Tutup Iklan
Pesawat Garuda Indonesia mempersiapkan keberangkatan di apron Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten Selasa (13/2/2018). (Bisnis - Felix Jody Kinarwan)

Solopos.com, JAKARTA -- Karyawan Garuda Indonesia mengancam akan melakukan mogok massal. Kali ini, mereka menyebut kondisi internal perusahaan sedang gonjang-ganjing dan tidak ingin sampai jatuh kolaps seperti Merpati Airlines.

Serikat Karyawan Garuda Indonesia (Sekarga) menilai kinerja direksi dinilai tidak optimal sehingga berdampak terhadap kondisi keuangan dan operasional yang buruk hingga hubungan industrial yang kurang kondusif. Ketua Umum Sekarga, Ahmad Irfan Nasution, meminta Kementerian http://news.solopos.com/read/20180429/496/913353/rekaman-percakapan-dengan-menteri-rini-soemarno-sofyan-basir-akan-lapor-polisi" target="_blank">BUMN dan pemegang saham untuk melakukan restrukturisasi jumlah direksi dari delapan menjadi enam orang.

Idealnya, cukup direktur utama, direktur operasi, direktur teknik, direktur keuangan, direktur personalia, dan direktur niaga. Selain itu, mengganti direksi dari kalangan profesional di bidang penerbangan dari kalangan internal perusahaan.

"Kalau dalam waktu 1 bulan dari hari ini tidak ada respons, kami akan melakukan mogok kerja, semua pilot dan semua rute. Namun, mogok bukan tujuan utama kami," kata Irfan bersama dengan puluhan karyawan yang mengadakan konferensi pers, Rabu (2/5/2018).

Irfan membeberkan lima masalah di tubuh manajemen GIAA. Pertama, kegagalan dalam penjadwalan kru pada November 2017, mengakibatkan sejumlah pembatalan dan penundaan penerbangan yang masih terjadi hingga saat ini.

Kedua, jabatan direktur kargo tidak diperlukan. Alasannya, Garuda bukan merupakan maskapai khusus kargo atau freighter airlines yang harus memiliki pesawat khusus angkut barang. Keberadaan direktur kargo sejak 2016, yang sebelumnya dipimpin pejabat setingkat wakil presiden, dianggap membebani biaya operasional tanpa diimbangi peningkatan kinerja bidang kargo.

Ketiga, pendapatan usaha yang tidak mampu mengimbangi kenaikan beban usaha dinilai menjadi tanggung jawab Direktur Marketing dan IT dalam membuat strategi penjualan produk. Apalagi terjadi penurunan penjualan harga http://news.solopos.com/read/20180417/489/910779/tiket-pesawat-mudik-lebaran-2018-jakarta-solo-mulai-diburu" target="_blank">tiket sepanjang 2017 dari 6,93 sen dolar menjadi 6,71 sen dolar atau 3,71%.

Keempat, nilai saham GIAA terus merosot tajam sejak penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) pada 2011 sebesar Rp750 menjadi Rp292 per lembar saham saat harga penutupan pada 25 April 2018.

Kelima, karyawan menyoroti direktur personalia yang banyak mengeluarkan peraturan perusahaan yang bertentangan dengan perjanjian kerja bersama (PKB) tanpa berunding dengan serikat pekerja. Dia menyebut beberapa masalah di antaranya perubahan jam kerja dan mengganti fasilitas antarjemput pilot dengan uang, yang berisiko menurunkan tingkat http://news.solopos.com/read/20180429/496/913399/indikator-masker-oksigen-di-penerbangan-jakarta-batam-ini-penjelasan-lion-air" target="_blank">keselamatan penerbangan.

Berdasarkan laporan keuangan, GIAA mengalami kerugian bersih mencapai US$213,38 juta pada 2017. Jumlah tersebut turun drastis dibandingkan dengan pencapaian 2016 yang mampu untung hingga US$9,36 juta.

Avatar
Editor:
Adib M Asfar

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten