Gaya Hidup Pengaruhi Program Kehamilan
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Rumah Sakit JIH Solo, dr Osa Kautsar Heridho Sp Og,M.Kes. (Istimewa)

Solopos.com, SOLO — Kesuburan atau infertilitas sangat memengaruhi pasangan suami istri khususnya yang muda pada program kehamilan. Ada sejumlah faktor yang menentukan infertilitas pasangan ini, yakni usia, berat badan, frekuensi hubungan suami istri, dan gaya hidup.

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Rumah Sakit JIH Solo, dr Osa Kautsar Heridho Sp Og,M.Kes mengatakan ada beberapa faktor yang memengaruhi kesuburan pasangan.

“Terutama gaya hidup yang banyak berdampak pada infertilitas. Misalnya, dari sisi suami dia perokok, konsumsi alkohol, kurang olahraga,” ujar dia, Rabu (16/9/2020).

Amankah Bersihkan Tangan Anak Pakai Hand Sanitizer?

Dokter Osa menjelaskan faktor usia produktif untuk perempuan dan laki-laki berbeda. Pada perempuan usia patokan produksi sel telur produktif itu 20-35 tahun. Menurut dia, pada perempuan produksi sel telur terbatas. Sedangkan pada laki-laki, produksi sperma sampai tua. Adanya gangguan tertentu biasanya karena gaya hidup seperti, merokok, minum alkohol, dan kurang olahraga.

Soal Kesuburan

Lantas, kapan tepatnya pasangan suami istri harus periksa kesuburan mereka? Misalnya, suami istri menikah selama kurang lebih setahun, berhubungan rutin sekitar sepekan 2-3 kali, tidak pakai kontrasepsi. Tapi dalam waktu 1 tahun tidak terjadi kehamilan, maka sebaiknya periksa lebih lanjut.

Nahdlatul Ulama Desak Pilkada 2020 Ditunda

Akan tetapi, bisa juga lantaran kondisi tertentu. Misalnya, si istri usianya di atas 35 tahun, siklus haid tidak teratur, ada keluhan nyeri haid, ini bisa jadi ada kista yang menyebabkan gangguan kehamilan.

Selain usia, faktor berat badan juga memengaruhi kesuburan dan kehamilan. Berat badan ini diukur dari body mass index. Jika istri tergolong overweight atau obesitas, pasti berdampak pada kematangan sel telur. Sementara pada sperma suami bisa terjadi gangguan seksual seperti impotensi dan sebagainya.

“Perbaiki pula gaya hidup, seperti olahraga rutin, aerobik, jogging, renang, bersepeda, dan perubahan pola makan. Yakni pengaturan makan rendah gula dan rendah lemak. Jika target penurunan BB sukses, nanti siklus haid teratur untuk istri dan laki laki lebih bugar sehingga sperma kualitasnya oke, biar cepat terjadi pembuahan,” paparnya.

Ganjar Pranowo Dukung Usulan Pilkada 2020 Ditunda, Ini Alasannya

Dokter Osa menggarisbawahi ada beberapa penyebab kesuburan. Jika pada perempuan penyebabnya, yakni 40% karena fungsi sel indung telur atau ovarium, 40% dari tuba, 10% faktor yang tidak diketahui, dan 10% masalah lainnya. Sedangkan pada sperma laki-laki harus dilakukan analisis pemeriksaan laboratorium. Parameternya adalah baik dari jumlah sperma, motilitasnya, dan sebagainya.

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom