Gegara Rawan Ambruk, Orang Tua Pindahkan Anak dari Sekolah di Sragen Ini
Kondisi bangunan fisik MIM Jambangan, Mondokan, Sragen, yang sudah rusak karena dimakan usia, Selasa (1/9/2020). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Sebuah sekolah swasta di Sragen rawan ambruk sehingga kehilangan siswa baru pada tahun ajaran baru 2020-2021. Sekolah itu adalah Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Jambangan, Kecamatan Mondokan, Sragen.

Hal itu karena bangunan sekolah tersebut rawan ambruk. Sebetulnya, sekolah di Sragen itu mendapat 13 siswa baru di bangku Kelas I.

Akan tetapi, sembilan siswa di antaranya memilih mencabut berkas pendaftaran dan pindah ke sekolah lain karena khawatir mandrasah itu ambruk.

6 Parpol Nonparlemen Pastikan Dukung Joswi Maju Pilkada Sukoharjo 2020

Pantauan Solopos.com di lokasi, Selasa (1/9/2020), atap madrasah yang berada di perbatasan Sragen-Grobogan itu terlihat keropos dari luar. Sejumlah genting sudah hilang dari tempatnya.

Sejumlah usuk dan reng juga sudah patah karena lapuk dimakan usia. Plafon yang berada di langit-langit ruang kelas sudah jebol di sejumlah lokasi. Permukaan lantai dan dinding bangunan sekolah rawan ambruk itu pun retak-retak.

“Kondisi fisik bangunan madrasah ini memang sudah rusak. Dindingnya retak-retak, bahkan cenderung terpisah di bagian sudut. Seorang petugas yang mau memasang jaringan internet, hampir terjatuh karena bagian usuk yang dijadikan pijakan patah,” jelas Kepala MIM Jambangan, Slamet Lestari, saat ditemui wartawan di lokasi.

Positif Covid-19 Tambah 30 Orang, Duwet Klaten Terapkan Lockdown Desa

Jumlah Siswa Terus Berkurang

Karena kondisi madrasah yang sudah lapuk dimakan usia, jumlah siswa yang berminat menuntut ilmu di sekolah rawan ambruk ini berkurang dalam lima tahun terakhir.

Saat ini, MIM Jambangan hanya memiliki 31 siswa yang terbagi empat siswa Kelas I, 13 siswa Kelas II, enam siswa Kelas III, lima siswa Kelas IV, dan tiga siswa Kelas VI. Khusus Kelas V tidak ada karena saat pendaftaran tidak ada siswa sama sekali.

“Kondisi madrasah yang rusak ini sudah lima tahun terakhir. Sejak dibangun pada 1985, madrasah ini belum tersentuh renovasi. Terakhir renovasi dilakukan untuk ruang kantor. Lainnya paling hanya dicat ulang dindingnya,” kata Slamet Lestari.

Tak Cuma Novel Baswedan, Istri dan 4 Anaknya Juga Positif Covid-19

Menurut dia, masalah utama sekolah di Sragen itu adalah kondisi bangunan. “Pada tahun ajaran 2020/2021, kami menerima 13 siswa baru di Kelas I. Namun, sembilan orang tua akhirnya memindahkan anaknya ke sekolah lain karena khawatir madrasah ini ambruk. Mereka takut anaknya jadi korban saat atap ambruk,” imbuh dia.

Saat ini pengelola sekolah rawan ambruk itu terus menjalin kerja sama dengan Lazismu Sragen untuk menghimpun dana dari para donatur.

Terkini baru ada beberapa donatur yang berniat menyumbangkan dana untuk merenovasi bangunan madrasah itu. Dia mengakui semua bangunan MIM Jambangan harus direnovasi secara total mengingat tingkat kerusakannya cukup parah.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom