tetapi dipusatkan di Puskesmas Manahan, Puskesmas Sangkrah, Puskesmas Stabelan, dan Puskesmas Kratonan.

Perubahan metode itu diiringi jumlah temuan yang berbeda. Soal IMS dan HIV, Pemkot Solo--dalam hal ini Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota Solo--hanya merilis data total sebanyak 2 penderita sifilis yang semuanya laki-laki selama 2018 dalam Profil Kesehatan Kota Surakarta.

Sedangkan soal deteksi kanker serviks, data Dinas Kesehatan Kota Solo yang dihimpun dari empat puskesmas tersebut menunjukkan 28 temuan di 12 kelurahan pada 2018. Ke-12 kelurahan itu adalah Pajang (1 orang), Penumping (1 orang), Purwosari (2 orang), Jayengan (1 orang), Gajahan (1 orang), Sangkrah (2 orang), Purwodiningratan (5 orang), dan paling banyak di Ngoresan (15 orang). Angka ini turun dari temuan pada 2017 sebanyak 57 orang.

Sementara itu, data terbaru yang dirilis Kementerian Kesehatan memperjelas jumlah orang yang terinfeksi HIV berdasarkan kelompok risiko. Data triwulan II 2019 tersebut menunjukkan dari 137 perempuan pekerja seks yang diperiksa, 9 di antaranya positif HIV. Selain itu ada 1 laki-laki pekerja seks yang terdeteksi positif HIV. Di luar itu, ada 14 pelanggan yang juga diketahui positif HIV.

Sayangnya data tersebut hanya meliputi warga ber-KTP Solo, sedangkan mayoritas pekerja seks berasal dari luar kota. Artinya, jumlah sebenarnya bisa lebih besar daripada temuan yang tergambar dalam data.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom