Tutup Iklan
Warga berebut gunungan di acara Grebeg Mulud di halaman Masjid Agung Solo, Sabtu (9/11/2019). (Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)

Solopos.com, SOLO -- Acara Sekaten memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 2019 di Keraton Solo mencapai puncaknya pada Sabtu (9/11/2019). Hal itu ditandai Grebeg Mulud Wawu 1953 di pelataran Masjid Agung Solo.

Ribuan warga antusias menyambut dua pasang gunungan yang dikirab dari istana Kasunanan menuju Masjid Agung. Begitu tiba di halaman masjid sekitar pukul 10.45 WIB, satu pasang gunungan yang akan dibagikan kepada masyarakat lebih dulu didoakan Tafsir Anom Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Moh. Muhtarom.

Belum kelar rapalan doa rampung dikumandangkan, warga yang kadung bersemangat berebut gunungan jaler dan estri. Dua gunungan itu menyimbolkan tugas laki-laki dan perempuan dalam kehidupan.

Isu Gadis Wonogiri Korban Perkosaan Tawarkan Diri, Diduga Cuma Alibi Pelaku

Gunungan jaler (laki-laki) berisi bahan makanan mentah seperti sayuran dan palawija sebagai simbol laki-laki bertanggung jawab mencari nafkah atau bahan makanan.

Sementara gunungan estri (perempuan) berbentuk kerucut terbalik berisi makanan olahan matang, melambangkan tugas istri mengolah bahan makanan menjadi hidangan siap saji.

Dalam hitungan menit, satu pasang gunungan tandas diburu warga yang datang dari berbagai penjuru daerah. Salah satunya pasangan Sriyati, 38, dan Suyono, 40.

Fahira Diperiksa Soal Meme Anies Joker: Mana Surat Kuasa Anies Baswedan?

Keduanya antusias berebut gunungan yang sudah bertahun-tahun menjadi tradisi akulturasi budaya Jawa-Islam tersebut. Warga Sambi, Boyolali, ini semringah menunjukkan perolehan onde-onde mini, rengginang, sampai tusuk bambu.

“Bapaknya ini tadi sampai berdesak-desakan saking penuhnya. Sandalnya sempat hilang. Untung pas dicari ketemu,” ujar Sriyati.

Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang ini mengaku baru kali pertama ikut Grebeg Mulud. “Enggak tahu ini nanti mau diapakan. Paling disimpan. Katanya kan bisa banyak rezeki, sehat,” tutur dia.

Live Streaming Timnas Indonesia U-19 Vs Hong Kong

Sementara itu, satu pasang gunungan lainnya dibawa kembali ke halaman Keraton dan dibagikan kepada abdi dalem di sana.

“Gunungan ini simbol sedekah raja untuk rakyat. Sebelum dibawa ke sini, gunungan lebih dulu dimintakan restu kepada raja. Baru dibawa ke sini dengan pengawalan dari gamelan cucuk lampah dan kavaleri Keraton,” terang Sekretaris Takmir Masjid Agung Solo, Abdul Basid, saat berbincang dengan wartawan.

Menurut Basid, Grebeg Mulud digelar sebagai bagian dari peringatan hari lahir Nabi Muhammad. Grebeg ini digelar setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Islam atau bulan Mulud pada penanggalan Jawa.

Simak! Top 5 Destinasi Wisata Malam di Kota Solo

"Seluruh dunia merayakan hari lahir Nabi Muhammad yang merupakan teladan bagi umat Muslim. Di Solo diperingati dengan grebeg," ujarnya.

Sebelum digelar Grebeg Mulud, tradisi Sekaten dibuka dengan upacara Ungeling Gangsa atau pembunyian gamelan kali pertama. Setelah itu seperangkat Gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari ditabuh selama nyaris sepekan dan hanya berhenti berkumandang pada waktu salat.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten