Hampir Rampung, Transaksi Solo Great Sale Belum Capai Target
Solo Great Sale 2020. (Instagram-@sologreatsale)

Solopos.com, SOLO — Solo Great Sale bakal ditutup pada Sabtu (29/2/2020) mendatang. Kurang dari sepekan ditutup, transaksi di gelaran Solo Great Sale belum mencapai target.

Hingga Senin (24/2/2020), transaksi di Solo Great Sale baru mencapai 81% atau Rp570 miliar dari target Rp700 miliar. Meski demikian, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Solo selaku penyelenggara optimistis target transaksi bakal tercapai.

Sekretaris SGS 2020, David R Wijaya, mengatakan pihaknya terus mendorong konsumen, merchant, dan memaksimalkan volunteer untuk mencatat transaksi selama SGS berlangsung. Menurutnya, target Rp700 miliar bakal terlampaui mengingat jumlah merchant yang berpartisipasi melejit.

"Perubahan sistem input transaksi belanja secara manual menjadi dengan aplikasi berbasis teknologi pada telepon pintar tentu tidak mudah. Apalagi masyarakat belum sepenuhnya melek teknologi, terutama di pasar tradisional. Inilah yang beberapa waktu lalu sempat membuat jumlah transaksi kurang, meski sudah jalan setengah bulan," ujar David kepada Solopos.com, Senin (24/2/2020).

Pada 2020 ini, Kadin meluncurkan aplikasi berbasis sistem opreasi Android bernama Solo Sale untuk mempermudah konsumen memasukkan data transaksi, mengecek poin, hingga melihat beragam promo dan diskon. Aplikasi Solo Sale itu untuk konsumen, sedangkan untuk merchant atau tenant memakai Solo Sale Tenants.

Lebih lanjut, David menjelaskan pihaknya menggunakan dua cara memasukkan transaksi belanja, yakni manual dan dengan aplikasi Solo Sale, khususnya sektor pasar tradisional.

Maka dari itu, pihaknya mengoptimalkan peran para sukarelawan yang membantu konsumen maupun pedagang sebagai merchant atau peserta SGS dalam memasukkan transaksinya.

Ia meyakini pasar tradisional akan sangat mendongkrak jumlah nilai transaksi. Hal ini lantaran ada sebanyak 14.416 pedagang dari 44 pasar tradisional yang ikut serta. Tahun lalu, kepesertaan pedagang pasar tradisional hanya 2.000-an.

"Sampai saat ini jumlah transaksi terbesar dari sektor transportasi, mal, hotel, dan pasar tradisional. Kami genjot lagi, khususnya para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah [UMKM] dan pasar tradisional," imbuhnya.

Di sisi lain, meski okupansi hotel berbintang di Solo terus meningkat setiap tahunnya pada Februari, dampak SGS belum terlalu terlihat. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Solo mencatat dalam empat tahun terakhir okupansi hotel baik bintang maupun nonbintang di Solo membaik selama Februari.

Sebagai contoh, okupansi hotel berbintang mencapai 59,3% dan hotel nonbintang 40% pada Februari 2016; pada 2017 hotel berbintang 64,07% dan nonbintang 45,02%; pada 2018 hotel berbintang 67,84% dan nonbintang 48,82%; serta pada 2019 hotel berbintang 69,16% serta nonbintang 49,53%.

Marketing Communication Manager Kusuma Sahid Prince Hotel (KSPH) Solo, Tia Kristiyanti, mengatakan penyelenggaraan SGS tidak berdampak pada jumlah kunjungan tamu khususnya yang menginap.

"Enggak ada pengaruhnya, mbak. Tamu kami dari online travel agent [OTA]. Okupansi sebesar 90%, 70% di antaranya ada long stay," paparnya.

Sementara itu, Public Relations Solo Grand Mall (SGM), Ni Wayan Ratrina, berharap penyelenggaran SGS semakin baik ke depannya.

"Terutama untuk aplikasinya karena masyarakat banyak yang belum tahu, fungsinya apa, dan bagaimana. Dari SGM dibantu oleh customer service. Kalau konsumen tidak mau mengunduh aplikasi tersebut, kami bantu dengan telepon seluler milik mal," jelasnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho