Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, mengikuti lomba makan kerupuk untuk memeriahkan HUT ke-74 RI di sebuah panti asuhan di Semarang, Minggu (18/8/2019). (Semarangpos.com-Humas Pemprov Jateng)

Solopos.com, SEMARANG — Salah satu lomba paling populer di kalangan masyarakat Indonesia dalam memeriahkan HUT ke-74 RI adalah lomba makan kerupuk. Hampir di setiap daerah, lomba adu cepat makan kerupuk dengan cara digantungkan dengan tali itu digelar.

Gubernur Jawa  Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, pun tak mau ketinggalan memeriahkan HUT ke-74 Kemerdekaan RI itu dengan cara yang sama. Ia mengikuti lomba makan kerupuk dengan para anak-anak yatim piatu di Panti Asuhan Yatim Piatu Pahlawan Gatot Subroto di Jl. Sultan Agung, Kota Semarang, Minggu (18/8/2019) pagi.

Seusai bersepeda berkeliling Kota Semarang, Ganjar bersama istri dan rombongan Women’s Cycling Community (WCC), berkunjung ke panti asuhan itu untuk menggelar lomba makan kerupuk dengan sistem katrol.

Disebut sistem katrol karena jempol peserta harus diikat dengan kerupuk. Peserta pun harus mengangkat kaki yang terikat dengan tali agar kerupuk bisa dijangkau.

Meski terkesan sulit, Ganjar mampu menyelesaikan lomba itu dengan sempurna. Orang nomor satu dalam jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng itu bahkan bisa mengalahkan lawan-lawannya, termasuk sang istri, Siti Atikoh.

“Pemenangnya adalah Bapak Ganjar Pranowo,” kata wasit disambut tepuk tangan.

Di panti asuhan yang didirikan Jendral TNI Gatot Subroto pada 20 Mei 1964 dan menampung 22 anak itu, Ganjar dan WCC tidak hanya menggelar lomba makan kerupuk. Rombongan Gubernur Jateng juga menggelar lomba ’17-an’lainnya seperti, memasukkan pensil ke dalam botol dan estafet tepung dengan piring.

Mereka juga menyerahkan bantuan berupa sembako, alat tulis, peralatan mandi, kaos, gembes atau tumbler, serta mengajak penghuni panti asuhan sarapan nasi kuning bersama.

Ganjar pun mengingatkan kepada anggota WCC maupun anak-anak panti asuhan dengan mengutip kata-kata Gus Dur, “Ketika kita menolong orang, orang tidak akan bertanya apa agamamu, apa sukumu. Sehingga, pada masa setelah kemerdekaan ini, kita tidak perlu lagi mempersoalkan atau membedakan suku, agama ataupun ras. Saling menghormati, menghargai satu sama lain, akan menciptakan hidup yang sejuk dan damai.”

“Begitu pula, anak-anakku sekalian. Hormati para pengasuh disini sebagai orang tua kalian,” ujar Ganjar.

“>KLIK dan “>LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten