Hampir 2500 Karyawan Positif Covid-19, Pabrik Sarung Tangan APD Tutup
Ilustrasi APD virus corona. (Freepik)

Solopos.com, KUALA LUMPUR— Top Glove, produsen sarung tangan lateks APD terbesar di dunia menghentikan produksinya di tengah pandemi Covid-19. Penutupan 28 pabrik terjadi setelah hampir 2.500 karyawannya terinfeksi Covid-19.

Dilansir Daily Mail Kamis (26/11/2020), Top Glove Malaysia mengalami lonjakan permintaan yang besar sejak awal pandemi Covid-19. Hal ini disebabkan negara di seluruh dunia berlomba-lomba untuk membeli alat pelindung diri.

Ditengah lonjakan permintaan, Covid-19 telah menginfeksi 2.453 pekerja, dan menyumbang rekor infeksi Covid-19 tertinggi di Malaysia. Top Glove terpaksa menghentikan sementara produksi di 28 pabrik di luar Kuala Lumpur. Penutupan itu membuat mereka tidak bisa mengantisipasi kekurangan sarung tangan APD di berbagai negara.

Bed Isolasi Pasien Covid-19 di Soloraya Masih Aman

Kementrian Kesehatan Malaysia melaporkan 1.511 kasus baru di daerah tersebut pada hari Selasa (24/11/2020). Meskipun tidak memerinci kebanyakan kasus berasal dari pekerja pabrik tersebut.

Klaster tersebut menyumbang rekor tertinggi harian yakni 2.188 kasus di seluruh Malaysia. Penambahan tersebut menjadikan total kasus di Malaysia menjadi 58.847. Banyaknya klaster tersebut, membuat pihak berwenang bergerak cepat memasang pagar kawat berduri di depan asrama pekerja.

Kementrian Pertahanan Malaysia telah memerintahkan pabrik untuk ditutup pada Senin (23/11/2020), dan para pekerja pabrik akan diuji dan dikarantina. Perusahaan sarung tangan itu telah menyatakan akan bekerja sama sepenuhnya dengan otoritas untuk menerapkan penghentian sementara dan penutupan pabrik.

Batu Diduga Prasasti Langka Peninggalan Abad ke-9 Ditemukan di Tawangmangu

Dilaporkan sekitar 5.700 pekerja telah dikarantina dan sisanya akan menjalani tes. Perusahaan Top Glove diketahui mengoperasikan 47 pabrik, 41 diantaranya berada di Malsysia. Banyak dari pekerjanya yang berasal dari Nepal dan tinggal di kompleks asrama yang padat.

Top Glove sendiri memiliki total sekitar 16.000 karyawan pabrik, termasuk pabriknya yang ada di Thailand, China, dan Vietnam. Perusahaan ini dapat memproduksi lebih dari 70 miliar sarung tangan dalam setahun, dan menjadi pemasok global utama sarung tangan APD dengan produsen lain di Malaysia.

Hartalega Holdings dan Supermax Corp adalah dua produsen sarung tangan karet besar Malaysia lainnya. Malaysia sendiri melaporkan memiliki 56.000 kasus Covid-19 dan 337 kematian. (Indah Pranataning Tyas/JIBI/Solopos.com)



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom