Pengrajin gitar di wilayah Dukuh Kembangan, Desa Mancasan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (20/7/2019). (Solopos/INdah Septiyaning W.)

Solopos.com, SUKOHARJO --Tumpukan gitar memenuhi halaman rumah-rumah penduduk kala memasuki wilayah kampung Kembangan, Desa Mancasan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo.

Gitar-gitar itu diletakkan berjajar tak hanya di halaman rumah, namun juga pinggir-pinggir jalanan kampung. Hampir di tiap rumah pun terlihat aktivitas warga dari mencetak potongan kayu, mengamplas hingga proses pengecetan. Seolah mereka tak mengenal hari libur, para warga tetap beraktivitas memproduksi gitar.

Seperti yang dilakukan Sumadi, 46, dibantu anaknya Fajar Santosa, 23,  pada Sabtu (20/7/2019) pagi. Mereka tengah memproduksi satu per satu gitar.  Fajar mengamplas bahan kayu tripleks dengan menggunakan alat, sedangkan Sumadi merapikan hasil cetakan yang telah membentuk gitar. lndustri kecil rumahan dalam pembuatan gitar ini merupakan warisan turun temurun yang sudah digelutinya sejak 30 tahun silam.

“Selama 30 tahun lebih sudah memproduksi gitar. Produksi gitar ini yang kita buat jenis gitar akustik," kata dia ketika berbincang dengan Solopos.

Sama halnya bisnis industri kecil lain, produksi gitar miliknya juga mengalami pasang surut. Kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya permintaan konsumen dan pemasaran. Menurutnya belum banyak pengrajin gitar di wilayah Mancasan yang melek teknologi.

Sehingga masih tak mengandalkan media sosial sebagai sarana promosi para pengrajin gitar. Meski demikian produksi gitar miliknya telah dipasarkan hingga ke wilayah luar Pulau Jawa, seperti Medan, Kalimantan, dan lainnya.

"Sebenarnya kami ingin pemasaran sampai ke luar negeri. Namun ternyata bahan baku kayu yang digunakan tidak tahan dengan cuaca di negara lain. Karena saya pernah kirim ke Arab Saudi, sampai sana barang sebagian besar rusak," keluhnya.

Dalam sepekan dia mampu menghasilkan dua hingga empat gitar. Dengan harga gitar akustik yang dibanderol dari harga Rp350.000 hingga jutaan rupiah. "Tidak mudah membuat gitar. Harus ada feeling dan nada yang dihasilkan sangat baik," katanya.

Pengrajin gitar lain, Ari Kustanto, 31, mengatakan industri gitar masih eksis hingga saat ini. Daerah Kembangan memang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra industri gitar nasional.

"Hampir 90 persen penduduk di sini adalah pengrajin gitar sehingga Kembangan dikenal sebagai sentra gitar sejak puluhan tahun lalu,” katanya.

Kerajinan ini menjadi keahlian turun temurun, sehingga tetap terjaga sampai di masa modern meski harus bersaing dengan gitar hasil pabrikasi. Dia sendiri menggeluti kerajinan gitar ini sejak masih bujang. Gitar yang dihasilkannya merupakan jenis gitar ukulele.

“Sudah dari 2007 saya produksi gitar meneruskan usaha keluarga," katanya.

Potensi Desa

Produksi gitar yang telah lama berjalan ini menjadi salah satu potensi desa setempat. Warga mengandalkan pendapatannya dari hasil industri gitar tersebut. Pemasarannya pun kini telah menembus lintas provinsi. Gitar ukulele tersebut dibanderol dari Rp50.000 hingga ratusan ribu rupiah.

Karena harga yang relatif lebih murah ini sehingga cukup banyak diminati untuk pengguna masyarakat lokal.

Sebagai salah satu potensi desa, tentunya akan lebih baik jika proses produksi gitar tersebut didukung oleh peralatan yang lebih modern agar mampu meningkatkan produktivitas. Termasuk bidang pemasaran yang masih dilakukan secara manual sehingga pangsa pasar belum merambah hingga ke luar negeri.


"Hanya beberapa pengrajin besar saja yang pangsa pasarnya ke luar negeri, karena mereka sudah memanfaatkan media sosial. Tapi masih banyak yang belum tahu bagaimana menggunakan Facebook dan lainnya," katanya.


Dia berharap ada pelatihan peningkatan sumber daya manusia (SDM) bagi para pengrajin gitar rumahan di wilayah Kembangan, Mancasan. Targetnya hasil produksi gitar Kembangan bisa lebih mendunia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten