Guyonan dan Kegelisahan
A. Windarto (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Menarik bahwa di tengah pandemi Covid-19 ada beberapa spanduk bertulisan yang dipasang di jalan atau gang masuk kampung, khususnya di Kota Jogja dan Kota Solo, yang antara lain berbunyi "Corona negatif, istri positif", "Lockdown atau smackdown", dan "Maaf, jalan baru di-download".

Sepintas tulisan-tulisan itu beraroma seperti guyonan atau pelestan belaka, namun sesungguhnya hal itu justru adalah cermin dari rasa gelisah yang tak tampak di tengah masyarakat kita. Benarkah? Seperti dianalisis Benedict Anderson dalam buku yang berjudul Di Bawah Tiga Bendera (Margin Kiri, 2015) bahwa pengalaman "gelisah", khususnya yang dialami Sutan Sjahrir, pada tahun-tahun awal kemerdekaan Indonesia adalah sesuatu yang penting dan menentukan.

Pengalaman yang dimaknai sebagai "ketidakpastian" atau ada sesuatu yang "sedang menjelang" itu juga dirasakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia yang sedang berjuang di medan pertempuran. Terhadap pengalaman itu, Ben Anderosn menulis inilah kata yang tidak mudah dicari padanan katanya dalam bahasa Inggris, yang makna semantiknya dapat berarti anxious (cemas), trembling (gemetar), unmoored (tanpa pegangan), expectant (menanti-nanti)."

Syangnya, kegelisahan yang tercermin dari kata-kata yang tertulis pada beragam laman media sosial dan bahkan berbagai spanduk di sejumlah kampung tentang wabah Covid-19 justru tak tampak daya kuasanya. Dengan kata lain, kegelisahan itu tersembunyi dalam bahasa khas masa kini yang kerap dimaknai sebagai pelesetan atau meme.

Itulah mengapa kata-kata menjadi tampak seperti lelucon yang seolah-olah hanya bermakna sebagai penghiburan belaka, padahal dalam kata-kata seperti itu tersimpan suatu ironi yang bernada sindiran terhadap bahasa yang cenderung bertaburan dengan jargon semata.

Menarik bahwa di tengah merebaknya wabah ini, Raja Keraton Yogyakarta sekaligus Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta menyapa warga provinsi itu melalui sapa aruh. Sapaan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X itu masih dilanjutkan dengan sejumlah pesan khusus, antara lain mangasah mengising budi, memasuh malaning bumi. dan manekung maneges mring Gusti.

Pesan-pesan yang bukan merupakan bahasa sehari-hari itu menjadi bahasa resmi yang biasanya  tidak kasar, apalagi latah. Itu artinya, bahasa semacam ini tidak terlalu diakrabi, bahkan tidak dipakai, oleh rakyat kebanyakan. Tak mengherankan jika bahasa yang bersifat hierakis itu sekadar menjadi penanda, sekadar simbolisme.

Contohnya seperti papan nama-nama jalan yang tidak hanya ditulis dalam aksara Latin/Indonesia, tapi juga diberi tambahan aksara Jawa tepat di bawahnya. Bukan kebetulan bahwa bahasa simbolis itu menandakan hanya mereka yang berkuasa terhadap pengetahuan baca-tulis yang mampu berkata-kata.

Karena itulah, kuasa kata yang diperoleh dari pengetahuan itu akan dinobatkan dan dilestarikan sebagai pemegang kunci rahasia. Masalahnya, kata-kata yang diproduksi oleh mereka yang berkuasa jarang yang bersumber dari pengalaman. Masuk akal jika apa yang dikatakan tak jarang berseberangan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain, tampak ada yang longgar, bahkan bolong-bolong, dari ikatan-ikatan antara derau dengan suara, antara kata dengan perbuatan (Mrazek, 2006). Tepat di sinilah kuasa kata dapat dengan mudah dibelokkan demi memenuhi kepentingan pihak-pihak tertentu. Dalam konteks wabah Covid-19, kegelisahan yang dialami rakyat sekadar dihibur dengan kata-kata bertuah dari masa lampau, namun tak ada satu pun tindakan yang diperbuat untuk mengatasi.

Kekonyolan

Melalui kata-kata yang akrab di mata dan telinga mereka, rakyat menuliskan apa yang sedang mereka alami. Meski terbaca agak aneh atau janggal, kata "lockdown" pun dibahasakan ulang menjadi "look down" atau "lauk daun". Inilah bahasa kegelisahan yang terdengar seperti guyonan belaka, namun menampakkan kekonyolan dari pihak-pihak yang masih gemar berkata-kata hanya demi melestarikan kuasa.

Syukurlah, kuasa kata yang cenderung tampil secara "adiluhung" itu selalu dapat dijungkirbalikkan sehingga tampak "adilinglung". Salah satunya melalui karya seni pelukis muda di Yogyakarta berjudul Dancing in the Dark. Lukisan yang menggambarkan jati diri pelukisnya saat dituntut untuk menari ketika melepas jenazah ayahnya itu menghadirkan ironi yang mirip dengan beragam tarian dengan aplikasi Tik Tok di media sosial, khususnya di sepanjang pandemi  ini.

Ironisnya, kedua jenis tarian itu sama-sama adalah bahasa penghiburan yang dihadirkan untuk menunda persoalan. Tarian di depan jenazah adalah bentuk penundaan atas kedukaan. Sedangkan tarian di tengah pandemi merupakan wujud penundaan dari kegelisahan. Jadi, keduanya memiliki kemiripan sebagai penghiburan di atas penderitaan.

Hal itu sejalan dengan apa yang pernah dikaji Neil Postman terhadap media televisi. Melalui buku yang berjudul Menghibur Diri Sampai Mati (1995), Postman memperlihatkan bahwa bahasa televisi yang tampak begitu berkuasa atas kata-kata, melalui gambar dan suara, hingga kini telah mampu membelokkan segala hal dan masalah yang sebelumnya tak terbayangkan.

Sebagai contoh adalah sikap kritis anak yang sejak pandemi ini muncul telah dirumahkan justru menjadi semakin terbuai dan terlena dalam berbagai penghiburan yang dipertontonkan televisi melalui aneka jenis sinetron. Meski hanya siaran ulangan, sinetron menjadi penghiburan yang tak dapat dihindari seperti menari dengan aplikasi Tik Tok di media sosial.

Tentu penghiburan dapat menjadi dering peringatan kritis atas kegelisahan yang tengah dialami, namun di tengah pandemi Covid-19 ini kegelisahan yang diabaikan dengan memosisikan penghiburan sebagai bagian dari kemanusiaan patut dikaji ulang. Jangan-jangan penghiburan itu justru mensterilkan kegelisahan hanya demi mengusir kebosanan yang dialami selama masa pandemi ini.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho