Guru SMP di Sragen Mengajar Pakai Cara Ini Biar Irit Kuota
Para guru di SMPN 2 Sumberlawang, Sragen, mengajar menggunakan aplikasi WA di sekolah setempat, Kamis (6/8/2020). (Solopos-Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Para guru di SMPN 2 Sumberlawang, Sragen, tetap berangkat ke sekolah meski tak satu pun siswa hadir  karena pembelajaran tatap muka di sekolah masih dilarang.

Para guru SMPN 2 Sumberlawang, Sragen, itu datang ke sekolah tapi tak masuk ke kelas-kelas seperti biasanya sebelum ada wabah virus corona.

Para guru SMPN 2 Sumberlawang, Sragen, duduk di kursi kerja masing-masing dan kemudian membuka laptop. Laptop itu langsung disambungkan ke jaringan Internet kemudian memulai pembelajaran secara daring atau online.

Kasus Covid-19 Terkendali, Sekolah di Sragen Bakal Coba Pembelajaran Tatap Muka

Guru menggunakan Whatsapp (WA) dengan tujuan untuk menghemat kuota Internet para siswa SMPN 2 Sumberlawang, Sragen.

“Setiap kelas sudah membuat grup WA sendiri. Guru mata pelajaran masuk ke grup-grup WA itu sesuai dengan jadwal pelajaran daring yang sudah ditetapkan. Jadi semua guru tetap masuk seperti biasa untuk mengajar secara daring. Istilahnya work from office atau WFO,” jelas Kepala SMPN 2 Sumberlawang Sragen, Agung Jatmiko, saat berbincang dengan solopos.com, Kamis (6/8/2020).

Agung menyampaikan sekolah menganggarkan untuk subsidi pembelian kuota Internet bagi siswa. Selain itu, Agung juga menyiapkan sarana untuk persiapan pembelajaran tatap muka bila Sragen sudah masuk zona hijau.

DPRD Minta Operasi Masker di Sragen Dilakukan "Diam-Diam"

Siswa di sekolah di Sumberlawang Sragen itu sebanyak 235 orang yang terbagi atas 36 kelas untuk Kelas VII-Kelas IX. Untuk evaluasinya, setiap siswa mendapatkan buku jurnal aktivitas siswa dan setiap guru mendapat jurnal mengajar guru.

Buku itu harus diisi oleh guru maupun siswa setelah kegiatan pembelajaran daring. Kalau buku itu tidak diisi berarti siswa atau guru tidak melakukan kegiatan belajar mengajar.

Mengirimkan Link Soal

Giyatno, seorang guru bahasa Inggris, siang itu memberi ulangan harian bagi 24 orang siswanya di Kelas IXC lewat aplikasi WA.

Sang guru tidak perlu berkata-kata tetapi cukup memberikan instruksi secara tertulis lewat aplikasi WA itu dan mengirimkan link untuk soal yang diisi dengan menggunakan google form.

“Iya ulangannya pakai google form. Begitu selesai mengerjakan langsung bisa diketahui. Siswa juga bisa interaktif bertanya lewat WA bila belum jelas. Kalau ada yang nilainya di bawah standar ada juga remidi,” ujar Giyatno.

Brak hingga Sedil, Ini Arti Kosa Kata Nyeleneh yang Cuma Dipahami Warga Sragen

Tak jauh dari tempat duduk Giyatno, ada Bandriyo, seorang guru olahraga SMPN 2 Sumberlawang Sragen, yang juga mengajar secara daring. Bandriyo memberikan catatan tentang teori bola voli kepada para siswa Kelas VIII-B lewat aplikasi WA.

“Ya, hanya menyampaikan ulasan tertulis saja. Ada yang bingung biasanya langsung bertanya. Kami tidak menggunakan media video untuk menghemat kuota Internet para siswa. Kalau pakai video boros kuota, kasihan juga,” kata guru tersebut.

Kabid Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen, Prihantomo, menyampaikan kebijakan pemberian kuota Internet menjadi kebijakan masing-masing sekolah dan sifatnya selektif.

Diboncengkan Kades Asal Miri Sragen, Wanita Gemolong Tewas Kecelakaan

Pada petunjuk teknis (juknis) penggunaan bantuan operasional sekolah (BOS) juga membolehkan penggunaan BOS di Sragen untuk pembelian kuota Internet.

“Kalau semua siswa mendapat kuota Internet ya sekolah tidak mampu. Para guru yang melakukan pembelajaran daring pun menggunakan fasilitas Internet portabel di sekolah,” katanya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom