Tutup Iklan
Gunung Sinabung (JIBI/dok)

Solopos.com, JOGJA-Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja memperingatkan penduduk yang tinggal di sekitar gunung yang telah lama dinyatakan tidak aktif agar waspada.

“Dalam ilmu kegunungapian, tak ada jaminan gunung berapi mati. Suatu saat, tidak tahu kapan, bisa aktif kembali,” ujar Kepala BPPTKG Subandriyo saat ditemui Harian Jogja, di kantornya, Kamis (22/11/2013).

Buktinya, Gunung Sinabung di dataran tinggi Karo, Sumatera Utara, yang sudah tidur 400 tahun kembali meletus pada September lalu. Gunung Sinabung merupakan gunung api tipe B. Gunung api tipe B adalah gunung api yang dinyatakan tidur atau tidak aktif sejak tahun 1.600.

Hal serupa, lanjut Subandriyo, juga pernah terjadi pada Gunung Pinatubo, Filipina. Gunung tersebut selama 600 tahun tercatat tidak pernah memiliki kegiatan vulkanik apapun. Namun pada Juni 1991, gunung itu bangkit lagi. Gunung api dengan tipe yang sama di Jawa Tengah, yakni Gunung Lawu di Karanganyar.

“Gunung-gunung itu dalam geologi masuk dalam kategori gunung muda. Gunung muda, mungkin bisa aktif kembali,” ujarnya.

Di Gunung Lawu, menurut Subandriyo, aktivitas yang masih bisa dirasakan adalah terdapatnya bau belerang. Ketika berada di atas gunung di puncak Argodumilah, di bawah puncak itu terdapat tanah lapang. “Tanah lapang itu dulu adalah kawah Gunung Lawu.”

Kendati begitu, ia mengatakan atas kondisi terakhir gunung tersebut belum dipantaunya.Saat ini Gunung Sindoro yang juga berada di Jawa Tengah, yang menjadi pantauan BPTTKG setelah terdeteksi munculnya aktivitas pergempaan dua tahun lalu. Cuma, tingkat aktivitas gunung tersebut tidak seperti Merapi dan belum terdeteksi adanya pergerakan magma. Terakhir, Gunung itu sempat muncul asap sulfatara. Alasan aktivitas yang tidak berakhir dengan erupsi itu masih ditelitinya.

Sekarang ini, aktivitas penduduk di sekitar Lawu dan Sindoro berdekatan dengan gunung. Mereka penduduk di sekitar Sindoro hingga ke kawasan atas gunung untuk menanam tembakau, seperti halnya di Temanggung dan Wonosobo. Sedangkan di Gunung Lawu, penduduk bertanam sayuran.

Menurut dia, perlu sosialisasi ancaman bencana bagi penduduk di dua gunung itu yang diberikan oleh pemerintah daerah setempat. “Tapi, mitigasi bencana di dua gunung itu belum seintensif Gunung Merapi,” katanya.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten