SOLOPOS.COM - Tangkapan layar video coference Ketua MPR, Bambang Soesatyo. (Antara-Abdu Faisal)

Solopos.com, JAKARTA -- Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, menyebut orang Indonesia gemar berobat ke luar negeri. Bahkan trennya dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.

Mengutip riset Patients Beyond Borders, Bambang mengatakan pada 2006, jumlah warga negara Indonesia yang berobat ke luar negeri sebanyak 350.000 orang. Angka ini membengkak menjadi 600.000 orang pada 2015.

Promosi Kuliner Legend Sate Klathak Pak Pong Yogyakarta Kian Moncer Berkat KUR BRI

"Total pengeluaran per tahun yang dikeluarkan penduduk Indonesia untuk berobat ke luar negeri bisa mencapai USD 11,5 miliar, 80 persennya dihabiskan di Malaysia," katanya dalam keterangannya, Selasa (8/6/2021).

Dari angka tersebut, bisa disimpulkan Malaysia menjadi negara favorit orang Indonesia untuk berobat.

Ekspedisi Mudik 2024

Baca Juga: Bakal Jadi Profesor, Ini Gelar Mentereng Megawati Meski Tak Lulus Kuliah

Bamsoet, sapaan akrabnya, mengatakan warga Indonesia memilih berobat ke luar negeri karena alat kesehatannya yang sangat lengkap, biayanya yang lebih murah dan pelayanannya lebih nyaman.

Padahal menurut dia, dengan sumber daya manusia dan sumber daya rumah sakit yang dimiliki Indonesia sebetulnya bisa menjadi tuan rumah bagi warganya dalam berobat. Bahkan dia menilai, Indonesia seharusnya bisa menjadi pemain utama dalam wisata medis, menjadi tempat yang nyaman bagi warga dunia berobat.

Pada bagian lain, Bamsoet meminta pemerintah menghentikan ketergantungan impor penyediaan alat kesehatan dari negara lain. Ia menilai sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian serius kepada industri farmasi dan alat kesehatan dalam negeri.

"Langkah itu agar Indonesia bisa menjadi pemain utama dan tuan rumah di negara sendiri," kata Bamsoet.

Baca Juga: KPAI: Kematian Anak Indonesia akibat Covid-19 Tertinggi se-Asia Pasifik, PTM Harus dengan Prokes Ketat

Dia menjelaskan di tengah pandemi COVID-19, sektor industri farmasi dan alat kesehatan masuk dalam kategori high demand dan masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga kesehatan.

Karena itu menurut dia, jangan sampai geliat kepedulian masyarakat terhadap sektor kesehatan ini justru dinikmati oleh negara lain.

Anggaran Kesehatan

Dia menjelaskan, pada tahun 2021 pemerintah menyiapkan anggaran kesehatan hingga Rp300 triliun. "Menurut Gabungan Alat Kesehatan Indonesia (Gakeslab), merujuk data Kementerian Keuangan, anggaran dalam APBN 2019 untuk pengadaan alat-alat kesehatan di rumah sakit-rumah sakit pemerintah sekitar Rp9 triliun. Pada tahun 2020 meningkat menjadi Rp18 triliun karena pandemi Covid-19," ujarnya.

Dia menilai jika angka tersebut digabungkan dengan anggaran APBD, BUMN, dan swasta total belanja alat-alat kesehatan di Indonesia rerata berkisar Rp50 triliun per tahun.

Karena itu menurut dia sangat disayangkan jika anggaran pengadaan Alkes sebesar itu lebih banyak dinikmati oleh produsen Alkes luar negeri.

Baca Juga: UI Sampaikan Rekomendasi Kebijakan Terkait Strategi Pemulihan Ekonomi Nasional

Politisi Partai Golkar itu mengutip data Kementerian Perindustrian bahwa kemampuan industri farmasi di Indonesia saat ini ditopang oleh 220 perusahaan. Sebanyak 90% dari perusahaan farmasi tersebut fokus di sektor hilir dalam memproduksi obat-obatan.

"Tantangannya, pemerintah harus terus berupaya untuk menekan impor pengadaan bahan baku, khususnya di sektor hulu industri farmasi," katanya.

Bamsoet menilai, target pemerintah mengurangi impor farmasi dan alat kesehatan mencapai 35 persen pada akhir tahun 2022, harus dibarengi dengan kebijakan yang ramah terhadap industri farmasi dan alat kesehatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya