Gue di Solo, Aku di Jakarta
Udji Kayang Aditya Supriyanto/Istimewa

Solopos.com, SOLO — Permulaan tahun 2020 melimpah kejutan. Selain kabar tentang banjir, bencana di sekian tempat, dan ancaman Perang Dunia III, ada yang tidak kalah heboh, terutama bagi penggemar musik Indonesia.

Grup musik legendaris asal Batam yang bervokalis paling merdu se-Indonesia, Kufaku, merilis klip video lagu terbaru mereka di Youtube pada 1 Januari 2020. Judul lagu mereka sangat puitis dan tidak akan terpikir oleh penulis lirik lagu kondang semacam Bebi Romeo, Dewiq, atau Melly Goeslaw sekalipun, yaitu Berak di Bakau.

Simak saja lirik lagu Berak di Bakau berikut: baru semalam kau pergi/ dari kampungmu ini/ berak kat bakau!/ ngomongnya sih, dong, deh, banget/ bokap nyokap/ berak kat bakau!/ ngomongnya sih/ gak deh gak deh gak deh/ lo lo lo lo lo lo lo lo lo lo/ gue gue gue gue gue gue gue gue gue gue/ deh deh deh deh deh deh deh deh deh deh/ sih sih sih sih sih sih sih sih sih sih/ auk ah gelap/ auk ah gelap/ auk ah gelap/ auk ah gelap.

Kita mungkin sering bertemu orang yang ketika hendak ke kamar mandi pamit hendak ”mencari inspirasi”, tetapi sangat jarang yang betul-betul mengejawantahkan inspirasi itu sebagaimana Kufaku. Sebelum Berak di Bakau, mereka telah merilis lagu berjudul Berak Tak Cebok dan Taik Anyot.

Tidak ada, saya yakin, grup musik di Indonesia yang begitu terobsesi pada aktivitas berak berikut produk luaran proses pencernaan manusia selain Kufaku. Kita sudah sepatutnya berterima kasih kepada Bobby Ryan, Amd., S.T., M.Si.—personel Kufaku memang kerap menulis nama lengkap dengan gelar akademis—selaku dedengkot dan penggubah sebagian besar lagu Kufaku, atas pengalaman musikal yang mereka berikan.

Kufaku pantas diklaim sebagai legenda hidup musik Indonesia berkat musikalitas mereka yang khas, unik (baca: wagu), dan antiarus utama—bahkan lebih antiarus utama ketimbang musikus indie! Dalam deskripsi klip video Berak di Bakau, Kufaku menulis  sebagai berikut.

”Puji syukur atas kehadirat Allah SWT kami bisa menyelesaikan video BERAK DI BAKAU ini tepat waktu, lagu ini menceritakan anak2 kampung yang baru mulai hidup di kota dan bergaya ke kota2an dan ngomongnya pun berubah menjadi sok kejakarta-jakartaan.”

Dari deskripsi berbahasa kontrabaku itu bisa ditengarai betapa serius perhatian Kufaku terhadap isu kota. Silampukau yang belum juga merilis karya baru silakan menepi. Isu kota milik Kufaku sementara ini. Perhatian Kufaku terhadap isu kota masuk akal mengingat Bobby pernah bekerja di dinas tata kota.

Mengacu Jakarta

Tidak mengherankan ia peka terhadap isu kota setempat, terutama perihal kejakartaan. Saya pernah mengobrol dengan sastrawan muda Jakarta, Doni Ahmadi—penulis buku kumpulan cerita pendek Pengarang Dodit (2019), yang berkesimpulan kira-kira demikian,”Barangkali sentimen terhadap Jakarta bukan hanya karena orang datang ke Jakarta lantas menderita dan kecewa, tetapi juga lantaran tanpa orang ke mana-mana, Jakarta sudah menghampiri mereka.”

Kota-kota di Indonesia lazimnya tumbuh mengacu Jakarta. Logika pembangunan, bahkan perayaan tren dan budaya populer, sering kali—kalau bukan selalu—mengikuti Jakarta. Di Solo mulai banyak kafe-kafe ”khas Jakarta” yang menjadi pilihan tempat nongkrong baru anak muda, selain angkringan yang sudah sejak lama ada.

Makanan dan minuman yang ditawarkan kafe-kafe itu pun menjakartakan lidah-lidah anak muda Solo—juga daerah-daerah lainnya, karena Jakarta ke mana saja! Mengapa Kufaku langsung menyorot persoalan bahasa, alih-alih mempersoalkan pembangunan, fesyen, kuliner, dan kejakartaan lain yang melanda Batam?

Dugaan saya, mereka sadar bahwa ketika telah mencapai taraf berbahasa, artinya kejakartaan sedang diafirmasi secara naluriah. Orang-orang mungkin sadar atau tidak sadar, tetapi dalam keseharian, cara mereka bersikap, berkata, dengan kata lain berkomunikasi, kejakartaan hadir dalam diri mereka.

Saya punya kenalan orang Solo, masih muda—usianya setahun di atas saya, yang entah mengapa gemar memakai kata ganti ”gue” ketimbang ”aku”. Kita tahu ”aku” dapat dipakai saat berbahasa Indonesia maupun Jawa, lebih efektif dan relevan. Banyolan yang ia lontarkan juga sangat Jakarta, misalnya banyolan ”apa cuma gue…”—frasa dari meme-meme yang beredar di media sosial.

Selain itu, yang agak mengganggu saya adalah kecenderungannya mengawali perkataan dengan ”well…” alih-alih ”ngene lho…” Sebelum kini bisa lewat mana saja, saya kira televisi dan telepon genggam punya andil dalam proses penjakartaan ini. Saya ingat, sewaktu kecil saya tidak ambil pusing mendengar lirik lagu /rif, Lo Toe Ye (2000).

Saat itu, saya anggap sapaan ”lo” sekadar bahasa orang dewasa. Saya mulai mempertanyakan saat menyaksikan sinetron Putri Malu dan Jenderal Kancil (2002-2004) yang memakai ”lo-gue” alih-alih bahasa kolosal sinetron pada masa itu. Kehadiran telepon genggam saya duga turut memasyarakatkan ”lo-gue”.

Saat itu komunikasi yang populer lewat telepon genggam adalah SMS—yang tidak disediakan oleh telepon rumahan. Bahasa SMS yang singkat mendorong penggunaan ”gw (gue)” alih-alih ”aq (aku)” yang terasa kemayu. ”Gw” masih bisa dibikin lebih singkat lagi menjadi ”w”. Jakarta, sebagai bahasa, mesti diakui sudah menghampiri kita sejak lama. Ketimbang Majapahit, Jakarta lebih mumpuni dalam upaya meliputi Nusantara.

Sementara kenalan saya itu ber-”lo-gue” di Solo, saya justru masih belum merasa perlu meninggalkan ”aku-kamu” di Jakarta. Beberapa orang memang canggung ketika mengobrol dengan saya, tetapi toh semuanya baik-baik saja. Jangankan perbedaan kata ganti, obrolan dengan Peter Carey di kantor selalu lancar kendati ia sering keceplosan berbahasa Inggris dan kami menanggapi tetap dengan bahasa Indonesia.

Tetap ber-”aku-kamu” di Jakarta selama setahun sama sekali tidak saya anggap sebagai prestasi primordialis. Tiga orang atasan saya semuanya dari Jawa (Solo, Malang, Kediri) dan sampai sekarang mereka tetap memakai ”aku-kamu” meski telah bertahun-tahun bermukim-berperistiwa di Jakarta. Lha kok wong Jawa kemaki nganggo ”lo-gue lo-gue”. Berak kat bakau!

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho