Kategori: Boyolali

Geliat Anak Muda Boyolali Memopulerkan Kenikmatan Kopi Merbabu


Solopos.com/Nadia Lutfiana Mawarni

Solopos.com, BOYOLALI -- Posko Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) di Desa Ngagrong, Kecamatan Gladagsari, Boyolali tampak ramai Rabu (25/12/2019) malam. Belasan anak muda memadati ruangan berukuran sekitar 7 meter x 5 meter tersebut.

Anak-anak muda ini membawa semangat baru perkembangan pertanian kopi di lereng Merbabu.

Geliat bisnis kopi yang tumbuh di sejumlah kota seharusnya memantik peluang bagi masyarakat di daerah untuk mengembangkan pertanian kopi. Namun masalah klasik terkait pengolahan biji kopi masih tak kunjung terpecahkan.

Begitu pula bagi ratusan petani yang tinggal di lereng timur Gunung Merbabu di Boyolali. Kopi merbabu yang tumbuh di kawasan itu kalah tersohor dengan kopi jenis lainnya.

Padahal kopi jenis ini telah melalui uji cita rasa di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (LP Puslitkoka) Jember, Jawa Timur.

Pengujian itu pernah dilakukan Seto Nur Kismoyo, seorang barista Jogja sekaligus praktisi kebun kopi yang mengembangkan produk kopi merbabu sejak 2015 lalu.

Warga Desa Ngagrong, Gladagsari, Boyolali, belajar meracik kopi Merbabu di Posko Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) Ngagrong, Rabu (25/12/2019) malam. (Istimewa-Dok. Bayawis Kopi)

Hasil uji laboratorium menunjukkan kopi merbabu memiliki nilai 86 atau berpredikat excellent dalam cita rasa. Indikator penilaian di antaranya meliputi aroma, rasa, dan kadar keasaman.

“Beberapa kafe di Jogja dan Soloraya sudah menggunakan kopi merbabu sebagai single origin (kopi original) yang dijual kepada pelanggan, ini jadi bukti kalau kopi dari Merbabu juga tak kalah,” ujar Seto dalam pelatihan yang juga disponsori oleh PT Astra Motor tersebut.

Kopi merbabu berjenis arabica yang tumbuh pada lahan di atas 1.000 meter. Dibanding jenis robusta, kopi arabica memiliki rasa dan aroma lebih kuat serta variatif. Rasa dan aroma itu membuat kopi merbabu menjadi favorit dinikmati secara original.

Hanya saja yang tak pernah disadari para petani, tanaman di sekitar kopi turut memengaruhi cita rasa yang dihasilkan. Untuk itu, Seto menekankan cara perawatan tanaman mulai dari pemilihan lokasi hingga pascapanen.

Cara pemetikan biji kopi yang baik, imbuh Seto, dilakukan ketika biji kopi sudah berwarna merah. Proses petik merah itu berpengaruh pada kualitas biji kopi pada tahapan selanjutnya yakni penjemuran.

Penjemuran pun tak bisa dilakukan sembarangan. Biji kopi dijemur pada jaring bambu untuk menghindari kontak langsung dengan tanah yang bakal berpengaruh pada aroma yang dihasilkan.

Selain itu para petani juga masih harus melewati proses mengupas kulit ari pada biji kopi dan pencucian.

Sementara itu penggagas Kedai Bayawis Kopi Cepogo, Luqman Taufiq, menyebut selama ini panen kopi merbabu lebih banyak mengandalkan hasil perkebunan milik Balai Pertanian Provinsi Jawa Tengah di Dukuh Pantaran, Desa Candisari, Kecamatan Gladagsari.

Padahal kondisi riilnya banyak petani memiliki pohon kopi di lahan pertanian pribadi mereka meski hanya pada kisaran 3-10 pohon. “Hanya saja perawatan belum dimaksimalkan karena belum mengetahui nilai jual kopi,” kata Luqman.

Lewat Bayawis Kopi, Luqman bisa menjual kopi merbabu denagn harga Rp45.000 untuk kemasan 100 gram dan Rp85.000 kemasan 200 gram.

Bisnis kopi menjadi makin menggiurkan mengingat ada sedikitnya 2.500 kedai kopi tersebar di wilayah Jogja, Solo, dan Semarang. Tiga kota besar yang dinilai relatif terjangkau dari Boyolali.

Baca juga: Pohon Tumbang Timpa 2 Rumah di Boyolali

Kopi juga diharapkan mampu menambah daya tarik wisata lereng Merbabu, melengkapi objek wisata yang sudah ada terutama di kawasan Air Terjun Semuncar. “Pelatihan awal ini diharapkan mampu membentuk satu komunitas petani kopi lokal,” imbuh dia.

Share
Dipublikasikan oleh
Rohmah Ermawati