Railbus Batara Kresna melewati bekas bangunan Halte Kronelan yang berubah menjadi kandang ayam di Desa Plumbon, Mojolaban, Sukoharjo, belum lama ini. (Solopos/Bony Eko Wicaksono)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Pemerintah Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo, berencana mengembangkan desa itu menjadi desa wisata. Salah satunya dengan merevitaliasi Halte Kronelan peninggalan zaman penjajahan Belanda.

Pengembangan desa wisata itu menggandeng akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet) Sukoharjo.

Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Univet Bantara Sukoharjo, Yoto Widodo, mengatakan UGM telah menyusun masterplan revitalisasi Halte Kronelan di pinggir jalur rel Solo-Wonogiri.

"Saya melakukan pendampingan kearifan lokal pengembangan desa wisata Wirun,” ujar Yoto kepada Solopos.com belum lama ini.

Salah satu instrumen pengembangan pariwisata adalah akses infrastruktur yang memadai. Para pelancong dari Jogja dan Solo bisa turun di Halte Kronelan yang dilanjutkan dengan mengunjungi sejumlah lokasi wisata dan budaya seperti sentra industri gamelan Jawa, batik tulis, kain tenun goyor, dan Pura Sahasra Adhi di Desa Wirun.

“Desa Wirun memiliki berbagai potensi wisata dan budaya yang tak dimiliki desa lainnya. Misalnya, kerajinan gamelan Jawa yang memiliki nilai seni adi luhung,” papar dia.

Rencananya, lanjut Yoto, revitalisasi Halte Kronelan dikerjakan selama tiga tahun hingga 2022. Selama proses pengerjaan fisik, pemerintah desa dan kelompok sadar wisata (pokdarwis) mematangkan paket wisata edukasi yang melibatkan masyarakat setempat.

Apabila impian ini terwujud, Desa Wirun bakal menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Jamu.

“Pengembangan desa wisata harus melibatkan pemerintah, stakeholders, dan elemen masyarakat. Jika ketiga elemen itu bersinergi saya yakin Desa Wirun menjelma menjadi desa mandiri yang mampu menghidupi masyarakat dari sektor pariwisata,” tutur Yoto.

Sementara itu, Kepala Desa Wirun, Erry Suseno Wibowo, mengungkapkan sentra industri kerajinan gamelan di Desa Wirun dibidik menjadi pusat kebudayaan dunia oleh UGM. Keunikan budaya Desa Wirun menjadi nilai plus dibanding desa atau kampung wisata lainnya.

Erry telah mempresentasikan proposal berisi sejarah gamelan dan keunikan budaya di hadapan para pakar budaya dari UGM. “Kuncinya adalah para stakeholder dilibatkan dalam pengembangan desa wisata. Elemen masyarakat sangat bergairah mempromosikan berbagai potensi wisata di Desa Wirun,” papar dia.

Erry juga telah merancang program paket wisata edukasi dengan menggandeng agen biro perjalanan wisata. Paket wisata edukasi itu berisi sejumlah lokasi yang bisa dikunjungi para wisatawan lokal maupun mancanegara seperti sentra industri kerajinan gamelan, wayang kulit, Pura Sahasra Adhi Pura dan Embung Pengantin.

Masterplan revitalisasi Halte Kronelan dipamerkan saat kegiatan Bursa Inovasi Desa (BID) di Pendapa Kantor Camat Mojolaban, beberapa waktu lalu. Kegiatan itu digelar agar pemerintah desa bisa saling bertukar ide dan gagasan guna menggali berbagai potensi desa yang berimplikasi pada peningkatan pendapatan asli desa (PAD) dan perekonomian masyarakat setempat.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten