Tutup Iklan
Macan tutul Gunung Lawu yang meresahkan warga Jatiyoso, Karanganyar. (Solopos-Sri Sumi Handayani)

Solopos.com, KARANGANYAR -- Warga Dusun Semenjing, Desa Salam, Kecamatan Karangpandan, Karanganyar, geger gara-gara informasi ada-tutul-di-solo-zoo-diminta-segera-dikembalikan-ke-gunung-lawu" title="Macan Tutul di Solo Zoo Diminta segera Dikembalikan ke Gunung Lawu"> macan tutul berkeliaran di lahan kosong bekas perkampungan.

Mereka menemukan jejak binatang di lahan tersebut. Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah (Jateng) mengecek informasi itu pada Senin (8/4/2019) sore.

Mereka mengukur jejak binatang yang dimaksud warga. Kepala Desa Salam, Sutardi, membenarkan informasi yang beredar di kalangan warga tentang kemunculan macan.

"Minggu [7/4/2019] malam ada kondangan di rumah warga. Di situ saya dengar orang-orang ngobrol tentang macan. Kata mereka ada warga yang tahu dan melihat, namanya Mbok Warni [Suwarni]. Katanya -habitat-baru-macan-lawu-bksda-tetapkan-syarat-ini" title="Carikan Habitat Baru Macan Lawu, BKSDA Tetapkan Syarat Ini">macan itu berkeliaran di tanah kosong, bukit bekas permukiman. Ada yang melihat naik ke situ [bukit kosong] malam," kata Sutardi saat berbincang dengan wartawan di Balai Desa Salam, Selasa (9/4/2019).

Informasi itu pun menyebar dari mulut ke mulut. Menurut dia, warga sekitar resah. Mereka khawatir bertemu macan saat ke sawah malam hari. Sutardi menceritakan dahulu ada tujuh rumah di bukit itu.

Lama kelamaan bukit itu ditinggalkan penghuninya. Bangunan di bukit itu hancur. Tersisa satu bangunan yang sudah tidak utuh. Bangunan itu milik Suwarni. Menurut perangkat desa, bangunan itu untuk menyimpan kayu bakar dan pupuk.

"Dulu ada beberapa rumah di situ lalu ditinggalkan karena aksesnya susah. Bukit itu dengan wilayah lain terpisah sungai. Kondisinya tebing banyak pohon dan bambu lebat. Kami berencana membangun jembatan untuk menghubungkan Dukuh Salam, Dusun Semenjing, Dukuh Cempo di Desa Salam, Kecamatan Karangpandan, dengan Dukuh Kasihan, Desa Puntukrejo, Kecamatan Ngargoyoso," ungkap dia.

Dia mengaku pada Senin sore mendatangi lokasi bersama anggota Polsek Karangpandan, Koramil Karangpandan, dan BKSDA Jateng. Tim dari BKSDA Jateng meneliti bekas telapak kaki binatang. Sutardi mendengar tim menemukan semak diduga sarang binatang, kubangan, dan lain-lain.

"Selasa sore [BKSDA Jateng] pasang kamera untuk mengecek itu macan atau bukan. Kami mencari kepastian supaya warga tidak resah. Dugaan awal itu ,%20Warga Pergoki 2 Macan Lawu Serang Kambing di Jatiyoso" title="-warga-pergoki-2-macan-lawu-serang-kambing-di-jatiyoso">macan. Alasannya bekas jejak binatang itu tidak ada kuku. Macan akan menyembunyikan kuku saat jalan, berbeda dengan binatang lain," ungkap dia.

Sementara itu Kepala Resor Konservasi Wilayah Karanganyar BKSDA Jateng, Sumiyarno, membenarkan telah datang ke lokasi dan mengecek jejak binatang. Hasil pengecekan jejak binatang adalah lebar kanan kiri 25 sentimeter (cm), jarak atau panjang kaki depan dan belakang 60 cm, silang kaki kanan depan dan kaki kiri belakang 70 cm, jarak atau lebar kaki depan kanan dengan kiri 25 cm, jarak atau lebar kaki belakang kanan dengan kiri 30 cm.

"Iya betul [hasil pengukuran jejak binatang di lokasi]. Tetapi maaf njih ini masih dalam proses indentifikasi. Jadi belum bisa menyimpulkan [apakah macan atau binatang lain]," tutur Sumiyarno saat dihubungi Solopos.com, Selasa.

Sumiyarno membantu Solopos.com membayangkan binatang mengacu hasil pengukuran tersebut. Dia menyebut ukuran binatang itu menyerupai domba dewasa.

Lebih lanjut, saat ditanya penemuan sarang di sekitar lokasi penemuan jejak binatang, dia membenarkan tim menemukan sarang. "Maksudnya sarang memang ada tapi belum bisa memastikan sarang apa. Tapi berdasarkan informasi warga dulu sarang landak. Hla wong lokasinya dikepung perkampungan," ungkap dia saat ditanya apakah memungkinkan ada binatang buas di lokasi itu.

Sumiyarno menyampaikan BKSDA Jateng akan memasang kamera di tiga lokasi di bukit itu. Tiga lokasi itu di jalan menuju sumber air dan sekitar jejak binatang.

"Kami pasang kamera. Rencananya ada tiga titik. Kami pasang yang diperkirakan jalur terutama menuju sumber air dan tempat yang ada jejaknya. Kalau soal itu jejak apa, belum bisa memastikan. Nanti yang paling akurat dari hasil camera trap," ungkap dia.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten