Ilustrasi pengerukan tanah pada proyek normalisasi Sungai Banjir Kanal Barat di Semarang, Jateng. (Antara-R. Rekotomo)

Solopos.com, SEMARANG — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) menyiapkan anggaran senilai Rp23 miliar untuk mitigasi bencana saat musim penghujan. Anggaran itu dialokasikan dari dana bantuan tak terduga Gubernur Jateng Tahun Anggaran (TA) 2019.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Sudaryanto, mengatakan berdasarkan prediksi BMKG musim penghujan di beberapa wilayah diperkirakan tiba pada Januari-Februari 2020.

Sejumlah bencana yang perlu diwaspadai saat musim penghujan antara lain banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Untuk menghadapi hal itu, langkah mitigasi bencana pun sudah disiapkan BPBD Jateng. Bahkan, beberapa langkah itu sudah diterapkan saat peralihan musim yang juga menimbulkan bencana di sejumlah daerah, seperti angin kencang.

"Saat ini beberapa wilayah sudah mulai masuk musim pancaroba atau peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, jadi perlu diwaspadai cuaca ekstrem seperti angin kencang, petir dan curah hujan tinggi dalam waktu singkat," ujar Sudaryanto saat menggelar jumpa pers di Kantor Gubernur Jateng, Kota Semarang, Rabu (30/10/2019).

Dari data BPBD Jateng, dampak pancaroba yang menyebabkan angin kencang terjadi pada tanggal 21-20 Oktober. Akibat bencana angin kencang itu, sekitar 126 rumah di 82 desa mengalami rusak berat. Ke-82 desa itu terdapat di 9 kabupaten, yakni Wonosobo, Brebes, Magelang, Boyolali, Tegal, Banjarnegara, Batang, Karanganyar, dan Wonogiri.

"Kita sudah melakukan koordinasi dengan seluruh BPBD kabupaten/kota untuk menghadapi musim penghujan maupun pergantian musim. Salah satunya dengan menginventarisasi data rawan bencana dan tanah longsor di 35 kabupaten/kota," imbuhnya.

Selain melakukan pemetaan, BPBD Jateng juga telah menyiapkan sarana, prasaranan, maupun logistik bencana. Selain itu, pihaknya juga menginstruksikan pemerintah kabupaten/kota untuk menggelar apel siaga seperti bersih sungai, saluran, dan lingkungan.

"Kami juga sudah mengidentifikasi tanggul-tanggul kritis dan melaporkan ke Kementerian PUPR serta satuan kerjanya di BBWS. Selain itu juga menyiapkan posko dan publikasi nomor posko siaga untuk memudahkan warga menghubungi," ujar Sudaryanto.

Sementara itu, terkait evaluasi bencana yang terjadi saat musim kemarau panjang, Sudaryanto mengatakan terdapat 1.720 hektare lahan hutan dan 116 hektare sawah di 26 kabupaten/kota di Jateng yang mengalami kebakaran.

Sedangkan untuk bencana kekeringan, pihaknya telah menyalurkan sekitar 1.090 tangki air ke 9 kabupaten/kota di Jateng. Total tangki air yang disalurkan mencapai 26.117 tangki air, termasuk yang berasal dari BPBD kabupaten/kota, bantuan CSR, dan lain-lain.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten