Ketua DPC PDIP Wonogiri yang juga Bupati Wonogiri, Joko Sutopo (kedua kanan) hadir di Rumdin Bupati Sukoharjo dan turut mengantarkan Wardoyo Wijaya mengembalikan berkas formulir pendaftaran Bakal Calon Gubernur Jateng ke Semarang, Kamis (10/8/2017). (Trianto Hery Suryono/JIBI/Solopos)

Solopos.com, WONOGIRI -- Ketua DPC PDIP Wonogiri yang juga Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, menyatakan ogah mencalonkan diri lagi pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 mendatang jika biaya politik masih sangat mahal.

Hal itu pula yang membuat dia belum mendaftar dalam penjaringan calon bupati-calon wakil bupati (cabup-cawabup) yang sudah dibuka PDIP. Lelaki yang akrab disapa Jekek itu akan bersedia maju apabila masyarakat sudah memahami berdemokrasi tak perlu pamrih.

Berbicara kepada wartawan di Sekretariat DPRD Wonogiri, Jumat (20/9/2019), Jekek menegaskan sikapnya tersebut bukan gimik atau sandiwara semata untuk memancing agar tokoh lain muncul.

Dia tak memungkiri seluruh kader PDIP mendorongnya kembali berkontestasi seperti pada Pilkada 2015. Namun, dia menjawab belum tentu bersedia bertarung lagi.

Jekek menuturkan akan benar-benar tak mencalonkan diri jika biaya politik masih sangat tinggi. Berkaca pada Pilkada 2015, saat itu dia menghabiskan dana Rp20 miliar-Rp25 miliar.

Apabila harus mengeluarkan biaya sebesar itu atau bahkan lebih, Jekek menyatakan tak berani maju lagi. Oleh karena itu dia memberi tugas kepada pengurus dan kader PDIP untuk memberi pendidikan politik kepada masyarakat bahwa berdemokrasi harus tanpa pamrih atau tak menuntut sesuatu.

Langkah itu dapat ditempuh dengan cara berkomunikasi dengan tokoh masyarakat setiap kecamatan. Komunikasi tersebut untuk mengetahui keinginan masyarakat dalam pilbup mendatang.

Jekek memberi waktu para kader menyelesaikan tugas sebelum 17 Oktober atau batas akhir penjaringan cabup-cawabup PDIP. Apabila masyarakat sudah memahami semangat berdemokrasi yang sebenarnya, dia akan mendaftarkan diri.

Sebaliknya, jika masyarakat menuntut banyak hal yang membuatnya harus mengeluarkan biaya tinggi, Jekek memilih tak bertarung lagi. Dia menilai mengubah pola pikir masyarakat, terlebih dalam tempo singkat, tak mudah. Namun, dia meyakini hal itu bukan mustahil.

“Sikap saya ini bukan gimik. Kalau harus mengeluarkan biaya tinggi, saya enggak berani. Biar orang lain saja. Pilkada sebelumnya saya habis Rp20-an miliar. Saya buka-bukaan saja,” kata Jekek.

Sekretaris DPC PDIP Wonogiri, Setyo Sukarno, mengonfirmasi ketua partainya menyampaikan kepada para kader belum tentu mencalonkan diri. Setyo memaknai sikap Jekek itu sebagai cambuk bagi para kader PDIP agar serius mengubah pola pikir masyarakat dalam berdemokrasi.

Setyo sangat berharap Jekek bersedia memenuhi keinginan seluruh kader, yakni mencalonkan diri dalam Pilkada.

“Selain beliau [Jekek], tidak ada tokoh lain yang diinginkan para kader PDIP [sebagai cabup pada Pilkada 2020]. Semua hanya ingin beliau. Kami sangat berharap beliau bersedia maju,” kata Setyo yang juga Ketua DPRD Wonogiri itu.

Dia menjelaskan penjaringan cabup-cawabup PDIP mulai 19 September-17 Oktober. Partainya memutuskan penjaringan dilaksanakan secara terbuka sehingga siapa pun boleh mendaftarkan diri sebagai cabup-cawabup.

Dia membuka pintu selebar-lebarnya bagi tokoh partai lain yang ingin mendaftar. Hingga Jumat itu belum ada yang mendaftarkan diri. Mekanismenya berubah dari sebelumnya tertutup karena tak ingin ada anggapan PDIP eksklusif.

Jekek kembali mengatakan bagi siapa pun yang ingin mendaftarkan diri harus siap secara mental dan keuangan. Sesuai aturan internal, pendaftar harus membeberkan data keuangannya dalam formulir yang disediakan, seperti data kekayaan, utang, dan sebagainya.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten