Hadapi Krisis Pangan di Era Pandemi Covid-19, Gali Potensi Talas!
Talas atau Colocasia esculenta (L) Schott. (Instagram-@icho_tea,)

Solopos.com, SOLO — Pandemi Covid-19 melanda dunia. Ancaman krisis pangan global tercipta. Diversitas pangan harus terus digencarkan agar krisis pangan tidak terjadi, termasik menggali potensi talas.

Indonesia adalah negera yang memiliki banyak keragaman sumber karbohidrat yang sehat dan bergizi. Talas adalah salah satunya.

Talas acap kali digadang-gadang menjadi salah satu komoditas pengganti beras sebagai makanan pokok dominan Indonesia.

Perlawan Raden Purbaya Picu Nama Magelang

Sebagaimana dikutip Solopos.com dari Mongabay, ketika pandemi Covid-19 mengancam maka suplai logistik terganggu dan keterbatasan daya beli masyarakat menurun, bahkan lapangan pekerjaan bisa gilang.

Kondisi ini memicu kekhawatiran, Indonesia akan mengalami krisis pangan. Di lapangan, pemerintah dan banyak pihak merespons bencana ini dengan menggalang bantuan lewat pemberian sembako kepada warga terdampak. Bantuan tersebut umumnya bertumpu pada dua jenis, beras dan mi instan.

Tergantung Pangan Tertentu

Pemberian beras dan mi instan menunjukkan ketergantungan Indonesia pada sumber pangan tertentu. Padahal, di Indonesia sendiri banyak potensi sumber karbohidrat yang sehat dan bergizi.

Bandung Bondowoso Marah ke Prabu Baka, Mengapa?

Selain itu, World Health Organization (WHO) menyatakan seandainya pandemi Covid-19 usai, tak ada yang bisa menjamin pada masa mendatang wabah penyakit baru tak akan muncul lagi. Untuk itu, perlu peningkatan ketahanan pangan di masa depan untuk mengantisipasi serangan wabah penyakit lain di masa mendatang.

Kurniatun Hairiah, guru besar di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, mengatakan pandemi Covid-19 berkaitan dengan krisis ekologi. Krisis ini terjadi ketika ada perubahan lingkungan yang mengganggu stabilitas dan kelangsungan hidup dari suatu spesies atau populasi organisme.

Dirinya berharap tidak terjadi krisis pangan di Indonesia. “Untuk itu, diperlukan pengawasan ketat agar tidak terjadi penimbunan bahan pokok. Diperlukan pula perlindungan pada rumah tangga pertanian akibat wabah ini, serta memotong rantai bisnis tengkulak,” urainya.

Demi Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso Gali Sumur

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Suwandi mengatakan Indonesia memiliki potensi bahan pangan lokal sangat besar. Sebenarnya jika dimanfaatkan dengan maksimal, potensi bahan pangan lokal itu mampu memenuhi kecukupan gizi seluruh masyarakat Indonesia.

Ia juga mengatakan bahwa sebenarnya bahan panganan lokal banyak yang diekspor ke luar negeri, namun anehnya tidak disasarkan di dalam negeri. “Sebagian olahan bahan pangan lokal Indonesia bahkan sudah diekspor ke berbagai negara, tetapi tidak dipasarkan di dalam negeri,” terangnya

Suwandi mengatakan Indonesia memiliki 77 jenis pangan sumber karbohidrat. Sebanyak 75 jenis pangan sumber protein, 110 jenis rempah dan bumbu, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 26 jenis kacang-kacangan, dan 40 jenis bahan minuman. “Bahan pangan lokal Indonesia yang memiliki potensi cukup tinggi antara lain adalah ubi kayu atau singkong, ubi jalar, jagung, sorgum, talas, ganyong, gadung, gembili, garut, porang, hanjeli, dan hotong,” ungkapnya.

Gadis Indigo Ungkap Hantu Penghuni Pabrik Cerutu Jogja

Talas atau nama latinnya disebut Colocasia esculenta (L) Schott menjadi salah satu bahan makanan pokok bagi masyarakat Indonesia, khususnya di beberapa daerah, seperti Jawa Barat dan Papua.  Talas merupakan bahan pangan yang sangat bergizi dan terkadang didapuk dapat menggantikan beras. Namun, sejauh ini talas memang belum bisa sepenuhnya menggantikan beras sebagai bahan makanan pokok utama, walaupun kandungan nutrisinya lebih unggul dari beras.

Vitamin Lebih Baik

Sebagaimana dikutip dari laman Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), talas memiliki sumber kalori dan mengandung karbohidrat sekitar 13% hingga 29%. Kandungan protein dan vitaminnya lebih baik dibandingkan uwi, ubi kayu, dan ubi jalar. Ukuran butirannya yang sangat kecil, diameter 1 hingga 1,5 mikrometer, membuat talas mudah dicerna dan cocok dikonsumsi bagi penderita gangguan pencernaan.

Dalam 150 gram talas yang telah dimasak, terkandung sejumlah 150-200 kalori, 5-7 gram serat, 4 gram protein, 150-170 mg kalsium, 450-600 mg kalium, 30-50 mg magnesium, dan 60-70 mg fosfor. Selain itu, daunnya sendiri mengandung 23 persen protein (berat kering), kaya kalsium, fosfor, besi, vitamin (C, tiamina, riboflavin, dan niacin).

Ceritakan Pabrik Cerutu di Jogja, Gadis Indigo Diselingi Tawa Misterius

Di Indonesia, talas biasanya diolah menjadi aneka ragam menu yaitu, bolu talas, keripik, kolak, bubble tea, hingga es campur. Selain itu, sebenarnya di Indonesia sudah ada beberapa gebrakan dan inovasi baru untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap talas.

Sebagaimana dikutip dari laman Okezone.com, tim PKK Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng dalam rangka mewakili Provinsi Bali dalam Lomba Cipta Menu NonBeras, mereka membuat inovasi ubi talas yang diolah menjadi lontong.

Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya ada Talas juga mampu menjadi bahan makanan pokok pengganti beras. Seperti yang telah dijabarkan di atas kandungan gizi talas juga sangat baik bagi kesehatan tubuh manusia, bahkan menurut berbagai penelitian lebih baik dari pada beras. Jadi bagaimana menurutmu? Apa kamu mau makan talas?

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom