Tutup Iklan
Suhartini, bersama keponakannya, Purwadi, berbincang di halaman rumahnya di Dukuh Jetak, Desa Hadiluwih, Sumberlawang, Sragen, Kamis (17/10/2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Keluarga Suhartini, 49, warga yang menyelenggarakan hajatan namun diboikot warga merasa dirugikan dengan pernyataan Pejabat Kepala Desa (Pj. Kades), Hadiluwih, Wan Budyanto.

Bukannya memberikan pernyataan yang mendinginkan suasana, Wan Budyanto dinilai justru membuat pihak keluarga berang. Sebelumnya, Wan mengaku sudah mengklarifikasi perihal boikot warga Dukuh Jetak RT 13, Desa Hadiluwih.

Menurut Wan, hasil klarifikasi itu menyebutkan aksi boikot itu tidak berkaitan dengan perbedaan pilihan dalam pilkades. Pernyataan itu dibantah keluarga Suhartini yang menyebutkan sesaat setelah Pilkades, mereka sudah mendapat ancaman dari warga yang ingin memboikot hajatan tersebut.

Pernyataan Wan yang menyebut aksi boikot itu akibat pernyataan dari Suhartini yang terkesan meremehkan warga juga dibantah keluarga Suhartini. Keluarga Suhartini menilai boikot warga hanya karena masalah nasi satu ceting itu merupakan alasan yang sengaja dibuat-buat.

"Saya dari keluarga tidak terima [dengan pernyataan Pj Kades]. Itu mencemarkan nama keluarga kami. Informasi yang disampaikan itu tidak benar," jelas Suhartini kepada Solopos.com, Kamis (17/10/2019) malam.

Suhartini merupakan korban dari panasnya suhu politik saat berlangsungnya Pilkades serentak pada 26 September lalu. Meski sudah hampir sebulan berlalu, sebagian warga masih kesal karena Suhartini enggan mendukung salah satu calon kepala desa (cakades) dari RT tersebut.

Saat cakades itu kalah, Suhartini disalahkan. Padahal, calon yang didukung Suhartini juga sama-sama kalah.

“Sejak pilkades itu sudah ada yang mengancam kalau ada yang punya gawe nanti tidak akan ada yang rewang [membantu]. Kebetulan ada dua warga yang mau punya gawe, salah satunya saya. Saya pikir itu hanya emosi sesaat, tak tahunya memang benar-benar terjadi,” kata Suhartini.

Diberitakan sebelumnya, informasi mengenai acara hajatan mantu yang diboikot itu sempat viral di media sosial. Viralnya informasi ini kemudian ditindaklanjuti Wan Budyanto dengan mengklarifikasi.

Hasilnya, menurut Wan, boikot acara hajatan itu tidak terkait pilkades tapi karena pernyataan saudara penyelenggara hajatan yang dianggap meremehkan warga.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten