Gerakan Donasi Sampah di Sragen Kembalikan Manfaat Sampah ke Warga
Puluhan pemuda dan pemudi memilah sampah hasil donasi dari warga di halaman warga Dukuh/Desa Sepat, Masaran, Sragen, Minggu (22/11/2020). (Solopos.com-Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Gerakan donasi sampah di Sragen, Jawa Tengah mengembalikan manfaat sampah ke warga yang turut andil berdonasi. Itulah yang terjadi saat mendung masih menggelayut di langit dan genangan air di jalan berlubang serta tegalan belum surut setelah hujan dinihari di Sragen, Minggu (22/11/2020).

Warga di Dukuh/Desa Sepat, Masaran, Sragen, Jateng beraktivitas seperti biasa. Ada yang mencuci mobil, buka warung, dan ada yang nekat menggelar biji jagung di pelataran berlantai semen. Pagi itu ada yang tak biasa dilakukan warga. Mereka menaruh botol bekas, kardus, sak, dan barang rosokan di depan rumah masing-masing.

Barang-barang itu sudah dikemas sedemikian rupa dan ditaruh di pinggir jalan depan rumah mereka. Puluhan remaja dan pemuda berkumpul di halaman rumah milik Giman di lingkungan RT 031, Dukuh/Desa Sepat. Mereka adalah anggota Karangtaruna Margahayu. Mereka sengaja berkumpul lantaran ada misi sosial.

Ini 10 Cara Fengsui Atur Taman Rumah

Ketua Karang Taruna Margahayu Sragen Sulardi memberi pengarahan atas gerakan donasi sampah. Sulardi membagi anggotanya dalam dua tim, yakni tim pemungut dan tim pemilah.

Misi sosial itu ternyata memungut sampah dan rongsokan warga yang sudah ditaruh di pinggir jalan. Kemudian dipilah sesuai jenis sampah atau barang rongsokan dan dijual ke pengepul rosok di Dukuh Sarirejo, Sepat, Masaran.

Hasil penjualan sampah itu pun dibelikan sembako dan diberikan kepada para janda tua yang sudah jompo serta keluarga miskin yang membutuhkan. Tim pemungut hanya sekitar 5-7 orang.

Jerapah Putih Terakhir Bertahan di Kenya

Mereka mengendarai mobil pikap untuk memungut sampah di enam RT, yakni mulai RT 031-RT 036. Semua sampah itu dikumpulkan di halaman rumah Giman dan dipilah oleh lebih dari 20 orang.

Sampah kardus, botol plastik, kaleng, dan rongsokan lainnya dipilah dan dikumpulkan. Selanjutnya barang-barang itu dijual ke pengepul rosok secara kiloan.

Harga Bervariasi

“Harganya bervariasi ada yang mahal dan ada yang murah. Sampah-sampah itu merupakan donasi dari warga. Hasil penjualan sampah dibelikan sembako dan diberikan ke warga. Pengambilan sampah itu sebelumnya sudah diinformasikan ke warga,” ujar Sulardi saat berbincang dengan Espos, Minggu pagi.

Benda Ini Kata Fengsui Buka Keberuntungan

Sulardi menyampaikan program atau gerakan donasi sampah di Sragen ini memang dari warga untuk warga. Kegiatan itu sudah dirintis para anggota karangtaruna itu sejak 2018. Kegiatan itu menjadi program rutin setiap  dua bulan sekali.

“Sejak 2018 sampai sekarang sudah 12 kegiatan. Uang yang terkumpul awalnya hanya Rp500.000 tetapi sekarang naik sampai Rp900.000. Kesadaran masyarakat tinggi sampai 90% dari total kepala keluarga 250-260 keluarga di enam RT,” ujarnya yang diamini Pembina Karangtaruna Margahayu Giyanto.

Sulardi sudah memiliki enam orang lanjut usia (lansia) yang rutin mendapat jatah sembako. Sulardi mengambil 50% dari pendapatan penjualan sampah untuk mereka. Sebanyak 50% lainnya, sebut dia, digunakan untuk keluarga tidak mampu lainnya.

Tesla Makin Dekat Indonesia, Apa Untungnya?

“Biasanya bisa mendapatkan 11-15 paket sembako senilai Rp70.000/paket. Awalnya program ini hanya untuk antisipasi demam berdarah karena banyak kaleng yang dibuang dikebun dan jadi genangan air. Genangan air itu sering untuk sarang nyamuk. Program ini sudah ditiru warga di Tembokrejo dan Mojoroto tetapi belum maksimal,” kata Giyanto yang juga Kasi Pelayanan Desa Sepat.

Kepala Desa Sepat Mulyono turut hadir dalam aktivitas donasi sampah itu. Ia mengapresiasi gerakan sosial Karangtaruna Margahayu. Ia berharap kegiatan di Sepat ini bisa menginspirasi 13 dukuh lainnya di wilayah Desa Sepat.

“Pemerintah Desa mendorong mereka untuk terus bergerak. Desa akan fokus pada sampah organik yang bisa diolah jadi pupuk. Kemudian sampah plastik yang tidak bisa dijual bisa dipadatkan untuk paving blok sehingga bermanfaat. Sebenarnya sudah direncanakan tetapi terkena Covid-19,” ujarnya.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom