Gubernur Ganjar Puji Gerakan Sehari Tanpa Nasi di Salatiga
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (Youtube-bnpb)

Solopos.com, SEMARANG -- Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, memuji ide Wali Kota Salatiga, Yuliyanto, yang mencanangkan Gerakan Sehari Tanpa Nasi.

Menurut Ganjar, Gerakan itu mampu mengurangi ketergantungan terhadap nasi dan juga mendorong diversifikasi pangan.

“Enggak apa-apa, boleh saja. Sehari enggak pakai nasi boleh. Itu bisa mengurangi ketergantungan konsumsi nasi, sehingga ada diversifikasi pangan,” ujar Ganjar, Rabu (5/8/2020).

Menurut Ganjar, Gerakan itu layak didukung. Apalagi, menurut kesehatan nasi memang mengandung banyak gula yang berpotensi menyebabkan penyakit gula dan darah tinggi.

Hebat! Salatiga Siapkan Rp2,4 Miliar per Bulan untuk Kuota Internet Siswa

"Nasi itu kan banyak mengandung gula, padahal orang yang punya potensi gula dan darah tinggi itu, dari data yang meninggal karena Covid-19 merupakan komorbiditas berbahaya. Saya kira ada baiknya, biar orang tidak hanya bergantung pada nasi," terangnya.

Seperti diberitakan Solopos.com sebelumnya, Wali Kota Salatiga, Yuliyanto membuat surat edaran tentang Gerakan Sehari Tanpa Nasi. Dalam surat itu, ia meminta masyarakat Salatiga mengonsumsi menu/makanan pangan lokal non-beras minimal sehari dalam sebulan.

“Surat edaran itu untuk memberikan imbauan kepada masyarakat Salatiga supaya daya tahan tubuh atau imun tubuh terjaga guna melawan Covid-19,” ujar Yuliyanto, Selasa (4/8/2020).

Ganjar Pranowo: Silakan Tirakatan di Malam 17 Agustus, Tapi...

Yuliyanto menambahkan Gerakan Sehari Tanpa Nasi ini belum secara resmi diterapkan. Gerakan ini rencana baru diterapkan saat Salatiga telah memasuki zona hijau persebaran Covid-19.

Meski demikian, Yuliyanto mengimbau kepada warganya untuk menerapkan erakan tersebut guna meningkatkan daya tahan tubuh di tengah pandemi Covid-19.

Nekat! Petani di Polanharjo Klaten Tanam Sayuran di Lahan Motif Batik Terdampak Tol Solo-Jogja

Meski demikian, Gerakan Sehari Tanpa Nasi itu cukup sulit diwujudkan. Hal itu menurut Ganjar, dikarenakan karakter orang Jawa yang sejak dulu sudah terbiasa makan nasi.

"Itu problemnya, orang Jawa biasanya kalau belum makan nasi, berarti durung madhang (belum makan). Tapi itu bagus, enggak apa-apa,” ujar Ganjar.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom