Railbus Batara Kresna melewati bekas bangunan Halte Kronelan yang berubah menjadi kandang ayam di Desa Plumbon, Mojolaban, Sukoharjo, belum lama ini. (Solopos/Bony Eko Wicaksono)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Suara klakson railbus Batara Kresna jurusan Solo-Wonogiri meraung-raung di jalur rel Desa Plumbon, Kecamatan Mojolaban, -siap-water-park-sukoharjo-rp125-miliar" title="Siap-siap! Water Park Sukoharjo Rp12,5 Miliar">Sukoharjo, belum lama ini. 

Rumah-rumah penduduk berjejer di sepanjang jalur rel. Sejumlah ibu-ibu terlihat menjemur pakaian di pinggir rel.

Terdapat beberapa kandang ayam di belakang salah satu rumah warga setempat. Kandang ayam itu berada di lahan berukuran sekitar 9 meter x 5 meter yang disekat pagar kawat setinggi lebih dari dua meter. 

Siapa sangka tempat yang sekarang jadi kandang ayam itu dulunya merupakan halte tempat para -bakal-punya-waterpark-internasional-netizen-kuat-beli-tiketnya" title="Sukoharjo Bakal Punya Waterpark Internasional, Netizen: Kuat Beli Tiketnya?">penumpang biasa menunggu kereta api jurusan Solo-Wonogiri melintas. Halte bernama Kronelan itu dibangun pada zaman penjajahan Belanda.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, Halte Kronelan beroperasi pada 1 April 1922. Halte yang seluruhnya terbuat dari kayu itu digunakan para warga pribumi untuk naik dan turun kereta dari Solo-Wonogiri atau sebaliknya. 

Lambat laun, Halte Kronelan itu ditinggalkan karena jalur rel Solo-Wonogiri dinonaktifkan puluhan tahun lalu. “Dahulu, banyak warga yang naik kereta di Halte Kronelan. Mereka ingin menjual hasil bumi menuju Solo. Saya hanya mendengar cerita dari almarhum bapak saya. Namun, saya tidak tahu pasti kapan halte itu berhenti beroperasi,” kata Surip, warga Desa Plumbon, Mojolaban, saat berbincang dengan Solopos.com, beberapa waktu lalu.

Seluruh -waterpark-pemkab-sukoharjo-diminta-tidak-kesampingkan-batu-seribu" title="Proyek Waterpark, Pemkab Sukoharjo Diminta Tidak Kesampingkan Batu Seribu">bangunan halte yang terbuat dari kayu itu kemudian dibawa ke Stasiun Ambarawa. Sementara bekas halte digunakan warga untuk membuat kandang ayam. Hanya ubin lantai halte yang masih tersisa di bawah beberapa kandang ayam.

Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta bekerja sama dengan Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo berencana merevitalisasi Halte Kronelan. 

Hal itu merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat guna pengembangan desa wisata Wirun yang memiliki kekayaan berbagai potensi seni dan budaya. Jarak antara Halte Kronelan dengan wilayah Desa Wirun tak lebih dari satu kilometer (km). 

“UGM telah menyusun masterplan revitalisasi Halte Kronelan di pinggir jalur rel Solo-Wonogiri. Saya melakukan pendampingan kearifan lokal pengembangan desa wisata Wirun,” ujar Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Univet Bantara Sukoharjo, Yoto Widodo.

Masterplan revitalisasi Halte Kronelan bakal dipaparkan ke PT Kereta Api Indonesia (KAI). Yoto berharap PT KAI menyambut baik rencana revitalisasi Halte Kronelan demi mengangkat potensi wisata dan budaya Desa Wirun.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten