Hampir 100 Tahun 2 Perempuan Boyolali Ini Hidup Melajang
Mbah Yasmi, warga Wonosegoro, Boyolali, yang diperkirakan berusia 100 tahun dan belum pernah menikah. (Solopos-Nadia Lutfiana Mawarni)

Solopos.com, BOYOLALI -- Mulut Yasmi fasih mengucap kata Nippon berulang-ulang ketika Solopos.com bertanya tentang kenangan masa mudanya dahulu.

Nippon yang berarti Jepang itu pernah mewarnai salah satu episode hidup Yasmi. Dia juga masih mengangguk-anggukkan kepala saat Solopos.com dan sejumlah tetangganya berbincang soal Kimigayo, lagu kebangsaan Jepang, dan mengilustrasikan kembali tradisi membungkukkan badan kepada pemimpin alias Ojigi dalam istilah Jepang.

Meski tak lagi ingat di mana Yasmi menghabiskan masa muda, setidaknya ada dua cerita yang membuat Yasmi bisa mengenang masa mudanya dulu. Selain Jepang, Yasmi juga masih mengingat kata PKI walau tak bisa bercerita.

Saat kata PKI disebutkan oleh seorang tetangga, Yasmi langsung menyahut dengan berkata "Iya" sambil meracau entah apa maknanya.

"Menurut cerita ibu dan dari kejadian yang diingatnya Mbah Yasmi ini mungkin sudah berusia seratus tahun sementara Tiyem baru 90-an," kata seorang kerabat Tasmi, Jiyat, 31.

Yasmi yang bertubuh ceking tinggal bersama sang adik, Tiyem yang akrab disapa Mbah Yo. Keduanya tinggal di gubuk, Dukuh Gebang, Desa Kalinanas, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali. Gubuk itu bersebelahan dengan rumah Jiyat.

Sehari-hari Yasmi dan Tiyem hanya tinggal berdua. Tiyem masih sanggup mengolah kebun sementara Yasmi lebih banyak diam lantaran kondisi tubuhnya lemah. Jiyat bercerita Yasmi dan Tiyem belum pernah menikah.

Jiyat adalah cucu dari saudara mereka. "Kebetulan kami yang tinggal di sebelahnya jadi untuk beberapa keperluan keluarga kami yang bantu urus sebulan belakangan ini," kata Jiyat yang baru saja memutuskan tidak lagi kembali ke Palembang untuk bekerja.

Sebelumnya kebutuhan sehari-hari dua perempuan lansia ini dipenuhi para tetangga. Gubuk Yasmi dan Tiyem masih berupa rumah terbuka dengan kayu-kayu penyangga yang keropos.

Di dalamnya hanya terdapat dua ruangan. Satu kamar berukuran 2 meter x 2 meter yang biasa digunakan tidur Tiyem dan satu dapur berukuran sama. Di dapur hanya ada peralatan makan sederhana seperti piring, sendok, dan gelas, serta tungku untuk memasak.

Tidak ada alat elektronik seperti radio atau televisi. Sementara Yasmi memilih tidur di teras bermodal satu dipan kayu usang yang penuh debu. Sama seperti dipan Tiyem, dipan Yasmi pun tak ditambahi kasur. Mereka berdua tidur beralas kayu.

Di teras, selain tempat tidur Yasmi ada beberapa ekor kambing. Tiyem yang menggembalakannya dibantu Jiyat. Meski renta, tidak lagi lancar bicara, dan cenderung pelupa, Jiyat menilai dua neneknya itu sangat mandiri.

Dia menilai kedua neneknya itu sebagai pribadi mandiri. Jiyat bercerita keduanya masih rutin pergi ke pasar untuk berbelanja dengan berjalan kaki atau diantar tetangga. Jaraknya sekitar 2 km.

"Di pasar biasanya tanya ke sembarang orang ini uang nominal berapa agar tidak kapusan [tertipu]," kata dia.

Tiyem dan Yasmi juga kerap membawa pulang belanjaan dan memasak sendiri. Meski tidak bekerja dua perempuan lansia itu masih bisa memenuhi kebutuhan hidup.

Selain bantuan tetangga, Jiyat mengatakan keduanya terdaftar sebagai penerima beberapa bantuan desa seperti Program Keluarga Harapan (PKH) Lansia, Bantuan Pangan Nontunai (BPNT), dan Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Keterangan Jiyat dibenarkan Sekretaris Desa Kalinanas, Suwoto. "Selain bantuan keduanya juga telah didata oleh Kemensos," kata Suwoto saat ditemui wartawan di Kantor Desa Kalinanas.

Avatar
Editor:
Suharsih


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom